Chart Live

Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

Puncak Adam (Gunung Samanala)

Puncak Adam

Puncak Adam (Gunung Samanala)
Gunung Sri Pada

Pemandangan Sri Pada dari jauh
Ketinggian 2.243 m (7.359 ft)
Lokasi
Lokasi Sabaragamuwa (Sri Lanka)
Pegunungan Samanala
Koordinat 6°48′41″N 80°29′59″E
Puncak Adam (juga dikenal dengan Gunung Adam; Sinhala Samanalakanda - සමනළ කන්ද "gunung kupu-kupu", Tamil Sivanolipatha Malai - சிவனொலி பாதமலை), berketinggian 2.243 m (7,359 kaki) dan terletak di tengah-tengah pulau Sri Lanka. Ia juga dikenal sebagai Sri Pada "tapak kaki suci", di mana ia merujuk kepada wujud dari sebuah batu yang mempunyai lekukan seperti jejak kaki sepanjang 1.8 meter di atas puncak gunung. Dalam pemahaman penganut Buddha, kesan jejak kaki itu dianggap sebagai jejak kaki Buddha, manakala dalam tradisi Hindu ia dianggap sebagai kesan jejak kaki dewa Syiwa dan bagi penganut Islam, serta sebagian penganut Yahudi dan Kristen ia dianggap sebagai kesan tapak kaki Nabi Adam ketika permulaan beliau diturunkan ke bumi atas perintah Allah.

Geografi

Gunung tersebut terletak di bagian selatan kawasan Pegunungan Tengah Sri Lanka, dalam daerah Ratnapura, Provinsi Sabaragamuwa - kira-kira 40 km timur laut kota Ratnapura. Keseluruhan sekitar kawasan ini merupakan hutan lebat dan berbukit, dengan gunung-gunung yang memiliki ukuran yang hampir sama. Kawasan/wilayah di sekekeliling gunung merupakan kawasan habitat dan populasi bagi kehidupan liar, di antaranya ialah gajah, harimau dan beberapa spesies endemik yang lain.

Medan

Dalam perjalanan untuk mendaki gunung, seseorang pendaki harus melalui 6 medan dakian (Ratnapura-Palabaddala, Hatton-Nallathanni, Kuruwita-Erathna, Murraywatte, Mookuwatte & Malimboda). Medan Nallathanni & Palabaddala merupakan medan dakian yang cukup popular. Jalan Kuruwita-Erathna kadang kala juga ikut popular. Manakala 3 medan yang lain adalah jarang digunakan. Setiap medan biasanya akan bertemu pada medan dakian Palabaddala di pertengahan, dan menjadi 1 medan saja untuk menuju ke puncak. Pelayanan bus melayani rute Nallanthanni ke Hatton, Palabaddala ke Ratnapura & Erathna ke Kuruwita. Agak susah untuk meneruskan perjalanan di dalam hutan hanya dengan berjalan kaki. Kebanyakan dari pengunjung hanya akan melalui perjalanan dengan jalan kaki dengan meggunakan medan Hatton, di mana ini akan dapat memperpendek jarak lebih dari 5 kilometer, walaupun medan ini memiliki lereng yang lebih curam dibandingkan dengan medan yang lain.

Penamaan

Pemandangan matahari terbit di Puncak Adam
Gunung ini memiliki nilai sejarah tersendiri bagi berbagai kalangan masyarakat yang menetap di dalam wilayah dan di sekitar pergunungan, maka terdapat banyak teori/mitos yang digunakan untuk merujuk kepada tempat ini misalnya:-
Sri Pada, berasal dari bahasa Sanskerta, yang digunakan oleh Orang Sinhala dalam konteks keagamaannya. Nama ini turut dipahami di Pāli, dan mungkin diterjemahkan secara kasar sebagai "jejak kaki suci". Ia dirujuk sebagai suatu kesan jejak kaki yang terdapat di puncak gunung ini, yang dipercaya sebagai kesan jejak kaki pengasas ajaran Buddhisme. Tradisi lain yang cukup terkenal dan popular adalah merujuk kepada kesan jejak kaki Nabi Adam, manusia pertama yang diturunkan ke dunia oleh Allah, juga sebagai Nabi dan Rasul pertama buat penganut Islam, Kristen dan Yahudi.
Shivanolipatha Malai dan Shiva padam adalah dua nama dalam bahasa Tamil yang memiliki maksud yang serupa, tetapi kedua-duanya merujuk kepada kesan jejak kaki dewa Syiwa dalam pandangan penganut Hindu, berbeda dengan pandangan penganut Buddha.
Nama gunung ini dalam bahasa Sinhala adalah Samanalakanda, yakni merujuk kepada dewa Saman, yang dikatakan pernah menetap di gunung ini pada zaman dahulu, atau juga merujuk kepada kupu-kupu (samanalayā) yang sentiasa berkunjung ke gunung ini ketika musim migrasinya ke wilayah tersebut.
Nama bersejarah lain menurut penduduk setempat adalah Ratnagiri ("bukit permata"), Samantakuta ("Puncak Saman"), Svargarohanam ("mendaki ke surga"), Gunung Rohana dan variasi turun-temurun Rohana.

