Apa sih sulitnya memberantas korupsi? Mungkin ada yang menjawab
korupsi berlindung dibalik kekuasan. Mungkin ada yang bilang
memberantas korupsi itu. Beberapa teman memberikan jawaban seperti
dibawah ini:
Rudy S W@rudysw
Karena ga dilakukan mulai dari paling atas ? RT @bukik: Mengapa memberantas korupsi itu sulit? #saveKPK
@bukik berantas korupsi sulit..karena yg harusnya berantas..ikut korupsi juga #saveKPK
Tapi entah kenapa tiba-tiba tadi pagi terlintas ide tentang
kira-kira mengapa sulit memberantas korupsi. Sayangnya, jawaban itu
juga berupa pertanyaan hehe. Apa? Ya judul posting ini lah. Mengapa
orang lebih jijik pada pengemis dibanding pada koruptor?
Dalam benak kita, koruptor itu lebih diterima dari pada pengemis
secara alami. Karena lebih diterima, maka kita lebih sulit
menolak/menghindari koruptor dari pada menolak/menghindari kehadiran
pengemis di dekat kita. Koruptor disini dimaknai sebagai personifikasi
dari korupsi, bentuk konkret dari korupsi yang bisa kita lihat.
Dibawah ini contohnya. Kira-kira bagaimana respon kita menyikapi orang pada dua foto dibawah ini?
Foto @SiKreshna
Bayangkan ya, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang
semacam pada foto pertama datang dan duduk di sebelah kita. Mata kita
sudah dimanjakan dengan penampilannya. Ketika bersebelahan, hidung kita
dimanjakan harum badannya.
Sekarang bayangkan, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang
semacam pada foto kedua datang dan duduk disebelah kita. Sejak awal aja
sudah bikin sepet mata. Pas duduk sebelahan, hidung kita langsung
terserang bau tak sedap.
Kira-kira pada kesempatan mana kita lebih mungkin menggeser duduk
atau bahkan menghindar? Ya. Secara alami, lebih besar kemungkinan pada
kejadian kedua.
Selain itu, koruptor adalah orang yang berseragam. Kita lebih mudah
menerima kehadiran dan perintah dari kalangan yang berseragam, bahkan
ketika perintah tersebut sebenarnya tidak kita setujui. Seragam adalah
simbol otoritas. Kita mengasosiasikan pengguna seragam sebagai pemegang
otoritas yang diterima secara umum. Jadi seragam itu menimbulkan kesan
yang cenderung positif pada penggunanya.
Seringkali seragam ini diperkuat dengan kata-kata “kebenaran”.
“Kebenaran” yang berasal dari pendapat umum, dari undang-undang, bahkan
dari kitab suci. Kombinasi seragam dan kata-kata kebenaran itu tampak
pada film keren berjudul Kita vs Korupsi: Aku Padamu.
Belum lagi kalau kita berbicara koruptor punya banyak uang yang
memungkinkannya mengakses tempat dan fasilitas mewah yang relatif
dipandang oleh masyarakat.
Pada akhirnya, sekarang bayangkan kita sebagai orang yang berada
dalam “sistem” dan berinteraksi langsung dengan mereka yang kita sebut
“koruptor”. Jangan-jangan kita juga masih lebih jijik pada pengemis
dibanding pada mereka. Selama kita masih nyaman dekat dengan koruptor
maka koruptor pun masih nyaman untuk menjalankan aktivitas
sehari-harinya, korupsi.
Belajar dari kasus “Pemberantasan Korupsi di Italia”, setidaknya ada 3 agenda pemberantasan korupsi:
Pemimpin nasional yang berkomitmen melakukan pemberantasan korupsi
Lembaga pemberantasan korupsi yang kuat (Itulah pentingnya #SaveKPK)
Gerakan sosial dan pendidikan untuk menghentikan kebiasaan
mengidolakan koruptor dan mencari idola-idola baru dari kalangan yang
bersih
Aku pribadi akan mengambil peran pada gerakan pendidikan, gerakan yang mengembangkan anak yang berkarakter sesuai pohon karakter, sehingga bangga pada kemampuan diri sendiri dan jijik untuk melakukan korupsi.
Bagaimana cara agar lebih jijik pada koruptor dibanding pada pengemis? Cara yang aku usulkan bisa dibaca disini
“Yang
penting perubahan bro! Buat apa pusing-pusing sama teori?!” Begitulah
keyakinan kebanyakan aktivis sosial di Indonesia. Keyakinan yang
menyulitkan perubahan gerakan sosial
Dalam workshop Advokasi Kreatif
yang telah memasuki angkatan ke-7, aku memperkenalkan apa yang disebut
sebagai Teori Perubahan (Theory of change). Aku mendengar mengenai
Teori Perubahan pertama kali dari Mas Dani, sudah beberapa tahun yang
lalu tapi baru sekarang punya kesempatan untuk mengajarkannya.
Mengapa aku perkenalkan? Perubahan sosial bukanlah sulap yang bisa
terjadi seketika. Perubahan sosial terjadi melalui serangkaian proses
yang melibatkan interaksi beragam pihak. Oleh karena itu, penting bagi
aktivis sosial untuk merumuskan sebuah teori perubahan yang menjelaskan
bagaimana proses mewujudkan perubahan sosial yang dicita-citakan. Teori
perubahan bisa menjadi alat bantu untuk menemukan solusi ditengah
kompleksitas persoalan dan ketidakpastian keadaan saat ini.
Apa itu teori? Kalau mengenai ini bisa dibaca di posting “Ah Cuma Teori”.
Apa itu teori perubahan? Serangkaian pernyataan yang menjelaskan proses
terjadinya perubahan sosial. Teori perubahan pada dasarnya menjelaskan
bagaimana sebuah komunitas akan mewujudkan suatu sasaran jangka
panjang. Dengan adanya Teori Perubahan ini maka kita dapat melihat
gambaran bagaimana berbagai faktor-aktor berinteraksi dalam mencapai
suatu sasaran.
Apa manfaat dari teori perubahan? Pertama, kita dapat menjelaskan
proses perubahan sosial yang diidamkan dengan lebih simpel, jelas dan
sistematis kepada beragam pihak. Penjelasan tersebut memudahkan kita
mendidik atau mempengaruhi pihak lain untuk mendukung sebuah perubahan.
Kedua, teori perubahan menjadi sebuah panduan tindakan dalam
mencapai keadaan yang kita cita-citakan. Panduan ini juga dapat
digunakan untuk mensinergikan beragam program yang kita jalankan.
Ketiga, adanya teori perubahan membuat kita lebih dinamis karena respon
dari lingkungan dapat menjadi umpan balik untuk melakukan revisi atau
pengembangan sebuah teori perubahan. Tanpa menyadari teori perubahan
yang diyakini akan membuat kita terjebak pada keyakinan keliru tanpa
bisa melakukan revisi atau perubahan keyakinan.
Contoh, banyak kalangan yang meyakini bahwa perubahan sosial terjadi
ketika kita melakukan pergantian kepemimpinan. Jadi ketika suatu daerah
terjadi suatu keadaan yang tidak diinginkan, maka hampir bisa
dipastikan solusinya adalah ganti pemimpin. Kenyataannya, banyak
pergantian pemimpin tidak disertai dengan perubahan nyata.
Contoh lain, banyak aktivis sosial meyakini bahwa cara untuk
mengubah pendapat pengambil kebijakan adalah dengan demonstrasi.
Demonstrasinya pun kurang lebih seperti itu, banyak orang sekaligus
berbondong-bondong membawa poster atau spanduk ke gedung pengambil
kebijakan. Bagaimana dengan kenyataannya? Mungkin efektif untuk
beberapa momen, tapi seringkali justru berdampak negatif.
Contoh lain, pembangunan Indonesia membutuhkan hutang atau investasi
dari luar negeri. Mungkin benar ada kondisi yang membuat kita
membutuhkan hutang atau investasi dari luar negeri. Tapi ketika itu
menjadi keyakinan buta jadilah apa yang kita alami saat ini, hutang
bukannya menjadi alat bantu, hutang justru semakin membenamkan kita.
