Amateur Trader, Mental Psychology, Money Management, Trading System, Fundamental & Teknikal Analisis, Return and Risk Opportunity
Chart Live
Showing posts with label Forex. Show all posts
Showing posts with label Forex. Show all posts
Psikologi Trading
Artikel ini mengulas tentang seberapa jauh peran psikologi dalam trading forex. Apakah psikologi menjadi faktor utama dalam keberhasilan trading? Ada pendapat yang mengatakan bahwa faktor psikologi kurang berperan, yang menentukan kesuksesan dalam trading adalah sinyal trading. Sementara yang lain mengatakan bahwa faktor psikologi berperan 80% hingga 90%. Namun dari survey yang pernah dilakukan, psikologi dalam trading sangat menentukan kesuksesan seorang trader.

Martingale / Piramiding
Banyak orang yang melihat strategi martingale adalah bom waktu. Benarkah cara ini efektif untuk digunakan dalam trading forex? Dan benarkah seperti bom waktu yang kadang-kadang bisa merugikan si trader? Artikel kali ini akan mengulas Teori Martingale sampai Anda bisa memahami penggunaan beserta risiko yang terjadi bila memakai strategi martingale.

Martingale merupakan salah satu cara trading forex yang sering digunakan oleh kalangan trader. Sejarahnya, Teknik Martingale ditemukan pertama kali di Perancis pada awal abad 18 dimana teknik ini digunakan para penjudi agar dapat menang taruhan. Martingale sangat dikenal di dunia trading karena sebagian orang masih beranggapan bahwa trading adalah sejenis judi.
Martingale sebenarnya bukanlah rumus "sakti" yang dapat membuat seseorang konsisten menang taruhan, tetapi hanyalah sekedar cara pengelolaan modal (money management). Martingale adalah sebuah teori manajemen probabilitas yang memungkinkan kesamaan nilai sesuatu di masa tertentu dengan masa sebelumnya, menggunakan prinsip penggandaan.
Dalam forex trading, Strategi Martingale adalah strategi untuk mendapatkan profit sekaligus menutup total kerugian dari transaksi sebelumnya melalui penggandaan modal. Oleh karena itu, ketika menggunakan strategi martingale, resiko pada transaksi berikutnya selalu meningkat seiring dengan meningkatnya kerugian. Aturan main strategi martingale ini adalah ketika Anda melakukan transaksi sekian lot dan bila hasilnya rugi, maka pada transaksi selanjutnya menggunakan lot 2 kali lipatnya. Sehingga ketika transaksi terakhir profit, maka keuntungannya sudah bisa menutupi semua kerugian dari transaksi-transaksi sebelumnya.
Teknik yang digunakan sangatlah sederhana, ilustrasinya :
- Pertama, pasang 1 lot dan kalah
- Kedua, pasang 2 lot (2 kali lipat sebelumnya) dan kalah
- Ketiga, pasang 4 lot dan kalah
- Keempat, pasang 8 lot akhirnya menang
Ilustrasi ini bisa dilihat pada contoh di bawah ini :
BUY lot 1 = - $10 (loss)
BUY Lot 2 = - $20 (loss)
BUY Lot 3 = - $40 (loss)
BUY Lot 4 = + $80 (Profit)
----------------------------------- +
Profit = + $10
Dengan menggunakan prinsip tersebut, jumlah lot harus 2 kali lipat dari sebelumnya (agar jumlah lot selalu 1 langkah di depan kekalahan sebelumnya sehingga kalau menang maka kekalahan sebelumnya tertutup dan juga mendapatkan laba). Dilihat secara teori, teknik Martingale ini pasti akan menang. Namun, problem Martingale terletak pada pertanyaan "kapan menangnya?"
Apakah Anda akan menang di langkah ke-5, ke-10, atau ke-1000? Oleh karena itu ketika Anda akan menggunakan strategi martingale, maka harus menghitung ketahanan modal sampai transaksi ke berapa. Dengan demikian, Anda bisa lebih mengusahakan kemenangan sebelum transaksi yang terakhir dibuat.
Dalam catatan kali ini kita mencoba sebuah strategi lainnya. Strategi ini di namakan Strategi Pyramid. Dalam Strategi ini, adalah tujuannya untuk melipat gandakan profit. Cara kerjanya mirip dengan strategi Anti Martingale, yaitu menambah posisi ketika posisi sebelumnya sedang profit dengan alasan dan harapan bahwa market akan terus bergerak sesuai dengan prediksi kita.
Keuntungan menggunakan strategi ini adalah bahwa dalam satu periode yang terdiri dari beberapa transaksi bisa menghasilkan profit lebih banyak Mungkin dalam kehidupan nyata ini disebut ”Aji Mumpung”. Karena begitu kondisi menguntungkan, kita lakukan transaksi sebanyak banyaknya seolah kesempatannya hanya datang 1 kali.
Kelemahannya adalah hanya ketika market balik arah atau terjadi reversal, posisi yang terakhir dibuka menjadi rugi, sehingga mengurangi total profit yang didapat.
Perbedaan antara strategi pyramiding dengan strategi anti martingale hanyalah masalah modal yang digunakan. Pada strategi pyramiding modal yang digunakan untuk setiap transaksi besarnya sama. Sehingga besarnya resiko akibat pembukaan posisi baru sama dengan resiko posisi sebelumnya.
Penggunaan Strategi Pyramid
Contoh :
Saat ini GBP/USD bernilai 1.5600 . Saya memprediksi harga akan naik, oleh karena itu saya membuka posisi Buy di level itu 1.5600 sebesar 1 lot.
Setelah 1 jam ternyata market bergerak naik ke level 1.5625. Alih-alih saya menutup posisi, saya melakukan analisa. Dan hasilnya saya memprediksi bahwa akan terjadi trend bullish yang panjang.
Oleh karena itu, karena saat ini seang profit dan kondisinya bagus, maka saya tidak boleh menyi-nyikan kesempatan ini dengan membuka posisi Buy baru di level 1.5625 sebesar 0.1 lot, kemudian setelah naik lagi saya membuka posisi buy baru lagi di level 1.5650. Dengan demikian saat ini saya memiliki 3 buah posisi Buy.
Setelah beberapa saat, kini harga berada dilevel 1.5700, artinya ketiga posisi buy saya profit .lalu saya mnutup ketiga posisi tersebut karena saya memprediksi harga akan balik arah.
Dari transaksi di atas profit yang didapatkan adalah :
Posisi buy pertama profit sebesar 100 point atau sebesar $100
Posisi buy kedua profit sebesar 75 point atau sebesar $75
Dan posisi ketiga profit sebesar 50 point atau sebesar $50
Sehingga total profit adalah $225
Coba bayangkan seandainya tidak melakukan strategi ini, mungkin hanya profit sebesar $100 saja.
Kunci sukses yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi ini, yaitu:
1. Sebelum melakukan pyramiding anda harus memastikan bahwa beberapa saat kedepan akan terjadi trend panjang
2. Segera tutup posisi ketika memprediksi harga akan balik arah.
Sumber:
http://siembah.com
Ame Suzako
Hedging Strategi
Hedging didefinisikan sebagai trading
dengan dua atau lebih posisi pada saat yang sama, di mana tujuannya
adalah untuk mengimbangi kerugian di posisi pertama oleh keuntungan yang
diterima dari posisi lainnya. Hedging biasanya dilakukan dengan cara
membuka posisi untuk mata uang A, kemudian membuka kebalikannya untuk
posisi mata uang yang sama (A). Hedging melindungi trader dari
mendapatkan margin call. Posisi kedua akan dimanfaatkan jika posisi
pertama sedang floating, begitu juga dengan sebaliknya.

Namun trader mengembangkan teknik hedging lebih banyak untuk mencoba memanfaatkan perlindungan nilai dalam bentuk keuntungan, bukan hanya untuk mengimbangi kerugian. Pada halaman ini kita akan membahas salah satu teknik hedging, yaitu:

Namun trader mengembangkan teknik hedging lebih banyak untuk mencoba memanfaatkan perlindungan nilai dalam bentuk keuntungan, bukan hanya untuk mengimbangi kerugian. Pada halaman ini kita akan membahas salah satu teknik hedging, yaitu:
100% HedgingTeknik ini
paling aman dari yang pernah ada, serta yang paling menguntungkan dari
semua teknik hedging lainnya sementara dia menjaga agar risiko tetap
minimum. Teknik ini menggunakan arbitrase suku bunga (tingkat roll over)
antara para broker. Dalam hedging tipe ini kita akan memerlukan bantuan
dua orang broker.
Salah satu broker bertugas untuk membayar biaya atau bunga pada akhir hari, sedangkan yang lainnya tidak boleh mengatur atau membayar bunga. Namun, dalam kasus demikian trader sendirilah yang bertanggung jawab dalam meningkatkan profitnya. Dengan kata lain kita harus bisa memanfaatkan secara maksimal hedging jenis ini.
Gagasan utama tentang jenis hedging adalah untuk membuka posisi mata uang X pada broker yang akan membayar dengan bunga tinggi untuk setiap posisi yang dilakukan, dan untuk membuka kebalikan dari posisi untuk mata uang X yang sama dengan broker yang tidak membebankan bunga untuk melakukan trading. Dengan cara ini kita akan mendapatkan bunga atau rollover yang dikreditkan ke akun. Namun ada banyak faktor yang kita harus mempertimbangkan yaitu:
1. Mata uang yang digunakanPair terbaik untuk digunakan adalah GBP/JPY, karena pada saat menulis artikel ini, bunga yang dikreditkan ke akun akan menjadi $24 untuk setiap 1 lot. Namun kita harus memeriksa pada broker karena masing-masing broker memiliki jumlah kredit yang berbeda.
2. Broker bebas bunga Ini adalah bagian tersulit. Sebelum membuka rekening dengan broker tersebut, kita harus memeriksa apakah broker membolehkan membuka posisi untuk waktu yang tidak terbatas?
Dan apakah broker tersebut menarik biaya komisi? Sebab beberapa broker memberi biaya sebesar $5 setiap malam untuk setiap lot yang diadakan. Ini adalah hal yang baik, meskipun tampaknya tidak. Ketika broker kita menarik biaya komisi, ada indikasi bahwa dia akan mengijinkan kita untuk membuka posisi dengan waktu yang tak terbatas.
3. Ekuitas akun Hedging membutuhkan banyak uang. Misalnya, jika kita ingin menggunakan GBP/JPY, kita akan membutuhkan $20.000 di akun masing-masing. Hal ini sangat diperlukan karena rentang maksimal bulanan untuk GBP/JPY dalam beberapa tahun terakhir adalah 2000 pips.
Kita tidak ingin salah satu dari rekening kita mendapatkan margin call, bukan? Oleh karena itu, jangan lupa bahwa ketika membuka 2 posisi di 2 broker, kita akan membayar spread sekitar 16 pips secara bersama-sama.
Jika menggunakan 1 lot regular, maka ini adalah sekitar $145 . Jadi akan kehilangan $145 di awal. Jadi, kita memerlukan 6 hari pertama hanya untuk menutupi biaya spread. Jika terkena margin call, kita akan perlu untuk menutup posisi yang lain, mentransfer uang ke rekening yang lain, kemudian membuka posisi kembali. Setiap kali hal ini terjadi, kita akan kehilangan $145. Sangat penting untuk tidak mendapatkan margin call sehingga kita dapat mempertahankan ekuitas atau cara yang cepat untuk mentransfer uang antara broker.
4. Manajemen UangSalah satu cara terbaik untuk mengelola akun adalah menarik keuntungan bulanan dan menyeimbangkan posisi. Hal ini dapat dilakukan dengan menarik kelebihan dari satu akun, mengambil keuntungan, dan menyetorkan kelebihannya ke rekening yang kalah untuk menyeimbangkan mereka.
Namun, hal ini bisa menjadi sulit. Terutama jika broker tak memperbolehkan posisi masih terbuka. Salah satu cara yang efisien untuk melakukan hal ini dengan menggunakan penarikan layanan broker yang disediakan oleh perusahaan pihak ketiga.
Sumber:
earnforex.com
Salah satu broker bertugas untuk membayar biaya atau bunga pada akhir hari, sedangkan yang lainnya tidak boleh mengatur atau membayar bunga. Namun, dalam kasus demikian trader sendirilah yang bertanggung jawab dalam meningkatkan profitnya. Dengan kata lain kita harus bisa memanfaatkan secara maksimal hedging jenis ini.
Gagasan utama tentang jenis hedging adalah untuk membuka posisi mata uang X pada broker yang akan membayar dengan bunga tinggi untuk setiap posisi yang dilakukan, dan untuk membuka kebalikan dari posisi untuk mata uang X yang sama dengan broker yang tidak membebankan bunga untuk melakukan trading. Dengan cara ini kita akan mendapatkan bunga atau rollover yang dikreditkan ke akun. Namun ada banyak faktor yang kita harus mempertimbangkan yaitu:
1. Mata uang yang digunakanPair terbaik untuk digunakan adalah GBP/JPY, karena pada saat menulis artikel ini, bunga yang dikreditkan ke akun akan menjadi $24 untuk setiap 1 lot. Namun kita harus memeriksa pada broker karena masing-masing broker memiliki jumlah kredit yang berbeda.
2. Broker bebas bunga Ini adalah bagian tersulit. Sebelum membuka rekening dengan broker tersebut, kita harus memeriksa apakah broker membolehkan membuka posisi untuk waktu yang tidak terbatas?
Dan apakah broker tersebut menarik biaya komisi? Sebab beberapa broker memberi biaya sebesar $5 setiap malam untuk setiap lot yang diadakan. Ini adalah hal yang baik, meskipun tampaknya tidak. Ketika broker kita menarik biaya komisi, ada indikasi bahwa dia akan mengijinkan kita untuk membuka posisi dengan waktu yang tak terbatas.
3. Ekuitas akun Hedging membutuhkan banyak uang. Misalnya, jika kita ingin menggunakan GBP/JPY, kita akan membutuhkan $20.000 di akun masing-masing. Hal ini sangat diperlukan karena rentang maksimal bulanan untuk GBP/JPY dalam beberapa tahun terakhir adalah 2000 pips.
Kita tidak ingin salah satu dari rekening kita mendapatkan margin call, bukan? Oleh karena itu, jangan lupa bahwa ketika membuka 2 posisi di 2 broker, kita akan membayar spread sekitar 16 pips secara bersama-sama.
Jika menggunakan 1 lot regular, maka ini adalah sekitar $145 . Jadi akan kehilangan $145 di awal. Jadi, kita memerlukan 6 hari pertama hanya untuk menutupi biaya spread. Jika terkena margin call, kita akan perlu untuk menutup posisi yang lain, mentransfer uang ke rekening yang lain, kemudian membuka posisi kembali. Setiap kali hal ini terjadi, kita akan kehilangan $145. Sangat penting untuk tidak mendapatkan margin call sehingga kita dapat mempertahankan ekuitas atau cara yang cepat untuk mentransfer uang antara broker.
4. Manajemen UangSalah satu cara terbaik untuk mengelola akun adalah menarik keuntungan bulanan dan menyeimbangkan posisi. Hal ini dapat dilakukan dengan menarik kelebihan dari satu akun, mengambil keuntungan, dan menyetorkan kelebihannya ke rekening yang kalah untuk menyeimbangkan mereka.
Namun, hal ini bisa menjadi sulit. Terutama jika broker tak memperbolehkan posisi masih terbuka. Salah satu cara yang efisien untuk melakukan hal ini dengan menggunakan penarikan layanan broker yang disediakan oleh perusahaan pihak ketiga.
Sumber:
earnforex.com
Ame Suzako
Bertrading Forex pada dasarnya adalah menukarkan risiko kita dengan
kesempatan memperoleh keuntungan. Maksudnya, ketika kita bertrading
dengan real account nanti, kita akan mendapati bahwa menangani resiko
selama bertrading itu adalah hal yang mutlak diperlukan. Tanpa itu,
jangan harap kita bisa memperoleh keuntungan secara maksimal.