Gunung Suci

Bayang-bayang di sebelah barat
Perkampungan Maskeliya yang terletak di kaki gunung, tempat dim ana bermulanya proses dakian ke Puncak Adam
Puncak Adam telah sekian lama dianggap sebagai salah satu jejak suci bagi penganut agama Buddha, Hindu, Islam, Kristen dan Yahudi. Ia dianggap sebagai suatu pedoman yang lebih spesifik khususnya berkaitan dengan adanya kesan jejak kaki suci yang ada di puncaknya dan faktor sejarah dan merupakan tempat yang pernah dikunjungi oleh banyak pengunjung dan pengembara terkenal pada masa lalu. Pada awal tahun 1910, Encyclopædia Britannica menyatakan[1]
Untuk tempo masa yang lama Puncak Adam telah menjadi gunung tertinggi di Ceylon, tetapi berdasarkan kajian dan perhitungan ketinggian, maka tingginya hanya 7353 kaki di permukaan laut. Puncak ini telah menjadi tempat yang ideal untuk dijadikan resor untuk bepergian dari sebagian tempat di bagian timur. Sebuah batu berongga mulia yang berada di puncak gunung dikatakan sebagai kesan jejak kaki dewa Syiwa bagi penganut Hindu, manakala bagi penganut Buddha ia dianggap sebagai kesan jejak kaki Buddha, bagi umat Islam dianggap sebagai kesan jejak kaki Nabi Adam a.s., manakala bagi umat Kristen Portugis, diartikan sebagai dua konflik tuntutan yang berbeda, satu dianggap sebagai kesan jejak kaki Santo Thomas dan satu lagi dianggap sebagai kesan jejak kaki dari Candace, ratu Habsyah. Kesan jejak kaki tersebut diletakkan di bawah atap yang kokoh, dan dijaga oleh para pendeta yang menetap di vihara sekitar setengah perjalanan ke atas gunung, di mana mereka menjadi penjaga makam yang terdapat di puncak gunung.
 
Astiina, by: Amie Suzako

Siddhārtha Gautama Buddha


Patung Buddha dari Sarnath sejak abad ke-4 M
Lahir c. 563 SM [1]
Lumbini (sekarang di Nepal)
Meninggal c. 483 SM (80 tahun) atau 411 dan 400 SM
Kushinagar, Uttar Pradesh (sekarang di India)
Suku Shakya
Dikenal karena Pendiri agama Buddha
Pendahulu Buddha Kassapa
Pengganti Buddha Maitreya
Bagian dari serial
Agama Buddha

Lotus75.png
Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis
Konsep ajaran agama Buddha
Empat Kesunyataan Mulia
Delapan Jalan Utama
Pancasila · Tuhan
Nirvana · Tri Ratna
Ajaran inti
Tiga Corak Umum
Samsara · Kelahiran kembali · Sunyata
Paticcasamuppada · Karma
Tokoh penting
Siddharta Gautama
Siswa utama · Keluarga
Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha · Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi
Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara · Asia Timur
Tibet · India dan Asia Tengah
Indonesia · Barat
Sekte-sekte agama Buddha
Theravada · Mahayana
Vajrayana · Sekte Awal
Kitab Suci
Sutta · Vinaya · Abdhidahamma
Dharma wheel 1.png
Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhārtha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[2] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) pada masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[3] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.
Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini "keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha."[4]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Relief kelahiran Pangeran Siddhartha. Dari kuil Zen You Mitsu, Tokyo.