Sadari teori yang secara sadar atau tidak sadar telah memandu
tindakan atau program kita. Dengan menyadarinya maka kita bisa
melakukan revisi atau perubahan untuk memastikan tercapainya cita-cita. Apa teori perubahan yang kamu yakini untuk melakukan perubahan Indonesia? http://bukik.com/2012/08/12/mengapa-perubahan-perlu-teori/
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Masuk
sekolah? Masuk kerja? Adalah hal baik setidaknya menurut pandangan
banyak orang. Tapi mengapa banyak orang yang memaksa orang lain untuk
melakukan hal baik itu?
Gara-gara tadi pagi baca berita tentang upaya FPI untuk melarang
pementasan Lady Gaga, aku terbersit pikiran yang menjadi judul posting
ini. Belajar, sekolah, kerja, beribadah, tertib lalu lintas, buang
sampah pada tempatnya, dan banyak kebaikan lagi yang menjadi alasan
orang untuk memaksa orang lain. Apakah karena legitimasi bahwa itu
kebaikan maka dibenarkan adanya pemaksaan?
Bahkan dalam beberapa workshop yang pesertanya aktivis sosial, aku
menemui pola sikap yang kurang lebih sama. Karena atas nama rakyat,
maka aktivis sosial bersikap “memaksa” agar tuntutannya dipenuhi pihak
lain. Bila tidak, maka akan ada konsekuensi negatif yang diberikan.
Apa dampaknya ketika kebaikan digunakan untuk memaksa? Kebaikan
menjadi dijauhi oleh orang-orang. Kok bisa? Secara alami, orang enggan
dipaksa. Pemaksaan mungkin akan diterima secara eksplisit tapi secara
implisit tetap menolak pemaksaan tersebut. Contoh, anak yang dipaksa
sekolah akan masuk sekolah tapi sikapnya disekolah mencerminkan
keengganan bersekolah.
Sebaliknya dengan apa yang dinilai oleh sebagai keburukan yang justru jarang menggunakan pemaksaan. Mengapa tidak ada training korupsi? Karena orang belajar korupsi secara alami dan organik. Tidak perlu ada reward & punishment.
Apa yang terjadi ketika keburukan jarang memaksa? Orang menjadi
lebih nyaman dan akrab dengan keburukan. Keburukan berteman dengan
orang-orang, bukan memusuhinya. Keburukan memahami orang-orang, bukan
mengajarinya.
Manusia pada dasarnya tetaplah anak kecil. Ketika disuruh seperti
dilarang, ketika dilarang seperti disuruh. Anak kita malas makan?
Iming-iming dengan makanan dan laranglah ia makan. Anak kita malas
gosok gigi? Tunjukkan asyiknya gosok gigi dan laranglah. Mau terus memaksa atau memaksa diri untuk lebih kreatif dalam menyebar kebaikan?
http://bukik.com/2012/06/04/mengapa-kebaikan-sering-memaksa/
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Mengapa tidak ada yang menangis ketika tahu ada 30 juta penduduk miskin di Indonesia?
by Bukik on 25/06/2012
Kita
kerap melihat atau mendengar data mengenai jumlah penduduk miskin
Indonesia. Tidak jarang pula menyaksikan perdebatan mengenai akurasi
data tersebut. Tapi mengapa kita tidak menangis ketika mengetahuinya?
Dalam sebuah workshop, aku sempat melontarkan pertanyaan apakah pernah ada yang menangis ketika mengetahui ada 30 juta penduduk miskin Indonesia?
Atau pernahkah melihat ada orang menangis haru “huhuhu 30 juta penduduk
Indonesia masih miskin ternyata”? Seluruh peserta menjawab tidak tahu
bahkan malah tertawa ketika aku simulasikan tangisan karena data itu.
Atau sebaliknya, pernahkah menyaksikan orang tertawa terbahak-bahak
ketika membaca tumpukan data?
Banyak orang yang meyakini manusia adalah makhluk yang rasional,
makhluk yang bertindak berdasarkan pertimbangan dan alasan yang
rasional, berusaha mencapai tujuan yang masuk akal. Keyakinan ini pula
yang menjadi persamaan antara birokrat maupun aktivis perubahan di
negeri ini. Meski seringkali posisinya berlawanan tapi mereka mempunyai
keyakinan yang sama: manusia adalah makhluk rasional.
Dalam sebuah sesi yang dihadiri para aktivis perubahan, aku
menunjukkan sebuah video dan mengundang peserta melakukan sumbang saran
ide-ide untuk melakukan perubahan perilaku orang dalam video tersebut.
Apa ide yang paling banyak? Ide yang berpijak pada keyakinan
rasionalitas manusia seperti menunjukkan data, menyampaikan manfaat,
sampai memberikan himbauan atau nasehat.
Masih ingat bagaimana para pejabat negeri ini memberikan himbauan,
menyampaikan manfaat atau memberikan himbauan? Informasi bahaya merokok
di setiap bungkusny? Himbauan agar korupsi ditindak tegas? Menunjukkan
manfaatnya tertib berlalu lintas?
Kenyataannya, manusia bertindak pada awalnya bukan karena sisi
rasionalnya. Manusia berubah bukan karena tujuan rasional. Oleh karena
itulah, kita tidak menangis haru ketika tahu ada 30 juta penduduk
miskin. Kita tidak tersentuh karena ada banyak anak gizi buruk di
Indonesia. Himbauan hanya masuk di telinga kanan dan keluar dari
telinga kiri.
Kita lebih tersentuh dengan menggunakan gambar dari pada data, menggunakan cerita dari pada argumentasi
Manusia berubah tidak mengikuti alur “mengetahui, menganalisis dan
berubah” tapi lebih mengikuti alur “melihat, merasakan dan berubah”.
Sisi emosi dalam diri manusia bisa diibaratkan sebagai seokora gajah,
sementara sisi rasional adalah pawang gajah tersebut. Untuk
menggerakannya, pertama yang perlu dilakukan adalah menggerakkan
gajahnya atau menyentuh emosinya, baru kemudian memberikan penjelasan
rasional pada sang pawang atau pada sisi rasionalitas kita.
Kita tidak bisa berkomunikasi dengan “sang gajah” atau emosi itu
dengan data dan penjelasan rasional. Karena data dan penjelasan
rasional adalah bahasa “sang pawang”. Emosi kita tersentuh dengan
bahasa visual dan dengan menggunakan cerita. Ceritalah yang menggerakan
manusia. Bagaimana menurutmu, apakah manusia makhluk yang rasional?
http://bukik.com/2012/06/25/mengapa-tidak-ada-yang-menangis-ketika-tahu-ada-30-juta-penduduk-miskin-di-indonesia/
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Aku tahu buku Brain
Rules dari Pak Hernowo Mizan ketika tampil bareng di seminar
Buku Digital di DPR RI. Langsung deh aku beli dan isinya menarik banget
buat mengembangkan efektivitas belajar dan bekerja kita. Mau tahu?
Brain Rules ditulis oleh John Medina, seorang biologi molekuler perkembangan
dan konsultan penelitian (hihihi jangan tanya aku apa kerjanya ya….). Tapi
kalau baca bukunya sangat kerasa banget beliau membawa perspektif evolusioner,
semua dikaitkan dengan evolusi manusia.
Dia mengakui bahwa otak itu kompleks tapi ingin memperkenalkan cara kerja
otak secara sederhana dengan membuat 12 aturan cara kerja otak. Tidak
hanya penjelasan teoritis, John Medina menjelaskan konsekuensi praktis pada
setiap aturan, dalam konteks rumah, sekolah dan tempat kerja.
Di posting ini aku tulis dan tulis ulang 3 dari 12 Aturan Cara Kerja Otak.
Ringkas saja agar mudah dipelajari dan sempat dipraktekkan (praktek? sepertinya
jauh deh….hihihi). Posting akan ditulis dengan urutan, aturan, penjelasan
singkat, beserta dampak praktisnya bagi pembaca. 1. Bergerak melejitkan kemampuan otak
Otak kita dirancang untuk berjalan kaki, sekitar 19 kilometer per hari (ngek
kuat amit…), selama masa evolusi nenek moyang kita. Ketika kita bergerak, darah
akan terpompa ke otak, mengalirkan oksigen dan glukosa. Aerobik 2 kali seminggu
memangkas resiko terkena dementia (penurunan kapasitas otak) dan menurunkan
resiko sampai 60% terkena Alzheimer.