Suatu pengetahuan yang kita dapat atau kita miliki harus bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain yang ada di sekitar kita. Untuk memulai tahap dimana suatu hal yang pada awalnya tidak kita fahami adalah dengan cara belajar dan menggali pengetahuan tersebut sampai kita memahaminya. Tergantung seberapa rajin kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Seorang trader harus memahami setidaknya dasar tentang trading plan, psikologi trading, dan terutama money management. Ada suatu kasus dimana seseorang bertrading dengan hanya menuruti emosinya saja, padahal sebenarnya analisisnya sudah tepat, tetapi karena tidak memperhitungkan ketahanan dana yang dia punya, akhirnya amblas seketika. Uang yang dia kumpulkan dengan susah payah, berjuta-juta liter keringat yang keluar, kesabaran karena didengki oleh teman sekerja, bertahan dari ancaman-ancaman yang menghujat, pokoknya dengan segala bentuk pengorbanannya, akhirnya amblas bagai di meja judi karena keserakahan dan kebodohan. Sehingga timbul keraguan dalam hatinya apakah trading forex cocok untuknya?
Jika Money Management kita bagus dan kita disiplin mematuhinya, maka peluang kita untuk keluar sebagai pemenang akan jauh lebih besar. Trading System tanpa Money Management sama dengan bohong atau bisa disebut sebagai spekulasi dan judi. Mengetahui kapan saat yang tepat untuk masuk (entry) market, kapan harus exit, adalah sebagian keahlian yang perlu dimiliki oleh seorang trader.
Money Management penting untuk mengontrol kondisi finansial agar tetap "survive" pada waktu mendapat ancaman dan mampu meraih kesuksesan saat mendapat peluang. Money Management mutlak diterapkan dalam setiap transaksi karena dapat dijadikan sebagai faktor penentu. Tanpa money management, mungkin kita akan mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek, namun tidak dalam jangka panjang.
Bila kita memiliki Money Management yang baik, walaupun kita Loss 4-6 kali berturut-turut, kita masih tetap bisa eksis dan dapat membalaskan kembali kekalahan tersebut hanya dengan 2 atau 3 kemenangan. Sekali lagi, Money Management tidak hanya akan melindungi kita, tetapi juga akan memberi profit mantap dalam jangka panjang. Berikut ini Money Management yang bisa dijadikan dasar dalam menjalankan trading di pasar Forex. Secara umum Money Management berisi sebagai berikut :
1. Penetapan besarnya toleransi kerugian kita.
2. Penetapan jumlah maksimum transaksi yang bisa kita lakukan.
3. Pertimbangan-pertimbangan yang kita lakukan untuk mengambil sejumlah resiko.
Tetaplah disiplin dan fokus dalam mengikuti peraturan Money Management yang telah kitabuat sendiri. Ingat, manfaat Money Management adalah untuk melindungi uang kita. Dalam jangka panjang, Money Management-lah yang akan membantu kita melipatgandakan uang di pasar Forex. Selamat berjuang dan semoga pembelajaran ini bermanfaat bagi kita semua.
Sumber:
http://trading-report.blogspot.com
Ame Suzako

Suatu pengetahuan yang kita dapat atau kita miliki harus bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain yang ada di sekitar kita. Untuk memulai tahap dimana suatu hal yang pada awalnya tidak kita fahami adalah dengan cara belajar dan menggali pengetahuan tersebut sampai kita memahaminya. Tergantung seberapa rajin kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Seorang trader harus memahami setidaknya dasar tentang trading plan, psikologi trading, dan terutama money management. Ada suatu kasus dimana seseorang bertrading dengan hanya menuruti emosinya saja, padahal sebenarnya analisisnya sudah tepat, tetapi karena tidak memperhitungkan ketahanan dana yang dia punya, akhirnya amblas seketika. Uang yang dia kumpulkan dengan susah payah, berjuta-juta liter keringat yang keluar, kesabaran karena didengki oleh teman sekerja, bertahan dari ancaman-ancaman yang menghujat, pokoknya dengan segala bentuk pengorbanannya, akhirnya amblas bagai di meja judi karena keserakahan dan kebodohan. Sehingga timbul keraguan dalam hatinya apakah trading forex cocok untuknya?
Jika Money Management kita bagus dan kita disiplin mematuhinya, maka peluang kita untuk keluar sebagai pemenang akan jauh lebih besar. Trading System tanpa Money Management sama dengan bohong atau bisa disebut sebagai spekulasi dan judi. Mengetahui kapan saat yang tepat untuk masuk (entry) market, kapan harus exit, adalah sebagian keahlian yang perlu dimiliki oleh seorang trader.
Money Management penting untuk mengontrol kondisi finansial agar tetap "survive" pada waktu mendapat ancaman dan mampu meraih kesuksesan saat mendapat peluang. Money Management mutlak diterapkan dalam setiap transaksi karena dapat dijadikan sebagai faktor penentu. Tanpa money management, mungkin kita akan mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek, namun tidak dalam jangka panjang.
Bila kita memiliki Money Management yang baik, walaupun kita Loss 4-6 kali berturut-turut, kita masih tetap bisa eksis dan dapat membalaskan kembali kekalahan tersebut hanya dengan 2 atau 3 kemenangan. Sekali lagi, Money Management tidak hanya akan melindungi kita, tetapi juga akan memberi profit mantap dalam jangka panjang. Berikut ini Money Management yang bisa dijadikan dasar dalam menjalankan trading di pasar Forex. Secara umum Money Management berisi sebagai berikut :
1. Penetapan besarnya toleransi kerugian kita.
2. Penetapan jumlah maksimum transaksi yang bisa kita lakukan.
3. Pertimbangan-pertimbangan yang kita lakukan untuk mengambil sejumlah resiko.
Tetaplah disiplin dan fokus dalam mengikuti peraturan Money Management yang telah kitabuat sendiri. Ingat, manfaat Money Management adalah untuk melindungi uang kita. Dalam jangka panjang, Money Management-lah yang akan membantu kita melipatgandakan uang di pasar Forex. Selamat berjuang dan semoga pembelajaran ini bermanfaat bagi kita semua.
Sumber:
http://trading-report.blogspot.com
Ame Suzako
Manajemen Resiko
Secara umum, definisi dari investasi yang aman mungkin hanya berbatas
pada bunga atau tingkat pengembalian yang kita peroleh dari tabungan
atau deposito jangka panjang, yang nominal angkanya tergantung pada
tingkat bunga yang berlaku di negara masing-masing. Pada saat penulisan
ini berlangsung, sekitar bulan November 2007, suku bunga yang diperoleh
dari sebuah rekening tabungan di Australia adalah sekitar 7% per tahun.
Itu sama saja dengan 0,57% per bulan.

Seorang trader pemula biasanya mengalokasikan kemenangan dan keuntungan dagangnya pada persentase diantara sepuluh sampai lima puluh persen dari modal dagangnya. Dia membentuk keyakinan bahwa, dengan bertrading, ia dapat dengan cepat menjadi seorang jutawan.
Memang, jika kita asumsikan akan memperoleh sekitar 20% pengembalian per bulan pada rekening dagang sejumlah $ 10.000, maka, kurang lebih kita akan mendapatkan sekitar $ 89.161 pada akhir tahun pertama trading. Bagaimana jika kita menganggap perkiraan pengembaliannya adalah 50% per bulan? Sudah pasti, kita akan memiliki sekitar $ 1.297.463 pada akhir tahun.
Tentu saja, hal yang berhubungan dengan ekspektasi seperti ini tidaklah realistis. Bahkan kebanyakan dari mereka yang mengaku telah melakukannya, terbukti hanyal omong belaka. Kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut hanya pada kompetisi trading yang ada dalam game/permainan, yang sama sekali tidak memerlukan uang dari dunia nyata.
Meskipun begitu, tetap ada kemungkinan, bahwa di suatu waktu, seseorang dapat mengalami tingkat pengembalian yang luar biasa, akan tetapi belum ada dalam sejarah, orang yang berhasil mendapatkannya persentase besar secara terus menerus dari tahun ke tahun. Setelah menguji ratusan sistem trading dan ide-ide yang muncul, akhirnya kami mempercayai bahwa sistem, yang tampaknya menjanjikan keuntungan selangit, dapat berubah menjadi terlalu menjanjikan untuk periode tertentu. Atau sebaliknya, lebih buruk, pada kurun waktu tertentu, tiba-tiba muncul bukti-bukti kelemahan atau kekurangan dalam sistem-sistem tersebut.
Baru-baru ini, kami telah melihat laporan-laporan kinerja dari beberapa broker di Amerika Serikat.
Apa yang akan Anda katakan jika broker terbesar selama sepuluh tahun terakhir ini, ternyata hanya membuat laba rata-rata 25% per tahun, sedangkan perusahaan broker lainnya yang levelnya menengah, hanya membuat sekitar 15% per tahun? Nah, fakta yang selama ini terjadi memang seperti itu adanya. Jadi, dari pengembalian sebesar 20% pertahun dan 15% pertahun itu, broker ‘hanya’ akan mendapatkan laba rata-rata perbulan sebesar 1,877% dan 1,171%, masing-masing.
Tentu kami merasa yakin, akan banyak trader, khususnya para trader pemula, atau investor yang membaca artikel ini, akan memberikan berbagai macam reaksi terhadap angka-angka persen tersebut di atas. Beberapa mungkin tertawa dan merasa mereka bisa melakukan banyak hal lebih baik daripada hanya 1,877% per bulan. Sementara, beberapa yang lain mungkin merasa terkejut atau bahkan kecewa, karena mimpi untuk menjadi kaya, tidak semudah dan secepat yang diharapkan.
Namun jangan kecewa dulu, kami akan menunjukkan kepada Anda, makna sebenarnya dari prosentase tersebut diatas. Apabila seiring waktu, prosentase yang terlihat kecil ini, secara bertahap dan konsisten akan bertambah, hal ini justru akan memberikan keuntungan yang luar biasa di masa yang akan datang. Seiring waktu, mereka bisa saja menghasilkan 100% atau 1000% per bulan.
Pertanyaannya, berapa lama ia bisa menghasilkan seperti itu? Nah, semakin besar profit di bulan tersebut, semakin besar perjuangan dan risiko yang harus ditanggung. Itulah kenapa mereka tidak ingin gegabah dan menghasilkan uang dalam waktu yang singkat atau dengan cara profit ratusan persen. Dengan begitu, risiko yang dihasilkan bisa diminimalisir dan transaksi akan terus menerus bisa dikerjakan tanpa ada kerugian total.
Manajemen risiko merupakan suatu keterampilan penting yang harus dikuasai di dalam dunia trading. Untuk lebih memahami seperti apa manajemen risiko itu, dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam, bagaimana cara memanfaatkan risiko Forex dengan aturan 5%.
Manajemen risiko adalah salah satu skill trading yang paling sulit untuk dikuasai, terutama bagi para trader Forex baru. Banyak dari mereka, umumnya sulit untuk memahami masalah penempatan stop loss dalam trading, tetapi sering melewatkan bagian terpentingnya yaitu tentang risiko apa saja yang harus dilalui dalam trading. Sebelum Anda memasuki pasar atau mempertimbangkan untuk membuka posisi baru, pertimbangkan terlebih dahulu pertanyaan berikut.
Berapa risiko yang harus ditanggung?Kebanyakan para trader profesional menganggap aturan 5% merupakan langkah yang tepat untuk mengamankan modal. Aturan ini diberlakukan ketika semua posisi yang terbuka ditutup dan total loss pada saat penutupan, tidak melebihi batas 5% dari saldo rekening trader. Di bawah ini adalah cara untuk mengaplikasikan perhitungan dasar aturan 5% pada rekening yang berisi dana sebesar $ 10.000. Dimana jika semua posisi ditutup saat transaksi mengalami kerugian, maka trader hanya akan rugi sebesar $500.
Tentu,
tidak ada orang yang mau mengalami kerugian 5% dari saldo rekening
mereka. Tetapi jika kita kaji kembali contoh di atas, kerugian 5% atau
sekitar $500 tersebut justru sebenarnya menyelamatkan para trader dari
kerugian total akunnya. Contoh diatas menggambarkan bahwa meskipun
trader kehilangan $500, akan tetapi trader masih memiliki sisa balance
sebesar $9500, untuk bisa dipakai dalam trading yang lain. Mari kita
lihat apa saja yang bisa terjadi ketika trader mengabaikan aturan ini.
Perlu dicatat bahwa aturan 5% tidak sama dengan mempertaruhkan 5% dari account trading Anda untuk satu perdagangan tertentu saja. Contohnya, jika Anda memiliki 5 perdagangan terbuka, masing-masing mempertaruhkan 5% dari account Anda, maka pada saat semua posisi ditutup, Anda akan kehilangan 25% dari total account. Sehingga apabila sesuai dengan perspektif, dengan saldo awal sebesar $10.000, berarti kerugian yang akan ditanggung adalah sebesar $2.500 dan hanya meninggalkan saldo $7500.
Untuk membantu trader mengendalikan risiko mereka, programmer di FXCM telah menciptakan sebuah indikator sederhana untuk membantu menguraikan, berapa banyak risiko yang telah diasumsikan pada salah satu perdagangan tertentu.