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.
Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:
  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)
Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:
  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Pangeran Siddhartha melihat empat hal yang mengubah hidupnya.
Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta izin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi" yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.
Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.
Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrem itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Pangeram Siddharta mencukur rambutnya dan menjadi pertapa, relief Borobudur.
Patung Buddha dari Gandhara, abad ke-1 atau abad ke-2.
Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:
Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.
Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa di Taman Rusa
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Sang Buddha menjelang Parinirwana
Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu
  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu
  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.
Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna".
Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.
Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah di dalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

Wujud dan kehadiran Buddha

Sang Buddha tidak hanya dapat mengetahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan membebaskan diri dari hal-hal duniawi/menjalani hidup dengan cara bertapa. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diri-Nya dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.


Astiina, by: Amie Suzako

Nature of The Universe

Nature of the Universe (Jabarut, Malakut, Rabbani)
Opinions SufiSufism "So, when I have perfected (it happened), and I have breathed the spirit (creation)-I into it, you submit to him by prostrating". (Surah al-Hijr: 29). If the scholars of fiqh only divides two worlds, namely the natural and supernatural Shahadah, the Sufis divide nature into various levels. Division of magnitude remains the same, only divided on the nature and the supernatural Shahadah absolute absolute. In between the two absolute nature exists between nature (Barzakh). Nature is already entered the territory Barzakh invisible realm. Only nature is divided in two. First, mudhaf supernature, supernature which is relatively closer to nature Shahadah. Ibn Arabi mitsal call of nature, while al-Ghazali hayal call of nature, which are both interpreted the imaginal world by William C. Chittik (of this nature will be discussed separately). Second, other occult nature, which is closer to the supernatural absolute, that is natural malakut, jabarut nature, to nature and natural wahidiyat actual Ahadiyat can no longer be called natural. Because, do not enter again in the category of ma God Siwa, as discussed in the article last week. Sufis are not as familiar with the supernatural in the sense of nature beyond human cognitive ability to understand or nature of unidentified (unidentifying world). Supernature by the Sufis is not something very strange. Nature is nature supernatural to those who were behind the hijab. When the veil is already open (mukasyafah), it's gone it's magic. If still there, which materialized only fixed entities (al-al-tsabitah a'yan). This too has been identified in two categories, namely wahidiyat entity that can still be identified by the names (al-asthma) and his ahadiyat that are not identified or referred to the supernatural absolute (asrar al asrar / the sacred of the sacred). In contrast to those jurists who seemed to give very broad area of ​​natural magic, which is in addition to the entry of natural categories Shahadah, the natural world we inhabit it. The Sufis do not mendikotomikan Shahadah between nature and the supernatural. Ibn Arabi was among the Sufis who think like that. For Ibn Arabi, nature Shahadah.

Four Parallel Univers >

Maszanet.blogspot.com

Four Parallel Universe (2, Nature of The Universe)

Four Parallel Universe According to Max Tegmark, the physicists have set there are 4 levels of the parallel-parallel universe.Level I: Beyond Our Cosmic Horizon: the parallel universe theory is the smallest level kontoversialnya.Teori stated that parallel universe we can not see because it is beyond the horizon line of our universe. Analogues such as we see the ship at sea. We can not see the ship when she is outside the horizon. But if the ship is approaching us, and enter the horizon, we will be able to see the ship that little by little. Parallel Universe by physicist level I described that our universe is like a bubble of air which jostle each other in a space called the universe.

Level II: Other Postiflation Bubbles: This level is declared, when the universe at the level I can be grouped into a multiverse, then this universe there are many multiverse. This theory is based on the Eternal Chaotic Inflation theory, which states that the universe continues to expand our growing since the big bang to the present. This theory states that we can not see the multiverse forever more because of the rapid development of the universe which mediates the multiverse.

Level III: Quantum Many World: This theory states that nature is all around us other semsta! This theory evolved from the theory of quantum mechanics which states that random quantum processes cause the universe branched banyaknnya possibilities occur. The fundamental difference in levels I and III are the location of the same universe with the universe kita.Level I declare that the universe is the same as our universe we are beyond the horizon, while the level III said the same universe with our universe we are in other quantum branches. Level III is a parallel universe theory of the most high-controversial, because the theory is developed from the theory of quantum mechanics are also kontoversial.