Aturan pertama ini menjelaskan mengapa kita mudah bosan ketika duduk diam di
dalam kelas atau ruang kerja. Tanpa pergerakan membuat oksigen yang mengalir ke
otak berkurang sehingga dianggap sebagai sinyal beristirahat (jadi menguap kan
kalau kelamaan duduk?). Persoalannya, ruang kelas dan kerja kita didesain
dengan asumsi kita diam ketika belajar dan bekerja (nah….gimana dong…)
Praktisnya:
Bila tubuh kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan
bekerja. Sekurang-kurangnya, lakukan pergerakan 10 menit setelah belajar atau
bekerja. Ketika tubuh bergerak, maka otak akan menjadi aktif untuk mengelola
berbagai informasi yang didapatkan. Sementara, ketika tubuh terlalu diam maka
otak akan cenderung menjadi pasif dan terlihat malas untuk mengolah informasi. 2. Otak kita juga berevolusi
Otak adalah organ bertahan hidup kita dalam menjalani evolusi. Kita
mengatasi dunia dengan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kita bukan
makhluk yang terkuat di bumi ini, tapi otak kita berkembang menjadi yang
terhebat. Otak kita berkembang selama menangani penyelesaian persoalan dan
membangun relasi dengan orang lain.
Kemampuan memahami persoalan dan membangun relasi dengan orang lain menjadi
aktivitas bertahan hidup utama, bahkan hingga hari ini. Bukan saja di sekolah,
kedua kemampuan itu juga kita butuhkan di tempat kerja.
Praktis: Bila kita tidak nyaman dengan orang lain maka kita tidak bisa
efektif. Ketika murid tidak nyaman dengan gurunya maka belajar menjadi tidak
efektif. Ketika bawahan tidak nyaman dengan atasannya maka bekerja menjadi
tidak efektif. Belajar menyimak motivasi orang lain dan bangun relasi agar otak
kita bekerja efektif. 3. Setiap otak tersusun secara berbeda
Otak dari kecil mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada serangkaian
hubungan yang terbangun antar ujung syaraf seiring dengan penghilangan hubungan
yang lain. Apa yang kita lakukan dan pelajari dalan kehidupan mengubah bentuk
fisik otak kita, mengubah susunan otak kita.
Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Tidak
ada dua otak manusia yang sama yang menyimpan informasi yang sama dengan cara
yang sama di tempat yang sama (wiiiiih mbulet deh…..tapi gitu kok
kenyataannya). Ada jutaan cara untuk menjadi cerdas sebagaimana diyakini
konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner. Sayangnya, banyak diantaranya
tidak muncul dalam tes IQ yang diyakini oleh banyak orang.
Praktisnya: Perlakukan diri kita dan orang lain sebagai individu unik
yang mempunyai cara belajarnya sendiri. 4. Kita tidak memperhatikan hal-hal
membosankan
Otak bisa diibaratkan sebagai lampu sorot (spotlight) yang menyorot berbagai
macam hal di sekitarnya. Lampu sorot otak ini hanya dapat fokus pada satu hal
pada satu waktu: Tidak ada multitasking bagi otak.
Lampu sorot otak itu menyukai sesuatu yang membangkitkan emosi dan mudah
beralih ketika menyorot sesuatu yang membosankan. Ceramah atau pembicaraan yang
biasa-biasa saja hanya mendapat perhatian dari otak kita kurang dari 10 menit.
(Oooo pantesan kalau aku diceramahin, 10 menit sudah buka BB *eh).
Praktisnya: Pancing perhatian orang yang mendengarkan kita bicara setelah 10
menit melalui cerita yang menyentuh emosi. Hindari interupsi dalam mengerjakan
suatu tugas karena akan meningkatkan jumlah kesalahan. 5. Ulangi untuk Mengingat
Otak itu ibarat mesin pengolah informasi yang mempunyai beragam mekanisme.
Salah satunya, declarative memory yang mempunyai 4 tahap pengolahan informasi:
mengodekan, menyimpan, memanggil dan melupakan.
Kalau kita mengingat informasi dengan cara yang biasa-biasa saja, maka kita
akan segera melupakan. Ibarat ketemu cewek yang biasa-biasa saja maka kita
segera melupakan begitu saja. Beda kalau pertama bertemu begitu mempesona, wah
sampai rumah pun masih terbayang-bayang wajahnya. (bener kan…?). Semakin
rumit kita mengodekan informasi semakin kuat memori itu.
Praktisnya: Kaitkan suatu informasi baru dengan informasi lama. Buat
jembatan keledai untuk merangkai suatu informasi. Ulangi untuk mengingat suatu
informasi dengan pola yang berbeda. 6. Ingatlah untuk mengulang
Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Proses melupakan itu
bagus karena kita tidak perlu menyimpan informasi yang tidak relevan dan
membantu menentukan prioritas. Ingatlah yang sekarang, bukan masa lalumu
(uhuk). Tapi bila kita ingin mengingat suatu informasi, maka ingatlah
untuk mengulang.
Praktisnya: Ingatlah suatu informasi secara bertahap dan mengulanginya
dalam jeda waktu yang terpola waktunya. 7. Tidur baik, berpikir pun baik.
Otak mengalami ketegangan terus menerus sepanjang hari. Bahkan ketika tidur
pun, otak kita tidak sepenuhnya beristirahat. Otak tetap aktif secara ritmis
selama kita tidur. Kurang tidur akan menurunkan perhatian, pengambilan
keputusan, memori kerja, mood, keterampilan kuantitatif, penalaran bahkan
ketangkasan motorik.
Praktisnya: Cukuplah tidur. Jangan malu untuk tidur siang (enaknyaaaaa…) 8. Otak yang stress tidak belajar secara
sama
Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek,
semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita,
stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar.
Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun
kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat
lain.
Praktisnya: Jangan stress (hehehe). Bangun relasi dan emosi yang stabil di
rumah, itu kunci. 9. Rangsanglah lebih banyak indera
Kita menyerap informasi tentang suatu kejadian melalui indera, menerjemahkan
dalam bentuk sinyal listrik, menyebarkan ke bagian otak terpisah dan ketika
mengingat kita merekonstruksikan ingatan kejadian itu.
Semakin banyak
indera yang mendapatkan informasi atas suatu kejadian maka semakin mudah kita
merekronstruksi ingatan akan kejadian tersebut. Hasil riset, Efek Proust, bau
dapat memicu memori, hingga 10-50% lebih baik. (apa bau badanmu sekarang? *eh
salah). Bau bahkan memicu emosi kita.
Praktisnya: Gunakan multisensori dalam menyampaikan penjelasan ke murid atau
bawahan, paling tidak kata dan gambar. Bila perlu ciptakan ruangan yang baunya
bisa diasosiasikan positif. 10. Penglihatan mengungguli indera-indera
kita.
Kita tidak melihat dengan mata kita, kita melihat dengan otak kita. Apa yang
kita lihat bukanlah yang terlihat, tapi apa yang diberitahukan otak untuk kita
lihat. Tak heran maka kita sering terjebak menilai orang dari tampilan luar,
karena memang begitu cara kerja otak kita.
Kita paling bagus belajar dan mengingat dengan gambar, bukan kata-kata
tertulis atau terucap. Mendengar sekarang maka 3 hari kemudian hanya teringat
10%, sementara dengan melihat kita masih mengingat 65%. Teks mencekik otak
kita, otak tidak mengenal kata-kata, tapi mengenal gambar. Ketika mengingat
“Gajah pakai baju warja merah”, kita akan “melihat” gambar gajahnya, bukan
tulisan g-a-j-a-h.
Praktisnya: Buang powerpoint yang penuh dengan teks dan poin-poin. Gunakan
gambar yang berasosiasi dengan suatu informasi untuk belajar. 11. Otak pria dan wanita berbeda
Kalangan kesehatan mental sudah mengenali perbedaan antara pria dan wanita.
Pria lebih mudah terkena schizophrenia dibandingkan wanita. Dengan rasio 2
banding 1, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi
dibandingkan pria, temuan setelah wanita mengalami pubertas dan terus stabil
sampai 50 tahun berikutnya.