Alat ini akan membantu Anda, bertahan pada open posisi dan pada strategi yang telah ditetapkan, serta pengaplikasian manajemen risiko secara tepat. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang manajemen risiko, anda dapat mengakses App Store FXCM.
Sumber:
dailyfx.com
Ame Suzako

Seorang trader pemula biasanya mengalokasikan kemenangan dan keuntungan dagangnya pada persentase diantara sepuluh sampai lima puluh persen dari modal dagangnya. Dia membentuk keyakinan bahwa, dengan bertrading, ia dapat dengan cepat menjadi seorang jutawan.
Memang, jika kita asumsikan akan memperoleh sekitar 20% pengembalian per bulan pada rekening dagang sejumlah $ 10.000, maka, kurang lebih kita akan mendapatkan sekitar $ 89.161 pada akhir tahun pertama trading. Bagaimana jika kita menganggap perkiraan pengembaliannya adalah 50% per bulan? Sudah pasti, kita akan memiliki sekitar $ 1.297.463 pada akhir tahun.
Tentu saja, hal yang berhubungan dengan ekspektasi seperti ini tidaklah realistis. Bahkan kebanyakan dari mereka yang mengaku telah melakukannya, terbukti hanyal omong belaka. Kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut hanya pada kompetisi trading yang ada dalam game/permainan, yang sama sekali tidak memerlukan uang dari dunia nyata.
Meskipun begitu, tetap ada kemungkinan, bahwa di suatu waktu, seseorang dapat mengalami tingkat pengembalian yang luar biasa, akan tetapi belum ada dalam sejarah, orang yang berhasil mendapatkannya persentase besar secara terus menerus dari tahun ke tahun. Setelah menguji ratusan sistem trading dan ide-ide yang muncul, akhirnya kami mempercayai bahwa sistem, yang tampaknya menjanjikan keuntungan selangit, dapat berubah menjadi terlalu menjanjikan untuk periode tertentu. Atau sebaliknya, lebih buruk, pada kurun waktu tertentu, tiba-tiba muncul bukti-bukti kelemahan atau kekurangan dalam sistem-sistem tersebut.
Baru-baru ini, kami telah melihat laporan-laporan kinerja dari beberapa broker di Amerika Serikat.
Apa yang akan Anda katakan jika broker terbesar selama sepuluh tahun terakhir ini, ternyata hanya membuat laba rata-rata 25% per tahun, sedangkan perusahaan broker lainnya yang levelnya menengah, hanya membuat sekitar 15% per tahun? Nah, fakta yang selama ini terjadi memang seperti itu adanya. Jadi, dari pengembalian sebesar 20% pertahun dan 15% pertahun itu, broker ‘hanya’ akan mendapatkan laba rata-rata perbulan sebesar 1,877% dan 1,171%, masing-masing.
Tentu kami merasa yakin, akan banyak trader, khususnya para trader pemula, atau investor yang membaca artikel ini, akan memberikan berbagai macam reaksi terhadap angka-angka persen tersebut di atas. Beberapa mungkin tertawa dan merasa mereka bisa melakukan banyak hal lebih baik daripada hanya 1,877% per bulan. Sementara, beberapa yang lain mungkin merasa terkejut atau bahkan kecewa, karena mimpi untuk menjadi kaya, tidak semudah dan secepat yang diharapkan.
Namun jangan kecewa dulu, kami akan menunjukkan kepada Anda, makna sebenarnya dari prosentase tersebut diatas. Apabila seiring waktu, prosentase yang terlihat kecil ini, secara bertahap dan konsisten akan bertambah, hal ini justru akan memberikan keuntungan yang luar biasa di masa yang akan datang. Seiring waktu, mereka bisa saja menghasilkan 100% atau 1000% per bulan.
Pertanyaannya, berapa lama ia bisa menghasilkan seperti itu? Nah, semakin besar profit di bulan tersebut, semakin besar perjuangan dan risiko yang harus ditanggung. Itulah kenapa mereka tidak ingin gegabah dan menghasilkan uang dalam waktu yang singkat atau dengan cara profit ratusan persen. Dengan begitu, risiko yang dihasilkan bisa diminimalisir dan transaksi akan terus menerus bisa dikerjakan tanpa ada kerugian total.
Manajemen risiko merupakan suatu keterampilan penting yang harus dikuasai di dalam dunia trading. Untuk lebih memahami seperti apa manajemen risiko itu, dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam, bagaimana cara memanfaatkan risiko Forex dengan aturan 5%.
Manajemen risiko adalah salah satu skill trading yang paling sulit untuk dikuasai, terutama bagi para trader Forex baru. Banyak dari mereka, umumnya sulit untuk memahami masalah penempatan stop loss dalam trading, tetapi sering melewatkan bagian terpentingnya yaitu tentang risiko apa saja yang harus dilalui dalam trading. Sebelum Anda memasuki pasar atau mempertimbangkan untuk membuka posisi baru, pertimbangkan terlebih dahulu pertanyaan berikut.
Berapa risiko yang harus ditanggung?Kebanyakan para trader profesional menganggap aturan 5% merupakan langkah yang tepat untuk mengamankan modal. Aturan ini diberlakukan ketika semua posisi yang terbuka ditutup dan total loss pada saat penutupan, tidak melebihi batas 5% dari saldo rekening trader. Di bawah ini adalah cara untuk mengaplikasikan perhitungan dasar aturan 5% pada rekening yang berisi dana sebesar $ 10.000. Dimana jika semua posisi ditutup saat transaksi mengalami kerugian, maka trader hanya akan rugi sebesar $500.
Tentu,
tidak ada orang yang mau mengalami kerugian 5% dari saldo rekening
mereka. Tetapi jika kita kaji kembali contoh di atas, kerugian 5% atau
sekitar $500 tersebut justru sebenarnya menyelamatkan para trader dari
kerugian total akunnya. Contoh diatas menggambarkan bahwa meskipun
trader kehilangan $500, akan tetapi trader masih memiliki sisa balance
sebesar $9500, untuk bisa dipakai dalam trading yang lain. Mari kita
lihat apa saja yang bisa terjadi ketika trader mengabaikan aturan ini.Perlu dicatat bahwa aturan 5% tidak sama dengan mempertaruhkan 5% dari account trading Anda untuk satu perdagangan tertentu saja. Contohnya, jika Anda memiliki 5 perdagangan terbuka, masing-masing mempertaruhkan 5% dari account Anda, maka pada saat semua posisi ditutup, Anda akan kehilangan 25% dari total account. Sehingga apabila sesuai dengan perspektif, dengan saldo awal sebesar $10.000, berarti kerugian yang akan ditanggung adalah sebesar $2.500 dan hanya meninggalkan saldo $7500.
Untuk membantu trader mengendalikan risiko mereka, programmer di FXCM telah menciptakan sebuah indikator sederhana untuk membantu menguraikan, berapa banyak risiko yang telah diasumsikan pada salah satu perdagangan tertentu.

Alat ini akan membantu Anda, bertahan pada open posisi dan pada strategi yang telah ditetapkan, serta pengaplikasian manajemen risiko secara tepat. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang manajemen risiko, anda dapat mengakses App Store FXCM.
Sumber:
dailyfx.com
Ame Suzako
Analisa Teknikal
Terlepas dari pembelajaran trading, sebagian besar dari kita memiliki sedikit masalah pada pergerakan harga. Sebagai satu-satunya penentu keuntungan atau kerugian, sayangnya, pergerakan harga tidak dapat diduga. Kita mungkin memiliki pembenaran pada analisis dan strategi Forex, tetapi jika kita tidak dapat mengonfirmasi strategi dan analisis terhadap pergerakan harga dengan benar, strategi dan analisis yang kita lakukan akan menjadi sia-sia.

Pivot Point dan Support dan Resistance
Para trader profesional dan mereka yang telah berpengalaman sering
menggunakan pivot point guna mengidentifikasi level-level support dan
resistance yang potensial. Kenapa titik-titik pivot ini begitu menarik?
Jawabnya karena cukup obyektif dibandingkan leading indicator
yang lain. Pada dasarnya pivot point adalah suatu level harga dimana
bisa ditentukan level-level support dan resistance pada suatu periode
tertentu.
Penggunaan pivot point oleh para trader hampir sama dengan penggunaan level Fibonacci retracement, dalam hal hampir semua pelaku pasar memperhatikan level-level tersebut dalam memprediksi arah pergerakan harga. Hanya perbedaannya untuk menentukan titik swing high dan swing low pada level-level Fibo retracement masih ada unsur subyektif, tergantung dari analisa trader masing-masing. Untuk menentukan pivot point berikut level-level support dan resistance-nya, para trader forex menggunakan metode yang sama.
Pivot point khususnya berguna bagi trader jangka pendek atau trader harian yang bermaksud mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang tidak begitu besar. Seperti halnya metode trading yang mengandalkan level-level support atau resistance, trader bisa menggunakan cara bouncing atau cara breakout pada level-level tersebut. Dengan cara bouncing trader mencoba menentukan level pembalikan arah (reversal), sedang trader yang gemar bermain breakout mencoba mengidentifikasi level support atau resistance sebagai acuan terjadinya break pada level tersebut. Selanjutnya mereka akan membuka posisi buy atau sell dekat dengan level-level tersebut.
Berikut contoh pivot point dan level-level support dan resistance pada chart EUR/USD 1-hour:

PP adalah pivot point, R1 adalah level resistance pertama, R2 resistance ke 2, S1 level support pertama, S2 level support ke 2, dan seterusnya.
Menentukan pivot point dan level-level support dan resistance
Untuk menentukan level-level support dan resistance, pertama kali kita mesti menentukan pivot point. Pivot point ditentukan berdasarkan harga tertinggi, terendah dan penutupan pada hari sebelumnya. Pada umumnya trader menggunakan acuan penutupan pasar New York, yaitu pada jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3
Level resistance pertama (R1) = (2 x PP) - harga terendah
Level support pertama (S1) = (2 x PP) - harga tertinggi
Level resistance ke 2 (R2) = PP + (harga teringgi - harga terendah)
Level support ke 2 (S2) = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
Level resistance ke 3 (R3) = harga tertinggi + 2 x (PP- harga terendah)
Level support ke 3 (S3) = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)
Perlu diketahui Anda tidak harus menghitung PP atau level-level support dan resistance setiap kali trade, saat ini sudah banyak platform trading yang menyediakan indikator pivot point harian dan bisa langsung diterapkan, termasuk platform trading populer Metatrader. Hanya saja Anda mesti mengatur waktu penutupan berdasarkan jam acuan yang digunakan broker Anda.
Intermediate level
Intermediate level atau mid point level adalah level-level pertengahan antara PP dan S1, S1 dan S2, S2 dan S3, juga antara PP dan R1, R1 dan R2, R2 dan R3.

Intermediate level adalah level-level acuan yang kadang-kadang digunakan bila jarak PP ke S1 atau S1 ke S2 dan seterusnya cukup besar. Sering pada level-level intermediate tersebut pergerakan harga bouncing (seperti gambar contoh diatas), oleh sebab itu level intermediate sering dianggap sebagai level support atau resistance mini.
Akan sangat berguna bagi seorang trader apabila memiliki gambaran yang akurat serta mengetahui dengan pasti kemana harga akan bergerak dari pasar trading sebelumnya. Ada sebuah teknik trading yang disebut dengan pivot point, yang dapat membantu trader untuk melihat arah pergerakan harga tersebut.
Teknik itu melibatkan tidak hanya pengamatan tetapi juga perhitungan atau rumus. Pada artikel sebelumnya, kita sudah mengenal definisi pivot beserta contoh perhitungannya. Sekarang, kami akan memfokuskan bahasan menjadi lebih spesifik lagi, yaitu tentang pivot point support dan resistance-nya.
Seperti yang kita telah ketahui, pasar Forex merupakan pasar yang dibuka selama 24 jam penuh. Tidak heran, jika di dalamnya, terdapat trading dalam jumlah yang tak terbatas ruang dan waktu. Sehingga, dalam trading Forex ini, segala hal harus dipertimbangkan baik-baik, seperti pada saat kita membuka dan menutup transaksi, serta tinggi dan rendahnya harga.

Berbicara tentang patokan waktu yang akurat, Anda bisa memulai dari pukul 00:00 GMT sampai dengan pukul 23:59 GMT. Selain menggunakan perhitungan PP, terdapat tingkat support dan resistance yang bisa dihitung sebagai bahan referensi untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Rumus :
Support 1 (S1) = (PP * 2) - H
Resistance 1 (R1) = (PP * 2) - L
Support 2 (S2) = PP - (R1 - S1)
Resistance 2 (R2) = PP + (R1 - S1)
Dimana, H adalah titik high atau tinggi dari periode sebelumnya dan L adalah titik low atau rendah dari periode sebelumnya. Mari kita praktekan perhitungan dengan menggunakan rumus diatas, misalnya:
Buka: 1,2386
Tinggi: 1,2474
Rendah: 1,2376
Tutup: 1,2458
PP = 1,2439
Maka:
S1 = (1,2439 * 2) - 1,2474 = 1,2404
R1 = (1,2439 * 2) - 1,2376 = 1,2502
R2 = 1,2439 + (1,2636-1,2537) = 1,2537
S2 = 1,2439 - (1,2636-1,2537) = 1,2537
Tingkat-tingkat tersebut merupakan level support dan resistance untuk sesi saat ini. Pada contoh di atas, PP dihitung dengan menggunakan informasi dari sesi sebelumnya (hari sebelumnya.) Dengan cara ini, Anda bisa melihat kemungkinan tingkat support dan resistance dalam satu hari itu. Tetapi, dengan menggunakan rumus diatas, Anda juga dapat menghitung PP berdasarkan informasi dari minggu atau bulan sebelumnya. Dengan melakukan itu, kita dapat melihat sentimen pasar dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Selain itu juga, Anda dapat melihat level support dan resistance yang mungkin terjadi sepanjang minggu atau bulan. Menghitung PP untuk jangka waktu seminggu atau sebulan biasanya dilakukan oleh trader jangka panjang, namun jika Anda adalah trader jangka pendek, tidak ada salahnya untuk mencoba melakukan perhitungan ini juga, dan hasilnya nanti, dapat Anda gunakan sebagai wacana, seperti apa trend jangka panjang itu.
Seperti yang telah disebutkan di atas, zona pivot point adalah teknik yang digunakan oleh trader dan bekerja hanya karena banyak trader dan investor yang menggunakan serta mempercayainya. Yang perlu diingat, sulit untuk bergantung pada pivot jika melakukan open secara membabi buta hanya karena formula muncul dan keluar dari tingkat saat itu.
Sumber:
earnforex.com
Ame Suzako
Penggunaan pivot point oleh para trader hampir sama dengan penggunaan level Fibonacci retracement, dalam hal hampir semua pelaku pasar memperhatikan level-level tersebut dalam memprediksi arah pergerakan harga. Hanya perbedaannya untuk menentukan titik swing high dan swing low pada level-level Fibo retracement masih ada unsur subyektif, tergantung dari analisa trader masing-masing. Untuk menentukan pivot point berikut level-level support dan resistance-nya, para trader forex menggunakan metode yang sama.
Pivot point khususnya berguna bagi trader jangka pendek atau trader harian yang bermaksud mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang tidak begitu besar. Seperti halnya metode trading yang mengandalkan level-level support atau resistance, trader bisa menggunakan cara bouncing atau cara breakout pada level-level tersebut. Dengan cara bouncing trader mencoba menentukan level pembalikan arah (reversal), sedang trader yang gemar bermain breakout mencoba mengidentifikasi level support atau resistance sebagai acuan terjadinya break pada level tersebut. Selanjutnya mereka akan membuka posisi buy atau sell dekat dengan level-level tersebut.
Berikut contoh pivot point dan level-level support dan resistance pada chart EUR/USD 1-hour:
PP adalah pivot point, R1 adalah level resistance pertama, R2 resistance ke 2, S1 level support pertama, S2 level support ke 2, dan seterusnya.
Menentukan pivot point dan level-level support dan resistance
Untuk menentukan level-level support dan resistance, pertama kali kita mesti menentukan pivot point. Pivot point ditentukan berdasarkan harga tertinggi, terendah dan penutupan pada hari sebelumnya. Pada umumnya trader menggunakan acuan penutupan pasar New York, yaitu pada jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3
Level resistance pertama (R1) = (2 x PP) - harga terendah
Level support pertama (S1) = (2 x PP) - harga tertinggi
Level resistance ke 2 (R2) = PP + (harga teringgi - harga terendah)
Level support ke 2 (S2) = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
Level resistance ke 3 (R3) = harga tertinggi + 2 x (PP- harga terendah)
Level support ke 3 (S3) = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)
Perlu diketahui Anda tidak harus menghitung PP atau level-level support dan resistance setiap kali trade, saat ini sudah banyak platform trading yang menyediakan indikator pivot point harian dan bisa langsung diterapkan, termasuk platform trading populer Metatrader. Hanya saja Anda mesti mengatur waktu penutupan berdasarkan jam acuan yang digunakan broker Anda.
Intermediate level
Intermediate level atau mid point level adalah level-level pertengahan antara PP dan S1, S1 dan S2, S2 dan S3, juga antara PP dan R1, R1 dan R2, R2 dan R3.
Intermediate level adalah level-level acuan yang kadang-kadang digunakan bila jarak PP ke S1 atau S1 ke S2 dan seterusnya cukup besar. Sering pada level-level intermediate tersebut pergerakan harga bouncing (seperti gambar contoh diatas), oleh sebab itu level intermediate sering dianggap sebagai level support atau resistance mini.
Akan sangat berguna bagi seorang trader apabila memiliki gambaran yang akurat serta mengetahui dengan pasti kemana harga akan bergerak dari pasar trading sebelumnya. Ada sebuah teknik trading yang disebut dengan pivot point, yang dapat membantu trader untuk melihat arah pergerakan harga tersebut.
Teknik itu melibatkan tidak hanya pengamatan tetapi juga perhitungan atau rumus. Pada artikel sebelumnya, kita sudah mengenal definisi pivot beserta contoh perhitungannya. Sekarang, kami akan memfokuskan bahasan menjadi lebih spesifik lagi, yaitu tentang pivot point support dan resistance-nya.
Seperti yang kita telah ketahui, pasar Forex merupakan pasar yang dibuka selama 24 jam penuh. Tidak heran, jika di dalamnya, terdapat trading dalam jumlah yang tak terbatas ruang dan waktu. Sehingga, dalam trading Forex ini, segala hal harus dipertimbangkan baik-baik, seperti pada saat kita membuka dan menutup transaksi, serta tinggi dan rendahnya harga.