Level IV: Other Mathematical Structures: It is a mathematical theory of the universe paralllel and use all the possibilities. This theory states that other universe is not only beyond the horizon of our universe but also different from our universe in all things, for example: time, the laws of physics, and the universe. At level IV of the universe is very difficult to visualize because of the many possibilities that can happen. One proof of this parallel universe discovered by two physicians, Dr. Robert Foot and Dr.Saibal Partners, Melbourne, Australia. The evidence they found in the study of the asteroid Eros spark mirror matter. They define the matter as a shadow mirror reflection of something that exists in the universe as a stabilizer of the universe. Mirror Matter exists as the fulfillment of nature is nature that is always symmetrical and has two sides, right and left. The universe is a left side and right side of the mirror matter is. We do not currently able to see the existence of mirror matter because he interacts with our universe only through gravity.

Natural Shahadah >

Maszanet.blogspot.com

Natural Shahadah (3, Nature of The Universe)

1. Natural Shahadah

BUILDING NATURAL CREATURESNatural whole of nature is called natural events or creatures or everything that God created instead of a granular hinggalah to the maximum. God's creatures should dibahagikan incident to the three natural ranking.1: Nature Shahadah2: Natural Example3: Nature Spirits.Natural Shahadah is the object of extensive erti said. Do not expect something so much and can not be seen with the eye as a rather rough object. If the star is most distant object visible in our view, is more distant than the stars and can not be viewed also included in the collection of material. Objects or jisim may dibahagikan to three categories:1: Jisim which may be seen and held2: Jisim sight pierced the thin (transparent)3: Jisim subtle unseen.All of the three types of jisim it may be found in the Nature Shahadah. Natural Shahadah also be dibahagikan to four natural ranking.1: The Natural World Sky2: Natural Earth3: Natural Ceiling4: Alam al-Chairs the Great.

SKY NATURAL WORLD
One portion of this nature is smaller than the planet Earth where it lives in a nation of human beings. Planet earth and moon together the other planets are in a so-called natural level of the solar system. At first the astronomer menyangkakan become central to the natural sun. The discovery later showed the sun is just a kernel of star among millions of stars. If the science of astronomy more advanced humans meet edicts bahawa collection of stars that are very much to form a galaxy. Astronomers create a budget there are approximately one hundred thousand million stars in the galaxy that is planet Earth. The stars are spinning around a center which is called System Center Galaxy. Astronomers to make estimates and found that our sun takes 225 million years for the period surrounding the Galaxy System Center one centrifuge.

In addition to that contained galaxy planet Earth there are also other galaxy-galaxy. The stars for each galaxy surrounding the Galaxy System Center respectively. There are astronomers make estimates and budget contained approximately 10 thousand million galaxies it all.

Size among the stars and the galaxy-galaxy estimates are no longer measured by stones or kilometers, but used sukatan light years. Light travels 186 000 selaju rock one moment. Astronomers estimate the results of our sun to find the distance to the star is most nearly 4 ¼ light years.

Each galaxy moving at a pace that differed. Galaxy close to us while the slow movement is more far more worthy of its movement. At a certain distance galaxy is not seen again kerana he has more pace than the light and then brought together and the light is no longer possible light to the earth. Astronomers estimate the results to find the distance at which the galaxy carries light along with him is not less than 13 thousand million light years. This border astronomer who can be achieved through the help of the most advanced telescopes. All the galaxy is located in one of nature's round and fluffy like unto belon that the wind blows into it.

The results of the present invention through the telescope gave birth to theories of galaxy-galaxy tells circumstances after the limit of the telescope. Term arises Group, Metagalaxy, Teragalaxy and so on, so come to the unlimited (infinity).

These theories is both possible and is somewhat simple. Although it is possible and is somewhat but when leaning to the common man of science and technology can be accepted as truth. Unfortunately the theory made by scholars of religion based on the book of the most effective natural science are 'written' by the Creator, no generally accepted scientific kerana not. Science who is more intense among the science that animates the 'dead' by entering the blood and organs to science move that evokes the man in the grave just by saying, "Arise ye with the permission of Allah". Real science "With the permission of Allah" can not be dicabar and impossible dicabar by human science for eternity. By it when the man of science to admit defeat Switch to science ": With the permission of Allah". It must further information is obtained and it can obviously.

Religious scholars who have science "With the permission of God" called al-rights experts, experts ertinya the truth. There are also among the people named them as human truth or the truth. Unfortunately the truth is considered to be human as well as people who 'really sill'. Tertutuplah rahsianya as an intrinsic scientific expert is someone who posed no scientific case to him.