Pria dan wanita merespon stress dengan cara yang berbeda. Pria mengaktifkan
amygdala di sebelah kanan otak mereka, wanita mengaktifkan sebelah kiri.
Aktivasi sebelah kiri akan membuat orang lebih mengingat detil, aktivasi
sebelah kiri akan membuat orang mengingat intinya.
Praktisnya: Kelola kelas dengan pengaturan gender berbeda. Buat tim lintas
gender dalam dunia kerja. 12. Kita adalah penjelajah alami yang kuat
Hasrat untuk mengeksplorasi begitu besar dalam diri kita. Hasrat itu tetap
ada meski kita berada dalam ruang kelas dan ruang kerja. Bayi adalah model cara
kita belajar. Bukan dengan pasif terhadap lingkungan, tapi aktif berksplorasi,
melakukan pengamatan, membuat dugaan, lakukan pengujian dan kesimpulan.
Hebatnya, beberapa bagian otak dewasa tetap lentur seoerti bagian otak bayi
supaya kita dapat menciptakan syaraf-syaraf dan mempelajari baru sepanjang
hayat.
Praktisnya: Teruslah menjadi anak kecil yang penuh takjub dan pertanyaan
pada dunia.
Kalau mau lebih lengkapnya, silahkan beli bukunya Brain Rules. Kalau mau penjelasan gratisan lengkap dengan
presentasi dan video, klik saja di BrainRules.net.
Presentasi dibawah ini adalah salah satu contoh aplikasi 12 aturan itu dalam
melakukan presentasi.
Menurut penelitian terbaru, wanita kerap mendapatkan perasaan “blues” atau galau saat di musim dingin, terutama saat di gelap malam hari dan suhu dingin yang membuat mereka sulit untuk keluar rumah.
Tak hanya itu, kurangnya siang hari juga bisa membuat wanita merasa sedih. Menurut para ahli, kebanyakan orang merasa sedih dari waktu ke waktu di musim dingin dan banyak yang menderita gangguan afektif musiman (Seasonal Affective Disorder).
Sedih adalah jenis depresi yang diduga disebabkan oleh kurangnya sinar matahari di siang hari, menurut Dr. Rob Hicks, seorang wartawan medis dan praktisi Umum.
Wanita hampir dua kali lebih banyak (28 persen) ketimbang pria (15 persen) yang mengaku mencari hiburan dengan makan dan ngemil makanan ringan karbohidrat-berat pada saat musim dingin tiba.
Sebanyak 77 persen wanita dan 64 persen pria mengatakan bahwa pengurangan waktu siang hari secara negatif mempengaruhi kebiasaan makan mereka.
Dan, sebanyak 37 persen wanita mengaku semakin pendeknya waktu siang hari cenderung membuat mereka terpaksa terus di dalam rumah, dibandingkan dengan 28 persen pria, menurut hasil survei Anglian Home Improvements.
“Kurangnya cahaya matahari diyakini mengganggu keseimbangan kimia di otak dan mengacaukan jam internal tubuh. Kekurangan ini akan menghasilkan terlalu banyak melatonin, hormon yang membuat kita merasa lelah dan siap untuk tidur, dan tidak cukup akan serotonin, hormon yang membantu kita merasa bahagia,” ujar Hicks seperti dikutip Zeenews.com.
“Menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk terpapar sinar matahari dapat membantu mengangkat suasana hati. Anda bisa mencobanya dengan cukup berada luar rumah atau ketika di dalam ruangan, mendekatlah ke jendela. Jika berada di dalam ruangan, carilah ruang yang banyak terkena sinar matahari. Ini pilihan yang sangat baik,” tambah Hicks.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: duniafitnes.com
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/12/20/mfb5n7-udara-dingin-bikin-perempuan-gampang-galau-kok-bisa
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Mencegah kematian sel-sel otak seperti mustahil karena manusia mengalami
penuaan. Yang bisa Anda lakukan mungkin hanya memperlambatnya.
Namun, ada juga hal-hal yang menyebabkan kematian sel-sel otak terjadi
secara tidak wajar dan secara signifikan mengurangi kemampuan mengingat,
berpikir kritis, penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan lainnya. Hal itu
biasa terjadi akibat gaya hidup tidak sehat.
Berikut beberapa hal yang bisa membuat kematian sel-sel otak terjadi lebih
cepat, seperti dikutip dari Parents Indonesia: 1. Alkohol
Mengonsumsi terlalu banyak alkohol akan membunuh sel-sel otak Anda. Selain
menyebabkan beberapa masalah kesehatan, minuman haram ini adalah musuh yang
sangat besar bagi otak Anda. 2. Makan makanan tidak sehat
Sel otak sama seperti sel-sel tubuh lainnya yang memerlukan nutrisi untuk
bertahan hidup. Jika otak tidak menerima vitamin dan mineral penting yang
dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya dengan baik sel otak sudah pasti akan
mati. 3. Obat terlarang
Ingin menghilangkan sebagian besar dari sel-sel otak pada pusat kesenangan
otak Anda? Ambil obat-obatan seperti kokain dan shabu. Setelah itu Anda tidak
akan bisa merasa senang lagi di masa depan.
4. Merokok
Rokok tidak hanya menimbulkan bahaya besar bagi sistem pernapasan Anda. Tapi
memperlambat atau menghentikan produksi sel-sel otak baru dan membunuh sel-sel
yang sudah ada. 5. Gegar otak
Kita memang tidak bisa mengendalikan kecelakaan, tapi kita bisa melindungi
diri dari cedera kepala beresiko tinggi. Jika bepergian menggunakan sepeda
motor, pakailah helm! Bekerja pada lahan konstruksi? Pakailah helm! Bermain
olahraga seperti rugby, cobalah untuk melindungi diri terutama di bagian kepala. 6. Tidak minum cukup air
Hal ini menyebabkan dehidrasi dan akhirnya otak Anda kehilangan sel. Tubuh
manusia sebagian besar terdiri dari air dan otak membutuhkan jumlah air
tertentu untuk tetap berfungsi dengan baik. Ingin memiliki otak yang sehat?
Jangan ragu minum air yang banyak. 7. Stres
Ini musuh terbesar kesehatan otak. Tidak hanya otak stres tidak baik bagi
seluruh tubuh manusia. Stres memang dirancang untuk membantu kita mengenali
bahaya, Namum jika tidak dikendalikan stres untuk waktu yang lama dapat merusak
otak dan kemampuan mental.
Ketika sholat dzuhur berjamaah di
Masjid Al Hikmah UM, Selasa 18 Oktober 2011 selesai ditunaikan, penulis diminta
untuk mengisi ceramah agama, yang secara kebetulan para da’i ditunggu beberapa
menit belum ada yang naik ke mimbar. Peribahasa Indonesia menyatakan “tidak ada
rotan akarpun jadi”. Terlintas dalam ingatan penulis beberapa peristiwa
yang ditayangkan di televisi tentang “kesurupan masal”. Ada satu pertanyaan:
Mengapa sebagian besar yang mengalami kesurupan adalah wanita?
Pertanyaan ini selalu mengusik hati
dan pikiran. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita menyamakan
pemahaman tentang istilah “kesurupan”, Kesurupan dalam bahasa Jawa berasal dari
kata dasar “surup” yang berarti senja (masuk sholat magrib).. yang
mendapat awalan (prefik) ke- dan akhiran (sufik) –an yang bermakna “suatu
kejadian yang bersifat gaib” (pendapat penulis).
Hampir semua umat Islam hafal dengan
Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 3 dan terjemahannya: “Yaitu orang yang beriman
kepada yang gaib…”.Akan lebih mantab dan sempurna bila hal ini diulas
oleh para pakar Al Qur’an (mufasirin) sebab penulis tidak memiliki kompetensi
di bidang tersebut. Pada tulisan ini penulis “meminta pendapat” dari para
pembaca yang budiman untuk melengkapi dan menyempurnakan tulisan ini.
Pendapat penulis beruoa contoh
sederhana pada “ilustrasi” seperti berikut. Bila suatu ketika.kita
menghadiri pesta perkawinan atau pesta lain yang secara kebetulan ada salah
satu masakan yang hambar (kurang asin). Bagaimana reaksi dari para wanita dan
para pria? Para pria mungkin tidak terlalu banyak bicara, langsung mencari
garam atau kecap asin tetapi bagaimana dengan para wanita? Kalau ada 2 (dua)
orang wanita atau lebih—yang berdekatan—yang sedang mencicipi atau
menikmati masakan tersebut tentulah berbeda dengan reaksi dari para pria
yang sedang menikmati makanan tersebut.