Berbicara tentang patokan waktu yang akurat, Anda bisa memulai dari pukul 00:00 GMT sampai dengan pukul 23:59 GMT. Selain menggunakan perhitungan PP, terdapat tingkat support dan resistance yang bisa dihitung sebagai bahan referensi untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Rumus :
Support 1 (S1) = (PP * 2) - H
Resistance 1 (R1) = (PP * 2) - L
Support 2 (S2) = PP - (R1 - S1)
Resistance 2 (R2) = PP + (R1 - S1)
Dimana, H adalah titik high atau tinggi dari periode sebelumnya dan L adalah titik low atau rendah dari periode sebelumnya. Mari kita praktekan perhitungan dengan menggunakan rumus diatas, misalnya:
Buka: 1,2386
Tinggi: 1,2474
Rendah: 1,2376
Tutup: 1,2458
PP = 1,2439
Maka:
S1 = (1,2439 * 2) - 1,2474 = 1,2404
R1 = (1,2439 * 2) - 1,2376 = 1,2502
R2 = 1,2439 + (1,2636-1,2537) = 1,2537
S2 = 1,2439 - (1,2636-1,2537) = 1,2537
Tingkat-tingkat tersebut merupakan level support dan resistance untuk sesi saat ini. Pada contoh di atas, PP dihitung dengan menggunakan informasi dari sesi sebelumnya (hari sebelumnya.) Dengan cara ini, Anda bisa melihat kemungkinan tingkat support dan resistance dalam satu hari itu. Tetapi, dengan menggunakan rumus diatas, Anda juga dapat menghitung PP berdasarkan informasi dari minggu atau bulan sebelumnya. Dengan melakukan itu, kita dapat melihat sentimen pasar dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Selain itu juga, Anda dapat melihat level support dan resistance yang mungkin terjadi sepanjang minggu atau bulan. Menghitung PP untuk jangka waktu seminggu atau sebulan biasanya dilakukan oleh trader jangka panjang, namun jika Anda adalah trader jangka pendek, tidak ada salahnya untuk mencoba melakukan perhitungan ini juga, dan hasilnya nanti, dapat Anda gunakan sebagai wacana, seperti apa trend jangka panjang itu.
Seperti yang telah disebutkan di atas, zona pivot point adalah teknik yang digunakan oleh trader dan bekerja hanya karena banyak trader dan investor yang menggunakan serta mempercayainya. Yang perlu diingat, sulit untuk bergantung pada pivot jika melakukan open secara membabi buta hanya karena formula muncul dan keluar dari tingkat saat itu.
Sumber:
earnforex.com
Ame Suzako
Fibonacci
Dalam perdagangan sehari-hari, seringkali ada banyak pertanyaan yang muncul, mengenai bagaimana caranya untuk mengetahui seberapa jauh pergerakan mata uang, yang mungkin dapat melanjutkan trend.
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa tidak ada yang tahu persis,
seberapa jauh pasangan mata uang yang mungkin dapat meneruskan suatu
trend, atau seberapa lama sideway akan berlangsung. Namun, ada alat yang
dapat digunakan untuk mendapatkan sedikit solusi mengenai pertanyaan
tersebut. Alat tersebut dinamakan sebagai alat fibonacci. Mari kita
lihat grafik 4 jam pasangan GBPCHF berikut ini:

Karena grafik pasangan ini berada dalam kondisi downtrend, kita tahu yang akan kita fokuskan adalah mencari kesempatan untuk menjual pasangan mata uang ini, karena hal itu merupakan probabilitas trade yang mungkin bisa dilakukan saat ini. Sebagai contoh, mari kita lihat pergerakan trend bearish yang baru-baru ini terbentuk di antara titik A dan titik B dalam chart.
Apabila dari kondisi downtrend mulai terlihat bahwa harga bergerak kembali (pembalikan harga) ke atas, sebagian trader mungkin akan bertanya-tanya, pada titik yang manakah, gerakan upside itu akan melemah atau melambat? Informasi itu berguna karena sesaat setelah gerakan tersebut melambat, para trader dapat dengan sistematis mengatur pasangan mata uang tersebut agar dapat kembali normal ke arah trend harian.
Meskipun tidak ada indikator atau alat trading yang dapat memprediksi secara akurat, biasanya pembalikan harga akan terjadi saat retracement akan berakhir. Dan alat Fibonacci ini rupanya, dapat membantu trader pada situasi rumit seperti ini. Caranya, dengan mengamati, tiga garis tingkat yang disediakan, untuk memantau trading apakah ada pembalikan trend atau tidak.
Dengan menarik garis fibo ke arah titik A (Swing High) dan B (Swing Low), kita dapat melihat bahwa tiga tingkat retracement fibo yang utama, ditempatkan pada chart, pada tingkat 38,2%, 50,0%, dan 61,8%. Ini adalah tingkat yang akan digunakan sebagai alat pemantau harga kedepan. Begitu sebaliknya, jika trend ternyata naik, maka penarikan garis dapat diterapkan sebaliknya, yaitu dengan cara menarik garis dari titik B ke titik A.
Idealnya, kita harus mencari suatu retracement untuk tingkatan di kisaran 50% atau lebih baik lagi pada tingkat 61,8%. Semakin jauh harga terlacak sebelum melambat, semakin besar kemungkinan pasangan mata uang bergerak turun, dan selanjutnya bergerak sesuai dengan arah harian trend. Disini, kita bisa melihat bahwa harga bergerak sesuai yang diharapkan, dan terlihat berada diatas tingkat 61,8 %, sebelum kemudian memulai untuk melakukan pergerakan kuat menuju down trend.
Bila menggunakan alat Fibonacci ini, disaat harga masih sedang downtrend (seperti yang terlihat pada chart), sebaiknya carilah harga yang berada pada tingkat 50% atau diatasnya. Semakin tinggi semakin baik. Karena dalam contoh, ada beberapa sumbu panjang di tingkat 61,8%, sehingga berdasarkan itu, trader dapat memutuskan untuk trade pada saat penutupan candle tepat diatas sumbu tertinggi.
Meskipun terlihat sempurna, metode ini tetap tidak bisa disebut metode yang paling ampuh untuk melakukan transaksi. Harus diingat, bahwa metode ini hanya bersifat membantu. Sehingga tidak ada salahnya untuk dipakai dalam trading Anda. Selain itu, metode ini juga cukup mudah dan menyenangkan untuk digunakan. Hal itu karena, alat Fibonacci ini memberikan beberapa informasi yang penting dan cukup berguna bagi trader, terutama bagi trader yang mencoba untuk mendapatkan cara termudah mengenai masalah tingkat retracement yang mungkin akan terjadi.
Pada beberapa penggunaan level, biasanya terdapat tingkatan angka fibo yang paling penting. Tingkat Fibonacci retracement memiliki persentase yang dianggap paling penting oleh pedagang adalah: 38,2% dan 62,8%. Sedang persentase retracement lainnya yang agak penting adalah : 75%, 50%, dan 33%. Jadi bagaimana pedagang dapat menggunakannya?

1. Sebagai Penentu Stop LossJika tiga atau lebih tingkat harga Fibonacci datang bersama-sama, stop loss dapat ditempatkan di atas area yang menunjukkan area yang penting yaitu support atau resistance.

Mengatur perdagangan stop loss menggunakan Fibonacci retracement memungkinkan para pedagang untuk mengatur pra exit point, sehingga mereka dapat keluar dari pasar jika salah posisi. Ini berarti mereka dapat melakukan trading dengan cara disiplin dan melindungi ekuitas akun.
2. Sebagai Penentu Pembukaan PosisiTergantung pada risiko trader ingin mengambil sebuah angka perdagangan Fibonacci dapat memberikan ukuran posisi yang akan diambil, dalam hal ini bisa mengaudit risiko yang trader ingin gunakan.
3. Sebagai Penentu Tingkat keuntunganSetelah pola teridentifikasi terhadap harga maka pedagang dapat melihat pada tingkatan Fibonacci untuk mengunci keuntungan. Jadi, mereka memungkinkan untuk memiliki spesifik stop loss dan tujuan keuntungan di awal.

Pedagang kemudian dapat menggunakannya untuk mengunci keuntungan dan mengurangi kerugian seminimum mungkin, yang berefek penting pada profitabilitas jangka panjang.
Sumber:
earnforex.com
Ame Suzako

Karena grafik pasangan ini berada dalam kondisi downtrend, kita tahu yang akan kita fokuskan adalah mencari kesempatan untuk menjual pasangan mata uang ini, karena hal itu merupakan probabilitas trade yang mungkin bisa dilakukan saat ini. Sebagai contoh, mari kita lihat pergerakan trend bearish yang baru-baru ini terbentuk di antara titik A dan titik B dalam chart.
Apabila dari kondisi downtrend mulai terlihat bahwa harga bergerak kembali (pembalikan harga) ke atas, sebagian trader mungkin akan bertanya-tanya, pada titik yang manakah, gerakan upside itu akan melemah atau melambat? Informasi itu berguna karena sesaat setelah gerakan tersebut melambat, para trader dapat dengan sistematis mengatur pasangan mata uang tersebut agar dapat kembali normal ke arah trend harian.
Meskipun tidak ada indikator atau alat trading yang dapat memprediksi secara akurat, biasanya pembalikan harga akan terjadi saat retracement akan berakhir. Dan alat Fibonacci ini rupanya, dapat membantu trader pada situasi rumit seperti ini. Caranya, dengan mengamati, tiga garis tingkat yang disediakan, untuk memantau trading apakah ada pembalikan trend atau tidak.
Dengan menarik garis fibo ke arah titik A (Swing High) dan B (Swing Low), kita dapat melihat bahwa tiga tingkat retracement fibo yang utama, ditempatkan pada chart, pada tingkat 38,2%, 50,0%, dan 61,8%. Ini adalah tingkat yang akan digunakan sebagai alat pemantau harga kedepan. Begitu sebaliknya, jika trend ternyata naik, maka penarikan garis dapat diterapkan sebaliknya, yaitu dengan cara menarik garis dari titik B ke titik A.
Idealnya, kita harus mencari suatu retracement untuk tingkatan di kisaran 50% atau lebih baik lagi pada tingkat 61,8%. Semakin jauh harga terlacak sebelum melambat, semakin besar kemungkinan pasangan mata uang bergerak turun, dan selanjutnya bergerak sesuai dengan arah harian trend. Disini, kita bisa melihat bahwa harga bergerak sesuai yang diharapkan, dan terlihat berada diatas tingkat 61,8 %, sebelum kemudian memulai untuk melakukan pergerakan kuat menuju down trend.
Bila menggunakan alat Fibonacci ini, disaat harga masih sedang downtrend (seperti yang terlihat pada chart), sebaiknya carilah harga yang berada pada tingkat 50% atau diatasnya. Semakin tinggi semakin baik. Karena dalam contoh, ada beberapa sumbu panjang di tingkat 61,8%, sehingga berdasarkan itu, trader dapat memutuskan untuk trade pada saat penutupan candle tepat diatas sumbu tertinggi.
Meskipun terlihat sempurna, metode ini tetap tidak bisa disebut metode yang paling ampuh untuk melakukan transaksi. Harus diingat, bahwa metode ini hanya bersifat membantu. Sehingga tidak ada salahnya untuk dipakai dalam trading Anda. Selain itu, metode ini juga cukup mudah dan menyenangkan untuk digunakan. Hal itu karena, alat Fibonacci ini memberikan beberapa informasi yang penting dan cukup berguna bagi trader, terutama bagi trader yang mencoba untuk mendapatkan cara termudah mengenai masalah tingkat retracement yang mungkin akan terjadi.
Pada beberapa penggunaan level, biasanya terdapat tingkatan angka fibo yang paling penting. Tingkat Fibonacci retracement memiliki persentase yang dianggap paling penting oleh pedagang adalah: 38,2% dan 62,8%. Sedang persentase retracement lainnya yang agak penting adalah : 75%, 50%, dan 33%. Jadi bagaimana pedagang dapat menggunakannya?