Prince to all al-rights expert, the Prophet Muhammad. PBUH, had roamed throughout the virtual nature so that the highest peak, which no longer natural events afterwards. Majesty of Allah told him what the king had witnessed. Dikhabarkan story by the Messenger of Allah to guide al-rights expert to poke rahsia other virtual nature, so building virtual nature theory based on the statement the Prophet and their own testimony. Bertaburanlah intimation about the virtual nature that have been issued by the truth that human beings never learn science and do not know the terms of science. They use their own terms. There arose the theory of the earth is above the horns of oxen. Veal also is above the far back of the fish. Ox eating grass that grows on the back of the fish. If the ox shall apply tossing moves upon the earth. Heard the theory that such people continue to cover the ears, does not make sense, Israiliyat and distorted. Though the theory was issued by a diperakui knowledge by the Prophet himself king kerana mengurniakannya pray that science and kefahaman. He is Ibn Abbas r.a.

Theories About the Star 12 >

Maszanet.blogspot.com

Theories About the Star 12 (4, Nature of The Universe)

If the astrologer makes a theory about 12 stars, among the 12 stars that there are two stars called bulls and fish. There are influences between bulls with star star fish and other stars to the population on the earth. Astrologer theory is accepted with full confident that virtually everyone knows each star. They may believe in the star ox and fish is said by astrologers but refused saying kasyaf expert who can see what can not be seen by the eye roughly.

We return to the Natural World sky. We start from a planet called Earth where we live on it. Planet we live is called the earth we inhabit kerana. If we inhabit our earth bulanlah month then. If we inhabit our earth's sun, sun. Thus, the intent of the earth is relative. The identiti earth is he is in one frame. For our planet Banjaran mountains into the framework. Mountain on the moon became the framework of the moon.

If this small planet earth is in a collection that contain adequate millions of stars he called galaxy. There are so many galaxy down to a ranking of all the galaxy is located within a single framework. As in the framework of galaxy planet Earth is also called the mountain. He termed the Mount Qaf. Mount Qaf is a vast natural in them many galaxy. In addition to Mount Qaf that planet earth is in it there are six other Mount Qaf. Number of Mount Qaf everything is seven. Seven Mount Qaf it was or floating in the vast space surrounded by a sphere which is called Low Sky World or Sky or Sky One.

If the planet Earth has become too small compared with other kewujudan, the concept that the earth is changing. At this rank one nature in one of Mount Qaf named one of the earth. Seven Mount Qaf into seven earth. There are seven earth dilengkungi by Sky World. The whole of nature in the sky The world is called Alam al-Mulk. If the term Alam al-Mulk then deemed to be incompatible should also use the term Universe. That state of Universe is described by the expert testimony of al-rights under the eyes of their hearts.

Natural Earth (5, Nature of The Universe)

Natural Earth World sky, namely the first heaven is the beginning of Nature Malakut Bottom Nature also called Barzakh, where spirits leave the body stops while waiting for the trumpet is blown. World sky with all its contents into a small natural floating in the sky Both the natural space. That's how it sehinggalah up to nature Seventh Heaven.After Seventh Heaven there is a level unseen Nature, Nature is no longer the Shahadah. It consists of natural rather than supernatural things he's just too supernatural than the senses. The first portion is called the supernatural rather than natural Sidratul Muntaha. Sidrat meaningful principal lote and Muntaha meaningful efflux. Sidratul Muntaha meaningful principal lote efflux. He is a natural level of the border, where the journey stops and creatures from the natural sciences on the natural bottom. What our other features coming out from under suspended in Sidratul Muntaha and what our other features which come down from above was also suspended in Sidratul Muntaha. Just who got permission to cross this border.

Events ascension recounts, "Then the king saw up to the seventh sky ... all of a sudden he found Prophet Ibrahim ... Then I (Prophet Muhammad PBUH was appointed to Sidratul Muntaha. All of a sudden looks like a crock fruit and leaves like elephant ears".On our planet there are islands such as jars and the peninsula such as elephant ears. Nature Sidratul Muntaha also have such characteristics.