Kira-kira apa yang akan dibahas oleh
para wanita tersebut? Tentulah mereka akan membicarakan masakan yang hambar
tadi (kurang asin). Kalau pembicaraan tersebut didengar oleh ibu penyelenggara
hajatan/pesta, bagaimana? Wanita itu secara kodrati memiliki perasaan yang
(sangat) halus.atau sangat perasa. Bagaimana kelanjutannya?
Persoalan tersebut akan “mengganggu”
perasaan wanita yang menjadi “korban” pembicaraan tadi. Kejadian itu akan
dibawa ke dalam mimpinya dan ke dalam alam bawah sadar. Apa akibatnya? Benteng
ketahanan batinnya menjadi mudah ditembus oleh makhluk “jin” yang memiliki
sifat “syaitoni/setan”, Sekali lagi, ini hanyalah pendapat penulis. Tentu masih
jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kami mohon masukan/pendapat dari para
pembaca yang budiman. Harapan penulis bila tulisan ini mendapat respon yang
positif maka ke depan kita mencoba mencari “solusinya” agar para wanita
tidak mudah kesurupan.
Malang, 19 Oktober 2011
Penulis,
Djoko Rahardjo
*) Staf Subag Sarana Pendidikan
BAAKPSI UM . http://berkarya.um.ac.id/2011/10/19/mengapa-wanita-mudah-kesurupan/
Jika
orang meninggal maka lepaslah hubungannya dengan dunia kecuali 3 hal…Amal
Jariah, Ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh. Jadi jika ada orang yang
dapat berhubungan atau melihat roh manusia itu adalah dusta dan dosa besar.
Jika memang ada…itu adalah jin atau saiton yang menjelma…jika tetap berhubungan
sama mereka (jin or saiton) adalah dosa besar…dan yang dapat dipastikan adalah
jin or saiton adalah pembohong ulung….jadi jangan coba percaya sama mereka
ataupun sama orang yang berhubungan dengan mereka….percaya,menyembah dan mohon
pertolongan hanya kepada Allah SWT.
Mengapa
wanita yang paling banyak kemasukan?? pertanyaan ini dapat lebih di spesifikan
lagi….mengapa kebanyakan wanita dan muslim yang sering kemasukan?? Jawabannya
menurut pendapat saya…memang betul karena wanita mudah terbawa perasaan. Dan
mengapa hampir selalau wanita muslim dan saya pribadi tidak pernah mendengan
yang non muslim kemasukan, ini karena……
Muslim
selalu memusuhi setan atau jin dan tidak mau mengikutinya dan selalu berdoa kepada
Allah SWT agar terlindung dari godaan jin dan setan. Sudah menjadi tabiat…kalau
musuh itu pasti sering menggoda musuhnya…kalau teman pasti tidak di
goda….kesimpulannya kita harus tetap selalu memohon perlindungan Allah SWT.
Terima
kasih Mas Haikal, Anda telah memberikan masukan yang berguna bagi tulisan ini.
Mengenai keberadaan hantu dan jin sebetulnya sudah banyak penulis yang
membahasnya. Hantu adalah “jin yang jahat dan jelek atau menakutkan”.
Sedangkan
adanya ruh manusia yang bergentayangan dari pendapat sebagian orang, saya
berpendapat lain. Hakikat ruh manusia itu adalah sesuatu yang bersifat gaib dan
“rahasia”. Rahasia ruh manusia hanya Allah swt. dan para malaikat yang mengetauinya.
Kalau ada orang yang “kesurupan” mengaku arwah/ruh orang tertentu yang memasuki
dirinya maka itu bisa jadi adalah perbuatan “jin yang nakal”.
Mengapa
wanita mudah kesurupan? Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab. Saya yakin
para pembaca yang budiman mampu dan mau menjawabya.
Tambahan
pendapat tentang : Mengapa wanita kok mudah kusurupan ?
Menurut pendapat saya, tidak jauh berbeda dengan pendapat penulis. Wanita
memang memiliki perasaan yang sangat halus dan mudah tersinggung. Apa yang
dirasakan wanita, sering secara tidak sengaja dibawa kedalam angan-angan yang
sangat mendalam, sehingga pikirannya kadang-kadang kosong. Nah disaat itulah
kesempatan roh-roh halus masuk kedalam badan si wanita yang sedang melamun alis
pikiran kosong tadi. Oleh karena itu saya sarankan kepada para wanita yang
sering melamun, jangan-jangan sering melamun. Isilah dengan hal-hal yang
positif, sehingga pikiran tidak akan pernah kosong dan roh haluspun tidak akan
bisa masuk kedalam jiwa mereka. Demikian mudah-mudahan dapat menjadikan
tambahan ilmu, demi tidak terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yaitu
kesurupan.
Terkait
dengan fenomena kesurupan saya yang dungu ini hendak berbagi sedikit yang
mungkin ada gunanya. Perlu diketahui saya ini cuma mahasiswa biologi, sama
sekali tidak punya pengalaman dengan dunia supranatural. Berikut tanggapan
saya:
Sering
kita mendapatkan kisah-kisah tentang orang yang melihat hantu di tengah malam.
Apa mereka baru keluar dari kuburan saat itu? Tentu tidak, hantu adalah roh
manusia yang gentayangan. Mereka yang dahulu mati dalam keadaan penasaran,
masih punya obsesi dan keinginan duniawi. Keinginan inilah yang membebani jiwa
mereka dan menghambat perjalanan mereka, menjebak mereka dalam pusaran waktu
bertahun-tahun lamanya.
Saya
tidak berkompeten untuk membahas apa beda jin dengan hantu, hanya mereka yang
punya ”ilmu” yang lebih tahu.
Sekian
banyak roh gentayangan ini tidak terbatas pada jadual tampil manggung tengah
malam saja, sepanjang hari pun mereka masih eksis. Kita tidak bisa merasakan
kehadiran mereka karena kita napas kita terlalu cepat, kita berada dalam
”gelombang” yang berbeda dengan mereka. Kehadiran mereka hanya dapat dirasakan
bila siklus nafas kita lambat sekali. Bila kita bisa mengupayakan nafas yang
selembut mungkin, kehadiran mereka bisa dirasakan dan bahkan bisa berkomunikasi
dengan mereka.
Terlebih
di saat tengah malam, siklus nafas manusia berkurang secara alami, maka energi
mereka bisa dirasakan tanpa sengaja. Itu sebabnya beberapa tradisi agama
menganjurkan pembacaaan doa atau ritual lain di tengah malam yang sebenarnya
mengupayakan siklus nafas kita meningkat dan kita bisa segera ”pindah
gelombang”. Maka yang gentayangan pun tidak akan terasa lagi. Pembacaan doa
bukan untuk mengusir roh halus ini, nyatanya mereka pun masih berkeliaran di
sekitar kita.
Roh
gentayangan ini pada prinsipnya tidak bisa memasuki tubuh manusia. Kesurupan
bukanlah fenomena fisik, roh gentayangan ini berinteraksi dengan manusia lewat
gelombang pikiran. Mereka yang lagi ”blank” ini, otaknya berinteraksi dengan
gelombang hantu. Mereka yang kesurupan bertindak sesuai apa yang diperintahkan
oleh hantu. Jadi sekali lagi, bukan disusupi.
Irama
dan nada tertentu, ditambah dengan syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah
mempengaruhi roh gentayangan. Itu sebabnya ada tradisi di mana mereka yang
masih hidup membacakan doa untuk mereka yang sudah meninggal. Lantunan ayat
suci akan memberikan ketenangan bagi mereka. Lantas apa salahnya mendoakan
mereka yang sudah mendahului kita? Sangat disayangkan bila ada yang melarang
ritual ini. Perkara doa dan mendoakan adalah perkara pribadi. Bagaimana
seseorang bisa menilai doa orang lain, sementara yang berhak untuk mengabulkan
doa adalah Gusti Allah?