1. Sebagai Penentu Stop LossJika tiga atau lebih tingkat harga Fibonacci datang bersama-sama, stop loss dapat ditempatkan di atas area yang menunjukkan area yang penting yaitu support atau resistance.

Mengatur perdagangan stop loss menggunakan Fibonacci retracement memungkinkan para pedagang untuk mengatur pra exit point, sehingga mereka dapat keluar dari pasar jika salah posisi. Ini berarti mereka dapat melakukan trading dengan cara disiplin dan melindungi ekuitas akun.
2. Sebagai Penentu Pembukaan PosisiTergantung pada risiko trader ingin mengambil sebuah angka perdagangan Fibonacci dapat memberikan ukuran posisi yang akan diambil, dalam hal ini bisa mengaudit risiko yang trader ingin gunakan.
3. Sebagai Penentu Tingkat keuntunganSetelah pola teridentifikasi terhadap harga maka pedagang dapat melihat pada tingkatan Fibonacci untuk mengunci keuntungan. Jadi, mereka memungkinkan untuk memiliki spesifik stop loss dan tujuan keuntungan di awal.

Pedagang kemudian dapat menggunakannya untuk mengunci keuntungan dan mengurangi kerugian seminimum mungkin, yang berefek penting pada profitabilitas jangka panjang.
Sumber:
earnforex.com
Ame Suzako
Relative Strength Index ( RSI )
Para pengagum RSI selalu membayangkan
betapa mudahnya memakai indikator tersebut. Betapa tidak, RSI selalu
dikaitkan tentang pola harga jenuh dan gambaran harga yang bisa dilihat
sebagai batas low atau high pada saat trend berlangsung. Dengan adanya
RSI, tugas trader dalam menganalisis terbantu. Bagaimana penggunaannya?
Yuk, simak ulasan di bawah ini.
RSI mulai diperkenalkan pertama kali oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978 pada bukunya "New Concepts in Technical Trading Systems". Nilai dari RSI berada pada kisaran 0-100. RSI sendiri merupakan indikator yang membandingkan momentum harga yakni antara nilai pada saat ini terhadap daya tarik losses yang terjadi.

RSI mirip dengan stochastic dalam mengidentifikasi kondisi over-bought dan over-sold di pasar. Skalanya memang dimulai dari 0 hingga 100. Tapi biasanya orang-orang akan menyakini jika angka dibawah 30 berarti menunjukkan over-sold, sementara angka lebih dari 70 mengindikasikan over-bought.

Cara membaca RSI cukup sederhana yaitu pada poin 50-nya, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:
RSI mulai diperkenalkan pertama kali oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978 pada bukunya "New Concepts in Technical Trading Systems". Nilai dari RSI berada pada kisaran 0-100. RSI sendiri merupakan indikator yang membandingkan momentum harga yakni antara nilai pada saat ini terhadap daya tarik losses yang terjadi.

RSI mirip dengan stochastic dalam mengidentifikasi kondisi over-bought dan over-sold di pasar. Skalanya memang dimulai dari 0 hingga 100. Tapi biasanya orang-orang akan menyakini jika angka dibawah 30 berarti menunjukkan over-sold, sementara angka lebih dari 70 mengindikasikan over-bought.

Cara membaca RSI cukup sederhana yaitu pada poin 50-nya, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:
1. Kondisi Over-bought:
apabila RSI meninggalkan poin 50 dan mengarah titik 75 maka dapat
diindikasikan harga sedang naik dan biasanya akan kembali turun setelah
dekat atau sampai pada poin 75.
2. Kondisi Over-sold: apabila RSI meninggalkan poin 50 dan mengarah poin 25, ini berarti harga sedang turun dan biasanya akan kembali naik setelah dekat dengan poin 25. Kembali naik ini sering disebut "dalam kondisi oversold".
2. Kondisi Over-sold: apabila RSI meninggalkan poin 50 dan mengarah poin 25, ini berarti harga sedang turun dan biasanya akan kembali naik setelah dekat dengan poin 25. Kembali naik ini sering disebut "dalam kondisi oversold".
Sementara, ketika Anda ber-trading menggunakan RSI, entry point-nya adalah:
- Buy ketika market oversold dan muncul candle jenis reversal seperti hammer, inverted hammer atau candle piercing.
- Sell ketika market overbought disertai munculnya candle jenis reversal seperti Shooting star atau hanging man.
Divergence Positif atau Negatif

Sama seperti MACD, RSI juga dapat digunakan untuk menentukan divergence positif maupun negatif.
The Centerline Crossover (Momentum)

Seperti juga pada MACD yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan momentum kenaikan/penurunan harga, RSI juga dapat digunakan untuk hal yang sama. Bedanya, jika pada MACD crossover terjadi pada garis nol maka pada RSI pada garis 50.
Referensi:
http://ifx.web.id
Ame Suzako
Stochastics
Stochastics dapat digunakan untuk menemukan entri yang lebih baik dalam tren pasar. Secara teknis, trader dapat menggunakan strategi divergensi perdagangan.
Biasanya, trader yang menggunakan indikator Stochastics mengamati
osilator untuk mengetahui overbought/oversold dan crossover momentum.
Langkah ini tepat dan sangat berguna terlebih ketika harga sedang
konsolidasi. Lalu bagaimana jika pasar mengalami tren? Inilah saatnya
Anda menggunakan divergensi.
Di bawah ini, Anda dapat melihat grafik harian EURGBP yang mengalami kenaikan sebanyak 712 pips dalam lima bulan terakhir. Karena momentum harga telah naik begitu cepat, Anda dapat beralih ke strategi divergensi tersembunyi untuk mengidentifikasi titik entri yang potensial.

Ketika harga EURGBP mengalami kenaikan, Stochastics juga naik. Terkadang ada perbedaan yang tidak terlihat atau tersembunyi di market yang sedang bullish. Hal ini bisa saja terjadi jika harga bergerak naik lebih cepat daripada gerak indikator yang kita pakai.
Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mulai menganalisis perbedaan tersembunyi dalam uptrend tersebut, kita perlu mengidentifikasi posisi titik terendah saat ini. Dalam uptrend, titik terendah harus terlihat pada grafik kemudian kita bandingkan dengan Stochastics. Di bawah ini kita bisa melihat bahwa indikator membuat serangkaian titik rendah. Itulah perbedaan yang tersembunyi!

Penting untuk dicatat bahwa indikator dapat terus menunjukkan overbought dan oversold dalam jangka waktu yang lama. Anda juga perlu mencermati bahwa perdagangan divergensi yang memiliki potensi untuk berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama. Karenanya, trader disarankan untuk menggunakan stop order sehingga terhindar dari resiko kerugian yang besar. Salah satu metode yang bisa diterapkan dalam uptrend adalah menempatkan SL di dekat ayunan harga terendah saat ini.
Sumber:
Dailyfx.com
Ame Suzako
Di bawah ini, Anda dapat melihat grafik harian EURGBP yang mengalami kenaikan sebanyak 712 pips dalam lima bulan terakhir. Karena momentum harga telah naik begitu cepat, Anda dapat beralih ke strategi divergensi tersembunyi untuk mengidentifikasi titik entri yang potensial.

Ketika harga EURGBP mengalami kenaikan, Stochastics juga naik. Terkadang ada perbedaan yang tidak terlihat atau tersembunyi di market yang sedang bullish. Hal ini bisa saja terjadi jika harga bergerak naik lebih cepat daripada gerak indikator yang kita pakai.
Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mulai menganalisis perbedaan tersembunyi dalam uptrend tersebut, kita perlu mengidentifikasi posisi titik terendah saat ini. Dalam uptrend, titik terendah harus terlihat pada grafik kemudian kita bandingkan dengan Stochastics. Di bawah ini kita bisa melihat bahwa indikator membuat serangkaian titik rendah. Itulah perbedaan yang tersembunyi!

Penting untuk dicatat bahwa indikator dapat terus menunjukkan overbought dan oversold dalam jangka waktu yang lama. Anda juga perlu mencermati bahwa perdagangan divergensi yang memiliki potensi untuk berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama. Karenanya, trader disarankan untuk menggunakan stop order sehingga terhindar dari resiko kerugian yang besar. Salah satu metode yang bisa diterapkan dalam uptrend adalah menempatkan SL di dekat ayunan harga terendah saat ini.
Sumber:
Dailyfx.com
Ame Suzako
Moving Average Convergence / Divergence atau ( MACD )
Indikator teknikal moving average convergence/divergence
atau MACD sangat populer dan banyak digunakan oleh para trader di pasar
forex. Ada beberapa versi tampilan MACD dalam platform trading namun
pada dasarnya mewakili parameter yang sama. Tampilan versi standard
platform Metatrader menggunakan area untuk menyatakan MACD,
namun versi garis lebih populer karena mudah untuk diamati. Indikator
ini dibuat oleh Gerald Appeal pada tahun 1979 dan dalam waktu singkat
mendapat sambutan dari berbagai kalangan karena dinilai sederhana dan
fleksibel.
Pada dasarnya MACD menunjukkan arah trend dan momentum pasar. Secara umum MACD digunakan sebagai:
- pengukur kekuatan trend yang sedang terjadi
- pengukur momentum pasar, apakah kondisinya telah overbought atau oversold
- indikator apakah sedang terjadi divergensi bullish atau bearish. Fungsi ini cukup populer karena hasilnya bisa akurat bila sinyalnya terjadi bersamaan dengan momentum pasar yang overbought atau oversold.
Komponen utama MACD
MACD adalah selisih antara nilai exponential moving average (ema) periode 12 dengan ema periode 26. Nilai parameter ini adalah yang direkomendasikan dan selalu digunakan. Selisih nilai ini bisa ditampilkan dalam bentuk garis atau area seperti tampilan pada platform Metatrader (lihat gambar dibawah). Selain garis atau area MACD sebagai komponen utama, untuk mengetahui momentum buy atau sell yang tepat digunakan garis signal (signal line) yang adalah simple moving average nilai MACD dengan periode 9. Garis signal ini dibuat untuk memperhalus MACD.

Seperti tampak pada gambar diatas, area MACD melebar ketika jarak antara ema-12 dan ema-26 melebar. Jika ema-12 lebih besar dari ema-26 maka nilai MACD positif dan area MACD berada diatas nol yang menandakan uptrend sedang kuat, sebaliknya ketika garis ema-12 berada dibawah garis ema-26, nilai MACD negatif dan area MACD berada dibawah garis nol yang mengisyaratkan terjadinya downtrend. Perhatikan ketika garis ema-12 dan ema-26 sama atau berpotongan (cross), maka nilai MACD tepat berada pada garis nol.
Sinyal buy terjadi bila MACD memotong garis signal dari arah bawah (titik 1 dan 3 pada gambar), yaitu pada saat terjadi momentum oversold, sedang sinyal untuk sell terjadi bila MACD memotong garis sinyal dari arah atas (titik 2) atau pada saat terjadi momentum overbought. Sinyal exit bila MACD memotong garis sinyal pada arah yang berlawanan dengan saat entry. Jika entry buy pada titik 2, exit bisa pada titik 3, dan jika entry sell pada titik 1, exit pada titik 2.
OSMA (histogram)
OSMA atau Oscillator’s Moving Average, atau lazim disebut histogram adalah selisih antara nilai MACD dan garis signal. Pada platform standard Metatrader indikator yang merupakan bagian dari MACD ini disebut OSMA dan disajikan terpisah dengan indikator MACD, sedang pada platform trading lainnya MACD dan histogram ditampilkan bersamaan. Namun ada beberapa broker dengan platform Metatrader membuat tampilan yang disatukan seperti pada tampilan garis gambar diatas.
Banyak trader yang menganggap indikator histogram lebih penting dari MACD itu sendiri. Seperti tampak pada gambar diatas, area histogram positif (lebih besar nol) ketika MACD berada diatas garis signal dan negatif ketika MACD berada dibawah garis signal. Ini menunjukkan percepatan gerakan harga yang artinya kekuatan trend yang sedang terjadi. Makin lebar area histogram berarti pergerakan harga makin cepat yang ditunjukkan oleh jarak MACD dan garis signal yang makin lebar, dengan demikian trend yang terjadi semakin kuat. Area histogram yang berada diatas garis nol menunjukkan keadaan bullish dan dibawah garis nol menunjukkan keadaan bearish. Level puncak dan lembah histogram juga menunjukkan level overbought dan oversold.
Seperti diketahui, banyak trader profesional yang menggunakan pengamatan divergensi dari beberapa indikator yang berbeda sebagai salah satu alat konfirmasi sebelum melakukan transaksi. Cara trading dengan pengamatan divergensi tidak hanya digunakan di pasar forex, tetapi juga populer diterapkan di pasar saham dan komoditas karena para pelaku yang menggerakkan harga pasar mempunyai karakteristik yang hampir sama. Dalam artikel ini dicontohkan bagaimana cara trading dengan memanfaatkan divergensi pergerakan harga dan indikator MACD yang cukup efektif.
Divergensi (divergence) adalah keadaan dimana arah pergerakan indikator dan arah pergerakan harga berbeda. Indikator yang dimaksud adalah jenis oscillator yang menunjukkan overbought dan oversold yaitu MACD, RSI, stochastic oscillator, CCI, William%R. Dengan mengamati divergensi tersebut kita bisa memprediksi akan terjadinya pembalikan arah gerakan harga dalam waktu dekat, sesuai dengan arah pergerakan indikator.

Pada keadaan divergensi bearish, pergerakan harganya bullish dengan terbentuknya level-level puncak yang baru, tetapi pergerakan indikatornya berlawanan, gagal membentuk level puncak dan bergerak bearish. Keadaan ini mengisyaratkan bahwa akan terjadi pembalikan arah pergerakan harga bearish dalam waktu dekat. Untuk divergensi bullish keadaannya sama dengan divergensi bearish hanya arah pergerakannya berlawanan.
Divergensi bisa terjadi pada semua time frame trading dan dapat diterapkan pada semua pasangan mata uang dengan baik, hanya saja makin tinggi time frame-nya makin jarang terjadi divergensi. Keuntungan trading dengan cara ini adalah keadaan divergensi yang sangat mudah diamati, dan bagi pengguna platform Metatrader telah tersedia indikatornya yang langsung menunjukkan divergensi pada platform trading.
Berikut contoh pada EUR/USD 15 minutes dengan indikator yang sering digunakan yaitu MACD dengan setup standard (12,26, SMA9).