In the middle portion lies the Baitul Makmur Sidratul Muntaha which became the center of the natural pentadbiran below. In the upper portion Sidratul Muntaha there is one more unseen Nature Courant called al-seat rectangle. The entire virtual nature of diperkatakan up to now is in the nature of al-seat space that is unseen. Al-Chairs also became a minor nature within natural space Throne ar-Rahman, who was again in the ranking of unseen Nature. Under the Throne rather than ar-Rahman syurga there is a collection of seven levels: Dar al-Jalal, Darussalam, Jannatul Ma'wa, Jannatul Khuldi, Jannatul Na'im, Jannatul Firdaus and Jannatul 'Eden.

On the right-ar-Rahman Throne there is also a natural border that separates on it by nature underneath, called Sidratul Muntaha second. Throne of ar-Rahman and Sidratul Muntaha second inside space sphere originally called Natural Shahadah al-Mastawa. Al-Alam Mastawa no longer unseen but real nature. On the circumference surface of the al-Mastawa there Loh Mahfuz al-Qalam which it writes the command of God.Al-Mastawa with all the contents of its contents are in one sphere of nature that also Nature Shahadah, which is called Low Earth or Earth First. Natural Earth First is surrounded by three layers of nature. The first layer is called the Natural Sea. Second layer is called the Natural Wind. The third layer is called the Natural Darkness. Everything is in the Second Earth space. Second Earth is in the Third Earth space and so on down to Earth So the Seventh.

All ratings nature so that nature is in the Seventh Earth space called natural sphere Mountain Nature's wrath. Mountain Nature's wrath in the sphere of nature, called Natural Sea of ​​Darkness. In the darkness beneath the Ocean Nature Nature Mountains there is an-Nar's wrath or hell. There are seven levels of hell: Jahannam, Sa'ir, Luzi, which breaks to pieces, Jahim, Saqar and Hawiyah.

Natural Dark Ocean surrounded by the natural coating called Natural Darkness. In it there is Sijjin, kept the prison where the spirits and deeds records the unbelievers. Darkness surrounds Nature is Nature Mountain Climbing. Mountain Climbing Nature with all its contents within the framework of the so-called also Mount Qaf. All natural rankings diperkatakan until now termasuklah Mount Qaf latter termed as Natural Earth. He still ranks in the bottom Malakut Nature or Nature Barzakh.

Natural Ceiling >

Maszanet.blogspot.com

Natural Ceiling (6, Nature of The Universe)

NATURAL CEILING Natural Earth moves at a lakaran around one center called Heart ceiling. After the whirl of Natural Earth lakaran there are seven other lakaran, making eight lakaran everything. At first only lakaran Natural Earth is spinning around the ceiling of the Heart. In both there were 70.000 spheres lakaran realms surround Heart ceiling. So also in the third lakaran so lakaran to eight. Natural sphere in seven lakaran after lakaran Natural Earth is called the Natural ceiling of seven layers. The ceiling of Nature is very beautiful and a syurga Barzakh now inhabited by the angels. This is a collection syurga the latter, nevertheless has seven levels and use the same name as the first collection syurga.

After the whirl of Natural lakaran ceiling there is one more lakaran the ninth. In the ninth lakaran have twelve spheres of nature that also surround Heart ceiling. Nature, the twelve, called Buruj Natural Top. And given the name of the angel who ruled the following symbols on each of these natural: sheep, cattle, twins, crab, lion, girl, Hell, bow arrows, goats, buckets and fish. That name Buruj Nature Top 12.

Actually there is also Buruj Natural Down, namely certain stars in the sky The world is a place of angels escort, guard so that no devil that can rise up to steal the edicts of the above nature. Ubiquitous devil Cuba will menceroboh arrows with fire arrows. Top Natural Buruj also not a star but is 12 pieces of nature that is very broad.

Planet earth where we live is when he is spinning a whirl on paksinya there one day. When he is spinning a whirl around the sun came to pass one solar year. Nature of the Earth in Nature Barzakh it a whirl when spinning above paksinya one day called Earth Day Nature of God, along with one thousand years of sun."And one day in the Lord is a thousand-year follow you count". (Surah al-Hajj, verse 47).

Size of the pace at this stage is no longer the speed of light but the speed of angels, nur a far more art than any light that is known."" Angels and spirits up to Him on a day that levels of size fifty thousand years ". (Surah al-Ma'arij, paragraph 4).

A day trip along the angels fifty thousand years the sun.Heart nur ceiling radiate throughout the worlds around him. Light emitted it is the science of God. Katibun angels receive the jet and the Loh Mahfuz wrote in Nature Earth.

AL-Seats Are Great >

Maszanet.blogspot.com