Sampaikan
pesan pada mereka melalui puisi, syair, atau lagu. Lantas bandingkan bila pesan
yang disampaikan sekedar berupa prosa. Amati pengaruh dan hasilnya. Yang
disampaikan lewat puisi, syair, atau lagu akan lebih ”merasuk”.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membedakan manusia dengan hewan. Pertama manusia bisa berfikir, hewan tidak Kedua Manusia bisa tersenyum, hewan tidak Ketiga manusia mempunyai rasa malu, hewan tidak Semakin
tipis tiga unsur itu ada dalam manusia, semakin tipis pula sifat
kemanusiaannya. Semakin tergerus salah satu unsurnya, semakin dminan
sifat hewaninya.
Pertama Manusia bisa berfikir. Ibrahim
adalah orang yang selalu berfikir sangat kritis. Dia kritis kepada
ayahnya Azar yang membuat dan menyembah patung. “Mengapa ayah menyembah
patung yang tidak bisa mendengar, melihat dan memberi sesuatu?” tanya
Ibrahim. Ayahnya marah, Ibrahim diancam dan diusirnya. Ibrahim juga
mengkritisi masyarakat bahkan menghancurkan patung-patung berhala
kecuali satu yang terbesar. Ketika Ibrahim digelandang untuk diminta
pertanggungjawaban, dengan santai dia berkata : “Tanyalah kepada
berhala paling besar itu. Bukankah dilehernya ada kapak?” jawaban
Ibrahim seakan meledek masyarakatnya yang tidak rasional. Jika kita tetap ingin menjadi manusia, salah satu syaratnya adalah berfikir logis dan teratur.
Kedua Manusia
bisa tersenyum. Senyum adalah karunia Allah SWT yang luar biasa. Senyum
membuat hidup ini terasa damai dan indah. Hebatnya lagi, hanya manusia
yang dapat tersenyum. Tidak ada binatang yang bisa tersenyum. Termasuk
kera dan orangutan, juga tidak bisa tersenyum. Sayang, senyum yang
hanya milik mamusia ini sering disia-siakan. Banyak orang lebih sering
bermuka muram, cemberut, marah dan sinis. Padahal semua sifat negatif
itu bukan hanya membuat wajah kita nampak jelek, tetapi juga membuat
juga mudah sakit dan nampak tua. Sedang senyum membuat wajah lebih
sehat, segar dan indah dipandang. Dibalik senyum ada keramahan.
Inilah sikap yang harus dipelihara manusia. Ramah kepada orang lain.
Jika kita murah senyum tulus, maka dunia akan tersenyum kepada kita.
Jika hidup penuh keramahan, maka dunia juga akan ramah kepada kita. Adakah ruginya tersentum? Tidak ada. Senyum selalu memberi keindahan. Tersenyumlah agar kita tetap menjadi manusia. Orang yang enggan senyum adalah orang yang kehilangan sebagian kemanusiaannya.
Ketiga Manusia
punya rasa malu. Pernahkan Anda memperhatikan sepasang kucing betina
dan jantan yang berkejaran ingin bermesraan sambil berteriak-teriak?
Itulah contoh nyata tentang hewan yang tidak punya rasa malu. Jika
orang ingin tetap menjaga sifat kemanusiaan pada dirinya, maka dia
harus bisa menjaga rasa malu.
Dikutip dari tulisan Nur Cholis Huda, Matan Edisi 64 November 2011
Manusia makan, hewan juga makan. Manusia tidur,
hewan juga tidur. Manusia melakukan hubungan seksual, hewan juga. Manusia
berkembang biak, hewan juga. Manusia memiliki otak, hewan juga. Manusia hidup
berkelompok, hewan juga. Manusia memiliki nurani mempertahankan diri, hewan
juga.Tak jarang juga perilaku manusia yang bertindak layaknya seekor hewan.
Misalnya manusia yang saling membunuh, tidak peduli dengan sesamanya serta
keserakahan mereka. Apa yang membuat manusia bertindak seperti hewan? Itu
karena sifat hewaniah yang ada dalam diri manusia. Lantas apa yang membedakan
manusia dengan hewan? Bentuk fisik, etika atau logika? Bedanya adalah ketika
manusia menyadari kehewanian dalam diri, tetapi hewan tidak menyadarinya.
Jadi, jika manusia tidak menyadari bahwa sifat
hewaniah ada dalam dirinya, ia tidak berbeda dengan hewan. Apa manfaat
menyadari kehewanian dalam diri?
Manusia yang menyadari sifat hewaniah dalam dirinya
tidak akan bertindak reaktif. Mengapa demikian? Hewan selalu bertindak reaktif.
Tindakan reaktif adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan adanya aksi
terhadap dirinya. Coba perhatikan hewan anjing, singa atau lainnya. Saat kita
sakiti mereka tanpa pikir panjang mereka membalas. Jadi jika manusia pun
melakukan hal yang sama, ia bersifat reaktif.
Seharusnya manusia berpikiran terlebih dahulu ketika
akan membalas aksi yang dilakukan terhadap dirinya. Ia akan bertanya, mengapa
rekannya melakukan tindakan demikian terhadap dirinya? Inilah yang di sebut
tindakan responsif. Tindakan yang bertanggunag jawab. Bukan karena dilakukan
secara spontan seperti hewan.
Dengan menyadari adanya sifat kehewanian dalam diri,
seorang manusia tidak akan mementingkan diri sendiri. Sifat mementingkan diri
sendiri adalah sifat hewan. Perhatikan saat hewan berebut makanan. Ia hanya
mementingkan dirinya. Atau kelompoknya. Ataupun golongannya. Manusia yang
memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan tidak mengutamakan kepentingan
diri demi terpenuhi keinginannya. Ia lebih mengutamakan kepentingan bersama
daripada kepentingan golongan, kelompok atau dirinya sendiri.
Saat nafsu keserakahan melanda dirinya, ia akan
memiliki kemampuan menarik diri. Inilah yang tidak dimiliki oleh hewan. Seekor
hewan yang sedang dalam masa seksualitas yang tinggi akan menghantam siapa
saja. Bisa juga induknya sendiri. Bisa saja anak kandungnya. Nafsu telah
menguasai badanya. Hanya kenikmatan badan yang diperturutkannya.
Mereka yang hanya mencari sesuatu yang luar biasa,
seperti kesaktian, kekayaan dan hal yang luar biasa sesungguhnya sedang
menenggelamkan dirinya dalam nafsu angkara murka. Ia ingin lebih hebat dari
lainnya. Mereka yang menyadari kemanusiaannya cenderung memiliki sifat melayani
sesama. Ia berupaya menghilangkan egonya. Ia bukan pemuja ego. Ia sadar bahwa
saat ego menguasai jiwa, tidak ada Tuhan berkenan bertahta di hatinya. Tuhan
Maha pencemburu. Dia tidak mau duduk bersama ego dalam hati manusia, terlalu
sempit untuk berdua dalam diri manusia.
Manusia yang luar biasa adalah manusia yang berupaya
menjadi manusia biasa. Pelayan sesama. Mudah berkata sulit dilakoni. Dan berkah
untuk memiliki Strong Will sangat diperlukan untuk menjadi manusia biasa.
Teori Rekonstruksi by: Ame Suzako
Dede Priatna IC
|
1 Mei 2007 pada 11:06
menurut
Syah Waliyullah seorang ulama kelahiran india tahun 1703 M. menurut
pendapatnya ilmu di bagi menjadi tiga, apakah ada kesamaan dan
perbedaan dari ilmu tersebut.
Balas
Muhendra IC
|
1 Mei 2007 pada 11:13
Di
dalam al-Qur’an kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari
780 kali, ilmu menurut saya di digunakan tanpa harus di hitung berapa
kali kita menggunakannya!
Balas
Nur Arofah IC
|
1 Mei 2007 pada 11:17
ilmu
adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem
menurut metode-metode tertentu yang dapat di gunakan untuk meneranglan
gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan yang ingin saya tanyakan
metode-metode apakah yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala
tersebut?