Dari chart diatas tampak kondisi divergensi bullish. Level support kita tetapkan pada level terendah formasi double bottom yang terbentuk, dan level resistance pada titik pembalikan trend sebelumnya (bullish pendek) yang telah tertembus (break). Dari divergensi yang terjadi dan formasi bar yang terbentuk kita bisa segera menentukan entry point ketika pembalikan ke arah bullish sudah terkonfirmasi, yaitu dengan adanya: 1. pola double bottom, 2. penolakan (rejection) pada level supportnya (formasi candlestick bullish rejection), 3. pin bar yang terbentuk pada formasi price action-nya.
Level stop loss kita tentukan sedikit dibawah support dan take profit pada sekitar level resistance-nya. Risk/reward ratio bisa sekitar 1:1.5 sampai 1:2.
Contoh lain pada EUR/USD 1 minute:

Contoh diatas adalah divergensi bearish dengan konfirmasi entry pada penolakan (rejection) di level resistance-nya (resistance-2), formasi candlestick bearish rejection, dan pola triangle yang terbentuk (triangle simetris dan break kearah bawah / reversal).
Pada dasarnya divergensi adalah sinyal bahwa gerak rally atau gerak kontraksi yang terjadi akan segera berakhir dan berbalik arah. Keadaan divergen bisa terjadi disebabkan buyer/seller terakhir masih mencoba menggerakkan harga keatas/kebawah, sementara mayoritas trader telah berhenti melakukan pembelian/penjualan untuk mengantisipasi terjadinya koreksi harga pasar.
Sumber : www.fxtsp.com
Ame Suzako
Pada dasarnya MACD menunjukkan arah trend dan momentum pasar. Secara umum MACD digunakan sebagai:
- pengukur kekuatan trend yang sedang terjadi
- pengukur momentum pasar, apakah kondisinya telah overbought atau oversold
- indikator apakah sedang terjadi divergensi bullish atau bearish. Fungsi ini cukup populer karena hasilnya bisa akurat bila sinyalnya terjadi bersamaan dengan momentum pasar yang overbought atau oversold.
Komponen utama MACD
MACD adalah selisih antara nilai exponential moving average (ema) periode 12 dengan ema periode 26. Nilai parameter ini adalah yang direkomendasikan dan selalu digunakan. Selisih nilai ini bisa ditampilkan dalam bentuk garis atau area seperti tampilan pada platform Metatrader (lihat gambar dibawah). Selain garis atau area MACD sebagai komponen utama, untuk mengetahui momentum buy atau sell yang tepat digunakan garis signal (signal line) yang adalah simple moving average nilai MACD dengan periode 9. Garis signal ini dibuat untuk memperhalus MACD.

Seperti tampak pada gambar diatas, area MACD melebar ketika jarak antara ema-12 dan ema-26 melebar. Jika ema-12 lebih besar dari ema-26 maka nilai MACD positif dan area MACD berada diatas nol yang menandakan uptrend sedang kuat, sebaliknya ketika garis ema-12 berada dibawah garis ema-26, nilai MACD negatif dan area MACD berada dibawah garis nol yang mengisyaratkan terjadinya downtrend. Perhatikan ketika garis ema-12 dan ema-26 sama atau berpotongan (cross), maka nilai MACD tepat berada pada garis nol.
Sinyal buy terjadi bila MACD memotong garis signal dari arah bawah (titik 1 dan 3 pada gambar), yaitu pada saat terjadi momentum oversold, sedang sinyal untuk sell terjadi bila MACD memotong garis sinyal dari arah atas (titik 2) atau pada saat terjadi momentum overbought. Sinyal exit bila MACD memotong garis sinyal pada arah yang berlawanan dengan saat entry. Jika entry buy pada titik 2, exit bisa pada titik 3, dan jika entry sell pada titik 1, exit pada titik 2.
OSMA (histogram)
OSMA atau Oscillator’s Moving Average, atau lazim disebut histogram adalah selisih antara nilai MACD dan garis signal. Pada platform standard Metatrader indikator yang merupakan bagian dari MACD ini disebut OSMA dan disajikan terpisah dengan indikator MACD, sedang pada platform trading lainnya MACD dan histogram ditampilkan bersamaan. Namun ada beberapa broker dengan platform Metatrader membuat tampilan yang disatukan seperti pada tampilan garis gambar diatas.
Banyak trader yang menganggap indikator histogram lebih penting dari MACD itu sendiri. Seperti tampak pada gambar diatas, area histogram positif (lebih besar nol) ketika MACD berada diatas garis signal dan negatif ketika MACD berada dibawah garis signal. Ini menunjukkan percepatan gerakan harga yang artinya kekuatan trend yang sedang terjadi. Makin lebar area histogram berarti pergerakan harga makin cepat yang ditunjukkan oleh jarak MACD dan garis signal yang makin lebar, dengan demikian trend yang terjadi semakin kuat. Area histogram yang berada diatas garis nol menunjukkan keadaan bullish dan dibawah garis nol menunjukkan keadaan bearish. Level puncak dan lembah histogram juga menunjukkan level overbought dan oversold.
Seperti diketahui, banyak trader profesional yang menggunakan pengamatan divergensi dari beberapa indikator yang berbeda sebagai salah satu alat konfirmasi sebelum melakukan transaksi. Cara trading dengan pengamatan divergensi tidak hanya digunakan di pasar forex, tetapi juga populer diterapkan di pasar saham dan komoditas karena para pelaku yang menggerakkan harga pasar mempunyai karakteristik yang hampir sama. Dalam artikel ini dicontohkan bagaimana cara trading dengan memanfaatkan divergensi pergerakan harga dan indikator MACD yang cukup efektif.
Divergensi (divergence) adalah keadaan dimana arah pergerakan indikator dan arah pergerakan harga berbeda. Indikator yang dimaksud adalah jenis oscillator yang menunjukkan overbought dan oversold yaitu MACD, RSI, stochastic oscillator, CCI, William%R. Dengan mengamati divergensi tersebut kita bisa memprediksi akan terjadinya pembalikan arah gerakan harga dalam waktu dekat, sesuai dengan arah pergerakan indikator.
Pada keadaan divergensi bearish, pergerakan harganya bullish dengan terbentuknya level-level puncak yang baru, tetapi pergerakan indikatornya berlawanan, gagal membentuk level puncak dan bergerak bearish. Keadaan ini mengisyaratkan bahwa akan terjadi pembalikan arah pergerakan harga bearish dalam waktu dekat. Untuk divergensi bullish keadaannya sama dengan divergensi bearish hanya arah pergerakannya berlawanan.
Divergensi bisa terjadi pada semua time frame trading dan dapat diterapkan pada semua pasangan mata uang dengan baik, hanya saja makin tinggi time frame-nya makin jarang terjadi divergensi. Keuntungan trading dengan cara ini adalah keadaan divergensi yang sangat mudah diamati, dan bagi pengguna platform Metatrader telah tersedia indikatornya yang langsung menunjukkan divergensi pada platform trading.
Berikut contoh pada EUR/USD 15 minutes dengan indikator yang sering digunakan yaitu MACD dengan setup standard (12,26, SMA9).
Dari chart diatas tampak kondisi divergensi bullish. Level support kita tetapkan pada level terendah formasi double bottom yang terbentuk, dan level resistance pada titik pembalikan trend sebelumnya (bullish pendek) yang telah tertembus (break). Dari divergensi yang terjadi dan formasi bar yang terbentuk kita bisa segera menentukan entry point ketika pembalikan ke arah bullish sudah terkonfirmasi, yaitu dengan adanya: 1. pola double bottom, 2. penolakan (rejection) pada level supportnya (formasi candlestick bullish rejection), 3. pin bar yang terbentuk pada formasi price action-nya.
Level stop loss kita tentukan sedikit dibawah support dan take profit pada sekitar level resistance-nya. Risk/reward ratio bisa sekitar 1:1.5 sampai 1:2.
Contoh lain pada EUR/USD 1 minute:
Contoh diatas adalah divergensi bearish dengan konfirmasi entry pada penolakan (rejection) di level resistance-nya (resistance-2), formasi candlestick bearish rejection, dan pola triangle yang terbentuk (triangle simetris dan break kearah bawah / reversal).
Pada dasarnya divergensi adalah sinyal bahwa gerak rally atau gerak kontraksi yang terjadi akan segera berakhir dan berbalik arah. Keadaan divergen bisa terjadi disebabkan buyer/seller terakhir masih mencoba menggerakkan harga keatas/kebawah, sementara mayoritas trader telah berhenti melakukan pembelian/penjualan untuk mengantisipasi terjadinya koreksi harga pasar.
Sumber : www.fxtsp.com
Ame Suzako
Moving Averge ( MA )
Moving average
memperjelas arah trend dengan memperhalus fluktuasi pergerakan harga.
Hal ini dilakukan dengan mengambil rata-rata dari penutupan harga selama
periode tertentu. Misalnya simple moving average (sma) 50-day akan
menjumlahkan harga penutupan selama 50 hari terakhir dan dibagi dengan
50. Harga rata-rata dinamakan moving karena menghitung harga rata-rata
baru pada setiap bar harga. Untuk sma 50-day, setiap harinya harga
penutupan baru akan ditambahkan ke harga total sementara harga awal akan
dikurangkan hingga jumlah harga penutupan yang diperhitungkan tetap
selama 50 hari.
Periode moving average yang populer digunakan dalam trading forex adalah 5-day (data harga penutupan dalam seminggu), 20-day (data harga penutupan sekitar sebulan), 50-day, 100-day dan 200-day. Semakin pendek periode waktu moving average semakin cepat indikator ini bereaksi terhadap perubahan arah trend. Semakin panjang periode waktunya semakin besar efek penghalusan (smoothing), yang ditunjukkan dengan sedikitnya kesalahan sinyal-sinyal yang dihasilkan (whipsaws). Sama dengan garis trend, sudut garis indikator moving average menunjukkan kekuatan arah trend saat ini.Indikator moving average sering disebut juga dengan garis trend otomatis (automated trendline). Setiap periode moving average menunjukkan tingkat trend yang berbeda-beda.

Disamping sma, jenis moving average lainnya yang populer adalah exponential moving average (ema). Ema memberikan bobot lebih pada perubahan harga yang terakhir sehingga lebih tanggap (responsif) terhadap arah perubahan harga. Contoh berikut menggambarkan perbandingan antara sma dan ema:

Dalam prakteknya, para analis sering menggunakan tiga indikator moving average dengan periode yang berbeda-beda. Satu moving average untuk trend jangka pendek (misalnya 5-day), satu lagi untuk trend jangka menengah (misalnya 50-day) dan yang ketiga untuk trend jangka panjang (biasanya 200-day). Moving average memberikan sinyal dari interaksi antar garis indikator tersebut atau antara garis indikator dengan pergerakan harga. Jika Anda menggunakan sebuah indikator moving average, sinyal buy dihasilkan saat penutupan harga berada diatas garis indikator, dan sinyal sell terjadi saat penutupan harga dibawah garis indikator. Moving average dengan periode waktu yang lebih panjang (misalnya sma 100-day) sering kali menunjukkan level-level support (pada uptrend) atau resistance (pada downtrend) yang cukup kuat.

Jika Anda menggunakan dua buah moving average dengan periode yang berbeda, misalnya 5-day dan 21-day maka sinyal buy terjadi bila periode moving average yang lebih pendek memotong periode yang lebih panjang kearah atas, dan sinyal sell terjadi jika periode yang lebih pendek memotong periode yang lebih panjang kearah bawah. Untuk konfirmasi, Anda bisa menggunakan indikator MACD untuk mengantisipasi perpotongan garis kedua indikator tersebut. Contoh kombinasi dua moving average yang populer adalah 5 dan 21-day, 5 dan 55-day, 5 dan 100-day, dan 50 dan 200-day.

Karena moving average terbilang sederhana dan cukup obyektif dalam menentukan trend, maka indikator ini sering digunakan sebagai acuan dalam trading forex.
Sumber : www.forexhit.com :
Ame Suzako
Periode moving average yang populer digunakan dalam trading forex adalah 5-day (data harga penutupan dalam seminggu), 20-day (data harga penutupan sekitar sebulan), 50-day, 100-day dan 200-day. Semakin pendek periode waktu moving average semakin cepat indikator ini bereaksi terhadap perubahan arah trend. Semakin panjang periode waktunya semakin besar efek penghalusan (smoothing), yang ditunjukkan dengan sedikitnya kesalahan sinyal-sinyal yang dihasilkan (whipsaws). Sama dengan garis trend, sudut garis indikator moving average menunjukkan kekuatan arah trend saat ini.Indikator moving average sering disebut juga dengan garis trend otomatis (automated trendline). Setiap periode moving average menunjukkan tingkat trend yang berbeda-beda.
Disamping sma, jenis moving average lainnya yang populer adalah exponential moving average (ema). Ema memberikan bobot lebih pada perubahan harga yang terakhir sehingga lebih tanggap (responsif) terhadap arah perubahan harga. Contoh berikut menggambarkan perbandingan antara sma dan ema:
Dalam prakteknya, para analis sering menggunakan tiga indikator moving average dengan periode yang berbeda-beda. Satu moving average untuk trend jangka pendek (misalnya 5-day), satu lagi untuk trend jangka menengah (misalnya 50-day) dan yang ketiga untuk trend jangka panjang (biasanya 200-day). Moving average memberikan sinyal dari interaksi antar garis indikator tersebut atau antara garis indikator dengan pergerakan harga. Jika Anda menggunakan sebuah indikator moving average, sinyal buy dihasilkan saat penutupan harga berada diatas garis indikator, dan sinyal sell terjadi saat penutupan harga dibawah garis indikator. Moving average dengan periode waktu yang lebih panjang (misalnya sma 100-day) sering kali menunjukkan level-level support (pada uptrend) atau resistance (pada downtrend) yang cukup kuat.
Jika Anda menggunakan dua buah moving average dengan periode yang berbeda, misalnya 5-day dan 21-day maka sinyal buy terjadi bila periode moving average yang lebih pendek memotong periode yang lebih panjang kearah atas, dan sinyal sell terjadi jika periode yang lebih pendek memotong periode yang lebih panjang kearah bawah. Untuk konfirmasi, Anda bisa menggunakan indikator MACD untuk mengantisipasi perpotongan garis kedua indikator tersebut. Contoh kombinasi dua moving average yang populer adalah 5 dan 21-day, 5 dan 55-day, 5 dan 100-day, dan 50 dan 200-day.
Karena moving average terbilang sederhana dan cukup obyektif dalam menentukan trend, maka indikator ini sering digunakan sebagai acuan dalam trading forex.
Sumber : www.forexhit.com :
Ame Suzako
Parabolic SAR ( Stop and Reverse )
Indikator parabolic SAR atau parabolic Stop and Reverse
(disingkat pSAR) adalah salah satu indikator yang dibuat oleh J. Welles
Wilder. Indikator ini sangat cocok digunakan pada kondisi pasar yang
trending dengan tujuan untuk mengetahui momen pembalikan arah trend (reverse). Sesuai dengan namanya, trader lazim menggunakan pSAR untuk memperoleh sinyal exit (exit point), dimana posisinya mesti di-stop, karena trend akan segera berbalik arah (reverse).
Indikator ini bekerja dengan baik pada pasar yang trending dengan kuat, semakin kuat trend semakin akurat. Sebaliknya untuk pasar yang sideways (ranging), indikator ini sering kali menghasilkan sinyal yang salah. Selain itu indikator ini bisa digunakan pada semua time frame.
Berikut contoh tampilan indikator pSAR pada chart EUR/USD 4-hour. Indikator pSAR tampak pada titik-titik berwarna merah.