Balas
Neneng Marlina IC
|
1 Mei 2007 pada 11:22
ilmu
adalah pengetahuan tentang ssustu bidang yang disusun secara besistem
menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan
gejala=gejala tertentu dibidang (pengetahuan) Apakah ilmu itu digunakan
untuk menerangkan gejala-gejala dibidang pengetahuan saja. Apakah ilmu
itu bisa juga di gunakan dalam bidang yang lainnya seperti bidang
kebudayaan dan bidang mistik?
Balas
idik sodikin 1c
|
1 Mei 2007 pada 11:26
setelah
saya membaca “islam dan ilmu”yang telah Bapa buat, saya sangat
terkesan.Namun ada yang belum saya mengerti yaitu dari tulisan “menurut
Syah Waliyullah seorang ulama kelahiran india tahun 1703 M. Ilmu di
bagi menjadi tiga kelompok” yaitu:
1.almanqulat
2.alma’qulat
3.almksyufat.
yang ingin saya tanyakan apakah ada kesamaan dan perbedaan antara ilmu almanqulat dengan alma’qulat.Terima kasih
Balas
Yati Maryati IC
|
1 Mei 2007 pada 11:29
ilmu
naqli dam ilmu waqli adalah yang termasuk kedalam ilmu-ilmu
tradisiomal,ilmu itu secara keseluruhanya didasarkan kepada berita dari
komvensi syara.bisakah bapak beritahu apa yang disebut ilmu naqli dan
ilmu wadli itu?
Balas
ina roaeni IC
|
1 Mei 2007 pada 11:36
ilmu
dalam pandangan islam banyak yang kami belum mengeri dari ilmu
tradisional dan banyak lagi ilmu-ilmu lainnya,seperti: al-manqulat dan
ilmu al-ma’qulat sepintas ilmu tersebut hampir sama, dari nama namun
depinisinya berbeda dari itu saya tidak mengerti apakah ada kesamaandan
perbedaan dari kedua ilmu tersebut.
Balas
yusi susilawati IC
|
1 Mei 2007 pada 11:40
dalam
kedudukan ilmu menurut islam salah satu satu ciri islam dalam yang
lainnya adalah penekanannbya terhadap masalah ilmu(sains) apakah ciri
lainnya yang membedakan islam tersebut.
ilmu
bukan materi yang bisa dihitung dengan nilai sehingga bisa diketahui
besar kecilnya,tapi ilmu adalah lautan yang luas yang bisa
ditelusuri,lautan yang dalam yang bisa diselami apabila kita mempunyai
keinginan.insyaallah
Balas
YOGI GINANJAR 1C
|
1 Mei 2007 pada 11:42
Setelah
menyimak karya tulis Bapak,saya menyimpulkan memang dalam ajaran agama
Islam seseorang yang berilmu mendapat kedudukan tertinggi dan
dimulyaakan tetapi Allah memandang seseorang berdasarkan dari iman dan
ketakwaannya.Saya ingin menanyakan apakah kecanggihan ilmu(sains)dapat
diimbangi atau dibatasi dengan norma-norma ajaran islam?
Balas
heri suheriIC
|
1 Mei 2007 pada 11:46
dari
sini permasalahan apakah timbul permasalahan apakah segala macam ilmu
yang harus dituntut etiap muslim dengan hukum wajib atau pardu atau
ilmu tertentu saja.hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spifikasi
ilmu dewasa ini.apa arti dari ilmu spifikasi?
Balas
essis anisa 1C
|
1 Mei 2007 pada 11:49
syech
zarnuji akan tetapi sangat disayangkan bahwa beliau yidak menjelaskan
tentang ilmu-ilmu selain ilmu hal.seperti apa ilmu hal tersebut?
Balas
teguh saputra 1C
|
1 Mei 2007 pada 11:56
ilmu
adalah pengetehuan tentang suatu bidang yang disusun segara bersistem
menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan
gejala-gejala tertentu dibidang (pengetehuan) apakah ilmu itu hanya
digunakan untuk menerangkan gejala-gejala di bidang pengetahuan
saja,apakah ilmu itu bisa juga digunakan dalam bidang lainnya seperti
dalam bidang kebudayaan atau kesenian,dan dalam bidang mistik(seperti
ramalan dan zodiak)
Balas
atin nuryatin 1 c
|
1 Mei 2007 pada 11:59
menurut
saya, sesuai dengan fakta yang saya lihat “tidak setiap orang yang
berilmu menyadari dirinya kecil dihadapan Allah SWT. Akan tetapi,
terkadang ada beberapa orang yang merasa dirinya lebih dibandingkan
dengan orang lain karena ilmu yang dimilikinya tersebut. Ilmu yang
dimiliki terkadang menjadi alat untuk menyombongkan diri. Dan masih
banyak orang yang berilmu, tetapi melakukan hal-hal yang jelas dilarang
Allah. ilmu yang dimiliki juga kadang justru dIgunakan untuk hal yang
maksiat atau merugikan orang lain. saya setuJu bahwa ilmu yang
berhubungan dengan cara amal perbuatan wajib dipelajari, tetapi kita
jangan pula mengabaikan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan duniawi.
karena hal itu bermanfaat dalam kehidupan manusia.
yang saya ingin tanyakan : maksud dari “berita pembuat syara dan
bagaimana pandangan Bapak mengenai ilmu yang berhubungan dengan mistik?
Balas
yana muliyana 1C
|
1 Mei 2007 pada 12:02
permasalahan
segala macam ilmu yang harus dituntut setiep muslim dengan hukum
wajib(fardu),atau ilmu tertentu saja.hal ini mengemukakan mengingat
sangat luasnya spisifikasi ilmu dewasa ini.apa si spisifikasi ilmu
dewasa itu?
Balas
jajang nurjaman 1C
|
1 Mei 2007 pada 12:05
Dalam
kedudukan ilmu menurut islam salah satu ciri islam dengan yang lainnya
adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains) apakah ciri lainnya
yang membedakan islam tersebut?
Balas
HERI HERMANSYAH
|
1 Mei 2007 pada 12:07
Kita
dituntut untuk mencari ilmu bahkan hal itu sudah tertera dalam hadis
dan al-quran. Tetapi kita tidak boleh terpaku pada hal mencari tahu
karena ilmu tanpa iman dan taqwa bukanlah hal yang bermanfaat apalagi
ilmu sering berkaitan dengan filsafat yang notabene belum bisa
dipercaya 100% kebenarannya.
saya pernah mendengar bahwa ajaran filsafat sering bersebrangan ajaran agama islam.Apakah demikian?
Balas
dian kartini widya putri 1C
|
1 Mei 2007 pada 12:09
ilmu
naqli dan ilmu wadli adalah ilmu yamg termasuk dlam ilmu tradisional
mengapa ilmu-ilmu tersebut termasuk kedalam ilmu tradisional apakah
tercantum dalam al-quran tentang ilmu tersebut
Balas
udesukmana
|
1 Mei 2007 pada 15:34
ude 1 C
tolong lihat email dari saya sampe apa tidak, saya lampirkan berkas makalah. terima kasih..
Balas
farid maftuh
|
2 Mei 2007 pada 22:50
Islam
memang sangat menganjurkan ummatnya untuk mencari ilmu, memahami dan
mengamalkan ilmu tersebut. Namun sayang, hal ini belum dilaksanakan
oleh ummat islam secara keseluruhan, sehingga kita banyak tertinggal.
Mungkin juga hal ini disebabkan ada pengkotak-kotakan ilmu itu sendiri,
sehingga ummat islam tidak merasa “bersalah” jika tidak mempelajari
ilmu yang ada hubungannya dengan kehidupan dunia. Maka yang terjadi
kemudian, ummat islam menjadi “penonton” kemajuan dunia. demikian
Wallaahu a’lam………..
Balas
farid maftuh, UNIKU,FE,Kary
|
2 Mei 2007 pada 22:52
Islam
memang sangat menganjurkan ummatnya untuk mencari ilmu, memahami dan
mengamalkan ilmu tersebut. Namun sayang, hal ini belum dilaksanakan
oleh ummat islam secara keseluruhan, sehingga kita banyak tertinggal.