Parameter pSAR dan penggunaannya
Dalam menentukan titik pembalikan trend, pSAR dihitung berdasarkan parameter harga pasar dan waktu. Dinamakan parabolic karena kurva titik-titik tersebut menyerupai kurva parabola. Prinsip perhitungan indikator ini hampir sama dengan moving average hanya pSAR bergerak dengan percepatan yang lebih tinggi dengan tampilan berupa titik-titik yang posisinya berubah sesuai dengan pergerakan harga.
Seperti tampak pada gambar diatas, ketika pasar uptrend, titik-titik pSAR berada dibawah harga dan ketika downtrend titik-titik pSAR berada diatas harga. Titik-titik pSAR tersebut juga akan berubah posisi ketika terjadi koreksi. Panjang kurva pSAR bergantung pada skala pergerakan harga.
Jika trader telah membuka posisi buy, maka dianjurkan untuk exit ketika harga bergerak dibawah titik pSAR, atau titik pSAR telah berubah dari bawah ke atas (titik B pada gambar atas). Demikian pula jika trader telah membuka posisi sell, maka dianjurkan untuk exit ketika titik pSAR berubah posisi dari atas ke bawah atau harga berada diatas titik pSAR (titik A dan C pada gambar atas).
Parameter pSAR dihitung dengan formula:
SAR(i) = SAR(i-1)+AF x (E-price(i-1)-SAR(i-1)), dimana:
SAR(i-1) adalah nilai titik pSAR pada bar sebelumnya.
AF adalah faktor akselerasi (Acceleration Factor). Nilai default diset pada step = 0.02 dan maximum = 0.2.
E-price(i-1) adalah harga tertinggi atau terendah pada periode sebelumnya.
Trailing stop dengan titik-titik pSAR
Jika Anda terbiasa menggunakan strategi trailing stop untuk memaksimalkan profit, maka dengan indikator pSAR akan lebih efektif dan mudah menentukan level-level stop atau titik-titik exitnya. Jika pasar uptrend, atur level trailing stop Anda ke arah atas sesuai dengan titik-titik pSAR, sedang untuk downtrend, atur level trailing stop ke arah bawah sesuai dengan titik-titik pSAR.
Berikut contoh penggunaan titik-titik pSAR untuk menentukan level trailing stop pada pasar uptrend:

Sumber :
www.forexrealm.com
Ame Suzako
Indikator ini bekerja dengan baik pada pasar yang trending dengan kuat, semakin kuat trend semakin akurat. Sebaliknya untuk pasar yang sideways (ranging), indikator ini sering kali menghasilkan sinyal yang salah. Selain itu indikator ini bisa digunakan pada semua time frame.
Berikut contoh tampilan indikator pSAR pada chart EUR/USD 4-hour. Indikator pSAR tampak pada titik-titik berwarna merah.
Parameter pSAR dan penggunaannya
Dalam menentukan titik pembalikan trend, pSAR dihitung berdasarkan parameter harga pasar dan waktu. Dinamakan parabolic karena kurva titik-titik tersebut menyerupai kurva parabola. Prinsip perhitungan indikator ini hampir sama dengan moving average hanya pSAR bergerak dengan percepatan yang lebih tinggi dengan tampilan berupa titik-titik yang posisinya berubah sesuai dengan pergerakan harga.
Seperti tampak pada gambar diatas, ketika pasar uptrend, titik-titik pSAR berada dibawah harga dan ketika downtrend titik-titik pSAR berada diatas harga. Titik-titik pSAR tersebut juga akan berubah posisi ketika terjadi koreksi. Panjang kurva pSAR bergantung pada skala pergerakan harga.
Jika trader telah membuka posisi buy, maka dianjurkan untuk exit ketika harga bergerak dibawah titik pSAR, atau titik pSAR telah berubah dari bawah ke atas (titik B pada gambar atas). Demikian pula jika trader telah membuka posisi sell, maka dianjurkan untuk exit ketika titik pSAR berubah posisi dari atas ke bawah atau harga berada diatas titik pSAR (titik A dan C pada gambar atas).
Parameter pSAR dihitung dengan formula:
SAR(i) = SAR(i-1)+AF x (E-price(i-1)-SAR(i-1)), dimana:
SAR(i-1) adalah nilai titik pSAR pada bar sebelumnya.
AF adalah faktor akselerasi (Acceleration Factor). Nilai default diset pada step = 0.02 dan maximum = 0.2.
E-price(i-1) adalah harga tertinggi atau terendah pada periode sebelumnya.
Trailing stop dengan titik-titik pSAR
Jika Anda terbiasa menggunakan strategi trailing stop untuk memaksimalkan profit, maka dengan indikator pSAR akan lebih efektif dan mudah menentukan level-level stop atau titik-titik exitnya. Jika pasar uptrend, atur level trailing stop Anda ke arah atas sesuai dengan titik-titik pSAR, sedang untuk downtrend, atur level trailing stop ke arah bawah sesuai dengan titik-titik pSAR.
Berikut contoh penggunaan titik-titik pSAR untuk menentukan level trailing stop pada pasar uptrend:
Sumber :
www.forexrealm.com
Ame Suzako
Heiken Ashi, Indikator
$3000.. hehehehee lumayan... bisa gak trading sebulan uy...
indikator ini saya dapet di sebuah forum yg saya lupa pa nama forum tsb.. buat forum tsb n moderatornya 'saya ucapkan terimakasih.
indikator ini tidak memerlukan teknik khusus.. cukup hanya jika anda percaya sama ini indikator , dan jgn percaya sama perasaan yg tak menentu... maka saya rasa resiko rugi anda akan terminimalisir dan untung anda akan maksimal.
contoh gambar diatas merupakan standar paabrik indi tsb.. akan tapi saya kombinasikan sama indikator yg laen.. seperti ZIGZAG nrp, ADX,parabolic sar,bolingerbans, dan lwma3 low dan high
contoh gambar
jika anda ikutin saran saya yg diatas saya yakin n mudah mudahan anda selalu profit... dan bagi para master mohon masukannya jika ada yg kurang.
sebelum mencoba di live silahkan anda tes dg virtual terlebih dahulu indi ini selama 1 minggu dan rasakan manfaat indi tsb serta mengetahui kekurangan indi ini... JANGAN LANGSUNG ANDA COBA LIVE saya takut karena anda belum mengenal karakter indi ini maka lose menanti anda.
orang bijak berpikir dahulu sebelum melakukan
gambar diatas merupakan ciri day trader yg selama ini cara yg saya suka
apabila anda mau scalping .... cukup dg tf15.. melototin trus tu chart ,untuk menunggu zigzag nrp keluar..... jika sudah muncul cepat cepatla op dg arah zigzag,... saya jamin deh... dapet $$$$$$$$$ tp terserah anda
silahkan anda download file tsb...
DOWNLOAD file 1
DOWNLOAD file2
DOWNLOAD file3
semoga sukses.
indikator forex - forex indonesia - trading forex - forum forex - belajar forex - FOREX - forex broker - forex online - on line forex - robot forex - forex signal - metatrader - metatrader 4 - forex trading system - forex scalping - forex market - forex gratis - best forex indicator
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
indikator ini saya dapet di sebuah forum yg saya lupa pa nama forum tsb.. buat forum tsb n moderatornya 'saya ucapkan terimakasih.
indikator ini tidak memerlukan teknik khusus.. cukup hanya jika anda percaya sama ini indikator , dan jgn percaya sama perasaan yg tak menentu... maka saya rasa resiko rugi anda akan terminimalisir dan untung anda akan maksimal.
contoh gambar diatas merupakan standar paabrik indi tsb.. akan tapi saya kombinasikan sama indikator yg laen.. seperti ZIGZAG nrp, ADX,parabolic sar,bolingerbans, dan lwma3 low dan high
contoh gambar
jika anda ikutin saran saya yg diatas saya yakin n mudah mudahan anda selalu profit... dan bagi para master mohon masukannya jika ada yg kurang.
sebelum mencoba di live silahkan anda tes dg virtual terlebih dahulu indi ini selama 1 minggu dan rasakan manfaat indi tsb serta mengetahui kekurangan indi ini... JANGAN LANGSUNG ANDA COBA LIVE saya takut karena anda belum mengenal karakter indi ini maka lose menanti anda.
orang bijak berpikir dahulu sebelum melakukan
gambar diatas merupakan ciri day trader yg selama ini cara yg saya suka
apabila anda mau scalping .... cukup dg tf15.. melototin trus tu chart ,untuk menunggu zigzag nrp keluar..... jika sudah muncul cepat cepatla op dg arah zigzag,... saya jamin deh... dapet $$$$$$$$$ tp terserah anda
silahkan anda download file tsb...
DOWNLOAD file 1
DOWNLOAD file2
DOWNLOAD file3
semoga sukses.
indikator forex - forex indonesia - trading forex - forum forex - belajar forex - FOREX - forex broker - forex online - on line forex - robot forex - forex signal - metatrader - metatrader 4 - forex trading system - forex scalping - forex market - forex gratis - best forex indicator
gambar 2012
gmbr diatas adalah perpaduan berbagai indikator yg ada di blog ini!!!
dan dari indikator diatas saya tau kapan entry/exit dari market DOWNLOAD
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Simple Scalping EA
Description:
Very simple scalping EA, no Indicators. Logic is based on very fast price movements.Here is my scalping EA idea works most of the time, but needs to be better programmed.
If some1 can help to modify it so it can be used on many pairs at the same time.
Idea is very simple, no indicators at all.
it keeps updating BuyStop and SellStop orders with each price movements.
And when the market becomes heavy or news it won't get a chance to get updated quick... which means very fast price movement in one of the directions. This practically guarantees 10-15 pips movement.
If some1 can help me to code it properly it would be very cool.. For the last 3 month i have a ratio of this working 4-6 wins vs 1 loss. ( and i noticed the loss mostly because i programmed wrong). Stop Loss should be adjusted to 5-7 pips ( if broker allowed)Works fine on Alpari US.
PS. For some reason and i cant identify the problem- after executing the order it may not send another order till i disable and re=enable EA ( gotta be a bug somewhere). Would appreciated any help.)
oops. One more thing, i used the coding template from IBFX scripts and modified for my use.
//---------------------------
//| Scalping EA.mq4 | //| Copyright ?2011, MetaQuotes Software Corp. | //| http://www.metaquotes.net | //+------------------------------------------------------------------+ #property copyright "Interbank FX, LLC" //( original template) #property copyright "PicassoInActions , 123@donothing.us" //( original idea) #include <stderror.mqh> //+------------------------------------------------------------------+ //| Global Variables / Includes | //+------------------------------------------------------------------+ datetime CurrTime = 0; datetime PrevTime = 0; int TimeFrame = 0; int Shift = 1; int SymDigits; double SymPoints; int POS_n_BUY; int POS_n_SELL; int POS_n_BUYSTOP; int POS_n_SELLSTOP; int POS_n_total; double OrderLevelB; double OrderLevelS; //+------------------------------------------------------------------+ //| Expert User Inputs | //+------------------------------------------------------------------+ extern double Lots = 0.01; extern double MinLots = 0.01; extern int magic = 1111; extern int TakeProfit = 30; extern int StopLoss = 50; extern int MaxBuyPos = 1;//maximum Buy positions at once extern int MaxSellPos = 1;//maximum Sell positions at once extern int Distance = 100; extern int Near = 15; extern int Far = 100; //+------------------------------------------------------------------+ //| Expert initialization function | //+------------------------------------------------------------------+ int init() { return(0); } //+------------------------------------------------------------------+ //| Expert deinitialization function | //+------------------------------------------------------------------+ int deinit() { return(0); } //+------------------------------------------------------------------+ //| Expert start function | //+------------------------------------------------------------------+ int start() { int cnt, total; int ticketB, ticketS, ticketC,ticketM;//ticket number of Buy,Sell,Close,Modify int MaxOpenPos = MaxBuyPos + MaxSellPos; //----Count Positions count_position(); RefreshRates(); //----Open Pending Orders if(POS_n_BUYSTOP + POS_n_BUY < MaxBuyPos && POS_n_SELL == 0) { ticketB=OrderSend(Symbol(),OP_BUYSTOP,Lots,Ask+Distance*Point,1,0,0,"Scalping EA",magic,0,Green); if(ticketB>0) { if(OrderSelect(ticketB,SELECT_BY_TICKET,MODE_TRADES)) Print("BUY Stop order sent : ",OrderOpenPrice()); } else { Print("Error sending BUY Stop order : ",GetLastError()); return(0); } return(0); } if(POS_n_SELLSTOP + POS_n_SELL < MaxSellPos && POS_n_BUY == 0) { ticketS=OrderSend(Symbol(),OP_SELLSTOP,Lots,Bid-Distance*Point,1,0,0,"Scalping EA",magic,0,Red); if(ticketS>0) { if(OrderSelect(ticketS,SELECT_BY_TICKET,MODE_TRADES)) Print("SELL Stop order sent : ",OrderOpenPrice()); } else { Print("Error sending SELL Stop order : ",GetLastError()); return(0); } return(0); } //---- delete the useless positions && achieve the hidden TakeProfit and StopLoss total=OrdersTotal(); for(cnt=total-1;cnt>=0;cnt--) { OrderSelect(cnt, SELECT_BY_POS, MODE_TRADES); if(OrderMagicNumber() != magic) break; //---- if(OrderType()==OP_BUYSTOP && POS_n_SELL != 0 && OrderSymbol() == Symbol()) OrderDelete(OrderTicket()); if(OrderType()==OP_SELLSTOP && POS_n_BUY != 0 && OrderSymbol() == Symbol()) OrderDelete(OrderTicket()); //---- RefreshRates(); if(OrderType()==OP_BUY && OrderSymbol() == Symbol()) { if(Ask >= OrderOpenPrice() + TakeProfit*Point || Bid <= OrderOpenPrice() - StopLoss*Point) ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Bid,3,Violet); // if(Bid <= OrderOpenPrice() - StopLoss*Point) {Lots=2*Lots;ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Bid,3,Violet);} // if(Ask >= OrderOpenPrice() + TakeProfit*Point) {Lots=MinLots;ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Bid,3,Violet);} if(ticketC <= 0) {Print("Error closing order : ",GetLastError()); } } //---- RefreshRates(); if(OrderType()==OP_SELL && OrderSymbol() == Symbol()) { if(Bid <= OrderOpenPrice() - TakeProfit*Point || Ask >= OrderOpenPrice() + StopLoss*Point) ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Ask,3,Violet); // if(Ask >= OrderOpenPrice() + StopLoss*Point) {Lots=2*Lots;ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Ask,3,Violet);} // if(Bid <= OrderOpenPrice() - TakeProfit*Point) {Lots=MinLots;ticketC = OrderClose(OrderTicket(),OrderLots(),Ask,3,Violet);} if(ticketC <= 0) {Print("Error closing order : ",GetLastError()); } } } //----Update Pending Orders in accordance with Price Movements RefreshRates(); total=OrdersTotal(); for(cnt=total-1;cnt>=0;cnt--) { OrderSelect(cnt, SELECT_BY_POS, MODE_TRADES); if(OrderMagicNumber() != magic) break; //---- if(OrderType()==OP_BUYSTOP && OrderSymbol() == Symbol()) { if((OrderOpenPrice()-Ask)<=Point*Near || (OrderOpenPrice()-Ask)>=Point*Far ) { ticketM=OrderModify(OrderTicket(),Ask+Distance*Point,0,0,0,CLR_NONE ); if(ticketM <= 0) {Print("Error modify order : ",GetLastError()); } } } //---- if(OrderType()==OP_SELLSTOP && OrderSymbol() == Symbol()) { if((Bid-OrderOpenPrice())<=Point*Near || (Bid-OrderOpenPrice())>=Point*Far ) { ticketM=OrderModify(OrderTicket(),Bid-Distance*Point,0,0,0,CLR_NONE ); if(ticketM <= 0) {Print("Error modify order : ",GetLastError()); } } } } } //+------------------------------------------------------------------+ //| Seperate Functions | //+------------------------------------------------------------------+ void count_position() { POS_n_BUY = 0; POS_n_SELL = 0; POS_n_BUYSTOP = 0; POS_n_SELLSTOP = 0; for( int i = 0 ; i < OrdersTotal() ; i++ ) { if( OrderSelect( i, SELECT_BY_POS, MODE_TRADES ) == false || OrderMagicNumber() != magic) break; // if( OrderSymbol() != Symbol() ) continue; if( OrderType() == OP_BUY && OrderSymbol() == Symbol() && OrderMagicNumber()==magic) POS_n_BUY++; else if( OrderType() == OP_SELL && OrderSymbol() == Symbol() && OrderMagicNumber()==magic) POS_n_SELL++; else if( OrderType() == OP_BUYSTOP && OrderSymbol() == Symbol() && OrderMagicNumber()==magic) { POS_n_BUYSTOP++; OrderLevelB = OrderOpenPrice(); } else if( OrderType() == OP_SELLSTOP && OrderSymbol() == Symbol() && OrderMagicNumber()==magic) { POS_n_SELLSTOP++; OrderLevelS = OrderOpenPrice(); } } POS_n_total = POS_n_BUY + POS_n_SELL + POS_n_BUYSTOP + POS_n_SELLSTOP; }
//-----------------------------
http://codebase.mql4.com/7881
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Code Technical Indicators mql4
Technical Indicators
Technical Indicator is
a result of mathematical calculations based on indications of price
and/or volume. The values obtained are used to forecast probable price
changes. There are many technical indicators already developed. Some of
them are described in the subsections here:
- Volumes
Accumulation/Distribution
Money Flow Index
On Balance Volume
Price and Volume Trend
Volume Rate of Change
- Oscillators
Average True Range
Chaikin Oscillator
Chaikin Volatility
DeMarker
Detrended Price Oscillator
Elder-Rays
Envelopes
Force Index
Ichimoku Kinko Hyo
Momentum
Moving Average Convergence/Divergence
Moving Average of Oscillator
Price Rate of Change
Relative Strength Index
Relative Vigor Index
Stochastic Oscillator
Ultimate Oscillator
Williams` Percent Range - Trends Indicators
Average Directional Movement Index
Accumulation Swing Index
Bollinger Bands
Commodity Channel Index
Mass Index
Moving Average
Pivot Points Support and Resistance Lines
Parabolic SAR
Standard Deviation
ZigZag
Williams` Accumulation/Distribution - Bill Williams
Acceleration/Deceleration
Alligator
Awesome Oscillator
Fractals
Gator Oscillator
Market Facilitation Index
Astiina, by: Amie Suzako
Envelope Moving Average
Setelah kita membahas moving average, mari kita bahas modifikasi berikutnya dari moving average. Namanya adalah moving average envelope.
Konsepnya sangat sederhana, yakni hanya menambah dan mengurangi moving
average biasa dengan persentase tertentu. Untuk lebih jelasnya, mari
kita lihat gambar berikut :
Pada gambar di atas, maka garis warna merah adalah moving average
30 biasa. Sedangakan garis biru adalah envelope 3%-nya. Envelope bagian
atas dapat dicari dengan menambahkan moving average biasa tersebut
(garis merah) dengan 3%, atau bisa juga dengan mengkalikan nilai dari
moving average biasa tersebut dengan 1,03. Sedangkan garis envelope yang
dibawah nilainya dapat dicari dengan mengkalikan nilai dari moving
average biasa dengan 0,97.
Metode seperti ini banyak digunakan para analis teknikal untuk
menentukan zona beli dan jual. Pada banyak buku analisis teknikal,
envelope banyak digunakan untuk menentukan target price. Envelope yang
banyak diperkenalkan dalam buku analisis teknikal adalah envelope 3 % –
5%, namun jika di Indonesia sepertinya envelope yang pas adalah sekitar
10% Jika harga sudah menyentuh envelope bagian atas, segera jual dan
ambil profit anda. Namun jika harga sudah menyentuh envelope bawah dan
kembali masuk ke dalam envelope, itu dapat dijadikan sebagai sinyal buy.
Cara ini efektif jika kita mengetahui periode moving average yang tepat
dan jumlah persentase dari envelopenya. Cara ini umumnya digunakan
untuk menangkap tren jangka pendek. Berikut adalah contohnya :
Metode seperti tadi susah sekali diterapkan. Berikut akan saya
bagikan tips untuk menggunakan envelope untuk menangkap sebuah
pergantian tren jangka menengah. Saya membalik kedua fungsi yang
disebutkan di atas, yakni belilah jika harga sudah menembus envelope
atasnya dan jual ketika harga menembus envelope bagian bawah. Saya
umumnya menggunakan envelope 3%. Cara ini sangat efektif untuk menangkap
tren jangka menengah hingga panjang. Cara simpel seperti mencegah anda
untuk trading terlalu sering (overtrade), sehingga anda dapat bersantai
sembari menunggangi tren dari saham anda. Berikut contohnya :
Pada BMTR, saya menggunakan Simple Moving Average 50 dan envelope
3%. Buy jika harga menembus envelope atas, sell jika menembus enevelope
bawah. Sekrang coba anda hitung berapa profit yang dapat anda hasilkan
dari cara sederhana ini. Fantastis bukan… Anda bisa menggabungkan dengan
analisa tren sederhana yang sudah saya ajarkan pada posting saya
sebelumnya. Bisa juga anda gabungkan dengan chart pattern (akan segera diposting). Bagi anda yang sudah menguasai chart pattern, ada banyak sekali chart pattern yang kebetulan juga menunjukkan titik buy dan sell yang sama dengan titik buy dan sell dari envelope BMTR.
Memang dengan cara ini anda tidak akan dapat menjual pada titik
yang tertinggi, dan membeli pada titik terandah. Tapi sekali lagi saya
ingatkan, bahwa tidak ada analisis teknikal yang juga dapat melakukannya
kecuali karena keberuntungan. Patut diingat juga sekali lagi, tentukan
dulu periode moving average yang tepat dulu serta persentase
envelopenya.Refeense: http://superiorinvestment.wordpress.com/dasar-charting/envelope-bands/moving-average-envelope/
Astiina, by: Amie Suzako
Ea YEA3 - simple Candle
Description:
Strategy is based on simple rules. It can work on any currency pair. Best results are obtained with the lowest set TS. The strategy works with any broker, but works better with brokers who allow you to set the low TS.If the closing price of the previous candle was higher than the current - EA opens sell.
If the closing price of the previous candle was lower than the current - EA will open buy.
Out of the market with TP or TS.
//-------------------------------------------------------------------------// #define SIGNAL_NONE 0 #define SIGNAL_BUY 1 #define SIGNAL_SELL 2 #define SIGNAL_CLOSEBUY 3 #define SIGNAL_CLOSESELL 4 #property copyright "Copyright 2011, Adam Pogorzelski" #property link "http://www.afterburner.pl/" extern int MagicNumber = 1972; extern bool SignalMail = False; extern bool EachTickMode = False; extern double Lots = 5.0; extern int Slippage = 3; extern bool UseStopLoss = True; extern int StopLoss = 500; extern bool UseTakeProfit = False; extern int TakeProfit = 10; extern bool UseTrailingStop = True; extern int TrailingStop = 6; int BarCount; int Current; bool TickCheck = False; //+------------------------------------------------------------------+ //| expert initialization function | //+------------------------------------------------------------------+ int init() { BarCount = Bars; if (EachTickMode) Current = 0; else Current = 1; return(0); } //+------------------------------------------------------------------+ //| expert deinitialization function | //+------------------------------------------------------------------+ int deinit() { return(0); } //+------------------------------------------------------------------+ //| expert start function | //+------------------------------------------------------------------+ int start() { int Order = SIGNAL_NONE; int Total, Ticket; double StopLossLevel, TakeProfitLevel; if (EachTickMode && Bars != BarCount) TickCheck = False; Total = OrdersTotal(); Order = SIGNAL_NONE; //+------------------------------------------------------------------+ //| Variable Begin | //+------------------------------------------------------------------+ double Buy1_1 = iClose(NULL, 0, Current + 0); double Buy1_2 = iOpen(NULL, 0, Current + 1); double Sell1_1 = iClose(NULL, 0, Current + 0); double Sell1_2 = iOpen(NULL, 0, Current + 1); //+------------------------------------------------------------------+ //| Variable End | //+------------------------------------------------------------------+ //Check position bool IsTrade = False; for (int i = 0; i < Total; i ++) { OrderSelect(i, SELECT_BY_POS, MODE_TRADES); if(OrderType() <= OP_SELL && OrderSymbol() == Symbol()) { IsTrade = True; if(OrderType() == OP_BUY) { //Close //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal Begin(Exit Buy) | //+------------------------------------------------------------------+ //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal End(Exit Buy) | //+------------------------------------------------------------------+ if (Order == SIGNAL_CLOSEBUY && ((EachTickMode && !TickCheck) || (!EachTickMode && (Bars != BarCount)))) { OrderClose(OrderTicket(), OrderLots(), Bid, Slippage, MediumSeaGreen); if (SignalMail) SendMail("[Signal Alert]", "[" + Symbol() + "] " + DoubleToStr(Bid, Digits) + " Close Buy"); if (!EachTickMode) BarCount = Bars; IsTrade = False; continue; } //Trailing stop if(UseTrailingStop && TrailingStop > 0) { if(Bid - OrderOpenPrice() > Point * TrailingStop) { if(OrderStopLoss() < Bid - Point * TrailingStop) { OrderModify(OrderTicket(), OrderOpenPrice(), Bid - Point * TrailingStop, OrderTakeProfit(), 0, MediumSeaGreen); if (!EachTickMode) BarCount = Bars; continue; } } } } else { //Close //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal Begin(Exit Sell) | //+------------------------------------------------------------------+ //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal End(Exit Sell) | //+------------------------------------------------------------------+ if (Order == SIGNAL_CLOSESELL && ((EachTickMode && !TickCheck) || (!EachTickMode && (Bars != BarCount)))) { OrderClose(OrderTicket(), OrderLots(), Ask, Slippage, DarkOrange); if (SignalMail) SendMail("[Signal Alert]", "[" + Symbol() + "] " + DoubleToStr(Ask, Digits) + " Close Sell"); if (!EachTickMode) BarCount = Bars; IsTrade = False; continue; } //Trailing stop if(UseTrailingStop && TrailingStop > 0) { if((OrderOpenPrice() - Ask) > (Point * TrailingStop)) { if((OrderStopLoss() > (Ask + Point * TrailingStop)) || (OrderStopLoss() == 0)) { OrderModify(OrderTicket(), OrderOpenPrice(), Ask + Point * TrailingStop, OrderTakeProfit(), 0, DarkOrange); if (!EachTickMode) BarCount = Bars; continue; } } } } } } //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal Begin(Entry) | //+------------------------------------------------------------------+ if (Buy1_1 > Buy1_2) Order = SIGNAL_BUY; if (Sell1_1 < Sell1_2) Order = SIGNAL_SELL; //+------------------------------------------------------------------+ //| Signal End | //+------------------------------------------------------------------+ //Buy if (Order == SIGNAL_BUY && ((EachTickMode && !TickCheck) || (!EachTickMode && (Bars != BarCount)))) { if(!IsTrade) { //Check free margin if (AccountFreeMargin() < (1000 * Lots)) { Print("We have no money. Free Margin = ", AccountFreeMargin()); return(0); } if (UseStopLoss) StopLossLevel = Ask - StopLoss * Point; else StopLossLevel = 0.0; if (UseTakeProfit) TakeProfitLevel = Ask + TakeProfit * Point; else TakeProfitLevel = 0.0; Ticket = OrderSend(Symbol(), OP_BUY, Lots, Ask, Slippage, StopLossLevel, TakeProfitLevel, "Buy(#" + MagicNumber + ")", MagicNumber, 0, DodgerBlue); if(Ticket > 0) { if (OrderSelect(Ticket, SELECT_BY_TICKET, MODE_TRADES)) { Print("BUY order opened : ", OrderOpenPrice()); if (SignalMail) SendMail("[Signal Alert]", "[" + Symbol() + "] " + DoubleToStr(Ask, Digits) + " Open Buy"); } else { Print("Error opening BUY order : ", GetLastError()); } } if (EachTickMode) TickCheck = True; if (!EachTickMode) BarCount = Bars; return(0); } } //Sell if (Order == SIGNAL_SELL && ((EachTickMode && !TickCheck) || (!EachTickMode && (Bars != BarCount)))) { if(!IsTrade) { //Check free margin if (AccountFreeMargin() < (1000 * Lots)) { Print("We have no money. Free Margin = ", AccountFreeMargin()); return(0); } if (UseStopLoss) StopLossLevel = Bid + StopLoss * Point; else StopLossLevel = 0.0; if (UseTakeProfit) TakeProfitLevel = Bid - TakeProfit * Point; else TakeProfitLevel = 0.0; Ticket = OrderSend(Symbol(), OP_SELL, Lots, Bid, Slippage, StopLossLevel, TakeProfitLevel, "Sell(#" + MagicNumber + ")", MagicNumber, 0, DeepPink); if(Ticket > 0) { if (OrderSelect(Ticket, SELECT_BY_TICKET, MODE_TRADES)) { Print("SELL order opened : ", OrderOpenPrice()); if (SignalMail) SendMail("[Signal Alert]", "[" + Symbol() + "] " + DoubleToStr(Bid, Digits) + " Open Sell"); } else { Print("Error opening SELL order : ", GetLastError()); } } if (EachTickMode) TickCheck = True; if (!EachTickMode) BarCount = Bars; return(0); } } if (!EachTickMode) BarCount = Bars; return(0); } //+------------------------------------------------------------------+
Reference: http://codebase.mql4.com/7908
Astiina, by: Amie Suzako
Subscribe to:
Posts (Atom)