Mungkin juga hal ini disebabkan ada pengkotak-kotakan ilmu itu sendiri,
sehingga ummat islam tidak merasa “bersalah” jika tidak mempelajari
ilmu yang ada hubungannya dengan kehidupan dunia. Maka yang terjadi
kemudian, ummat islam menjadi “penonton” kemajuan dunia. demikian
Wallaahu a’lam………..
faktor
apa yang mempengaruhi penguasaan dan teknologi sekarang di kuasai
orng-orang yahudi? karena yang kita tahu berdasarkan sejarah ilmu
pengetahuan dan teknologi dulu di kuasai oleh orang-orang muslim,contoh
ibnu sina ahli kedokteran,dll.tetapi sekarang bergeser/berpindah ke
orang yahudi yang menguasai.apa sebabnya?….
Secara
umum kajian filsafat ilmu mencakup aspek ontologis,aspek
epistemologis,axiologis.yang ingin saya tanyakan apakah ketiga aspek
tersebut saling berkaitan?dan jelaskan ketiga aspek tersebut secara
terperinci?
pengertian tentang ilmu itu banyak.mengapa bapa lebih memilih pengertian ilmu menurut agama islam?
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:41
menurut
pemahaman saya, islam merupakan agama yang cukup luas memberikan
dasar-dasar bagi perkembangan ilmu, namun tidak berarti pemahaman yang
lain keliru, ini hanya soal pilihan, belajar terus sdr slamet yaa
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:44
Sdr
Wina. keterangan itu maksudnya penjelasan dan penjelasan itu memerlukan
langkah sistematis, sementara itu ilmu adalah pengetahuan yang disusun
sistematis. bagus anda membaca buku itu lanjutkan
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:45
Sdr
Nina. ketiga hal tersebut jelas berkaitan. ontologi merupakan fondasi
bergeraknya ilmu, epistemologi merupakan cara memperolehnya, dan
axiologi merupakan kajian tentang pemanfaatan ilmu itu sendiri
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:48
Sdr
Yayah T. penguasaan ilmu berkaitan dengan banyak faktor, dari faktor
ekonomi, budaya dan politik. menurut Arselan ketertinggalan umat islam
dalam bidang ilmu karena makin jauhnya umat dari ajaran islam yang
sebenarnya
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:51
Sdr
Farid Maftuh, saya setuju pendapat anda, dan itulah yang harus kita
fikirkan, bagaimana mengatasinya. anda cukup menguasai masalah itu,
bagus dan belajar terus
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:53
Sdr Dian. itu disebabkan ilmu tersebut tidak mengacu pada landasan empiris melainkan cenderung bersifat turun-temurun
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:55
sdr
Heri. pendapat anda benar. iman dan takwa harus jadi dasar bagi pencari
ilmu, kalau demikian maka belajar filsafatpun tentu tak akan
berseberangan dengan iman
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 06:58
Sdr Jajang ciri yang utama dari islam adalah tauhidnya. jadi nuntut ilmupun perlu landasan iman dan takwa
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:00
sdr
yana. menurut Alghazali ilmu dikelompokan menjadi ilmu fardu ain dan
ilmu fardu kifayah. ilmu fardu ain kewajiban setiap orang menuntutnya,
sedang ilmu fardu kifayah bisa terwakili jika sudah ada yang menuntutnya
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:04
Sdr
Atin. berita “Pembuat syara” itu adalah tuhan yang menurunkan syariah.
sementara ilmu mistik hanyalah satu dimensi manusia dalam memahami
kehidupan diluar penggunaan akal, atau ilmu khuduri analoginya. ini
perlu pembahasan luas lain waktu. selamat buat anda
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:05
sdr teguh fungsi ilmu selain menerangkan juga mengontrol dan memperkirakan apa gejala-gejala yang akan terjadi
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:08
sdr
essi. ilmu hal adalah ilmu yang diperlukan untuk melakukan sesuatu
khususnya bidang agama, seperti cara wudu, cara sholat, dsb yang
berkaitan dengan amalan umat islam
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:09
sdr heri yang utama adalah ilmu hal, namun yang lain tetap penting bagi kehidupan manusia sehingga tetap wajib dituntut
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:11
sdr
yogi ilmu seharusnya menaati norma yang ada sebab jika tidak orang akan
memanfaatkannya secara sembarangan dan itu tentu akan merusak kehidupan
manusia
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:13
sdr yusi ciri lainnya adalah tauhidullah
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 07:16
sdr
ina ilmu mankulan adalah ilmu yang diperoleh dari penuturan yang
bermuara pada nabi dan Allah, sedang ilmu maqulat ilmu yang diperoleh
dengan menggunakan akal fikiran
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:19
sdr yati ilmu nakli ilmu yang diperoleh melalui periwayatan sedang ilmu akli berdasarkan penggunaan akal fikiran
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:23
sdr idik peramaannya sama sama ilmu sedan perbedaannya baca lagi dg cermat tulisannya
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:26
sdr neneng hal itu tentu saja bisa sebagai alat untuk menganalisanya
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:29
sdr nur arofah, bidaang apapun pada dasarnya bisa sejauh ada pemahaman tentang gejala tersebut
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:30
sdr muhendra saya setuju pendapat anda penyebutan itu hanya untuk menunjukan tekanan tentang pentingnya ilmu
Balas
uhar
|
4 Mei 2007 pada 08:31
sdr dede priatna kesamaannya adalah samasama ilmu perbedaannya dalam cara perolehannya
Untk
lebih jelas ilmu dan islam atau islam dan ilmu ada
aplikasi/penerapannya di http://awan965.wordpress.com/ coba buka
“Kehancuran Planet Bumi Tahun 2003?” pada “Yang sering dibaca…”
Balas
Ugin VR 1C PEAP
|
5 Mei 2007 pada 05:01
Kemampuan
akal manusia dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan tidak diragukan
lagi, kemampuan ini tidak dimiliki oleh mahluk lainnya karena manusia
adalah mahluk yang paling sempurna. Oleh karena itu, Allah SWT
menghendaki agar setiap umat terutama umat islam wajib menuntut ilmu
yang setinggi-tingginya karena Allah telah menjanjikan kepada umat-Nya
akan mengangkat derajat yang lebih tinggi kepada orang yang berilmu
serta Allah juga menghendaki agar tindakan dan tingkah laku kita
berdasarkan ilmu jika setiap perbuatan kita tidak berdasarkan ilmu akan
menjadi orang yang merugi disisi Allah dan akan menjadi penghuni
neraka. Dizaman sekarang ini kehebatan manusia tidak diragukan lagi,
ini terbukti karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terkadang
dengan kelebihan tersebut manusia juga bisa menjadi sombong karena ilmu
yang dimilikinya tetapi sebaliknya manusia yang tidak menggunakan
ilmunya akan menjadi orang yang bodoh dan merugi didunia. Mungkin ada
segi positif dan negatifnya dari penggunaan ilmu tersebut.
Balas
TAppkipmkng Kuningan
|
5 Mei 2007 pada 06:49
sdr
ugin, pernyataan anda benar, einstein pernah menyatakan bahwa science
without religion is blind and religion without science is lame, oleh
karena itu iman takwa dan tauhid harus menjadi fondas dalam menuntut
ilmu
Saya setuju dengan pendapat Ugin VR 1C PEAP :
“Dizaman sekarang ini kehebatan manusia tidak diragukan lagi, ini terbukti karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.”
Berkaitan dengan pendapat di atas… coba klik alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/19/kehancuran-bumi-tahun-2053-tubrukan-dengan-planet/ dan alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/25/bukti-kebesaran-allah-dan-kebenaran-al-quran/ Mungkin Anda atau siapa punya pendapat?
Balas
Atik Priantia (kelas kary.)
|
7 Mei 2007 pada 02:30
Ilmu
yang berhubungan dengan cara amal perbuatan wajib dipelajari namun
tidak ada salahnya bila kita tetap mempelajari ilmu yang berkaitan
dengan duniawi dan dalam mempelajari ilmu hendaknya dilakukan atas
kesadaran dan kemauan dari diri sendiri bukan atas dasar paksaan yang
tentunya dengan dibarengi keteguhan Iman kita kepada Allah SWT agar
kita tidak salah dalam mengamalkan ilmu yang kita peroleh. —-Amien—-
Balas
Kurwidiati (kelas kary.)
|
7 Mei 2007 pada 02:32
Betapa
pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia dan islam sangat menekankan akan
wajibnya seorang muslim untuk menuntut ilmu, namun pada kenyataannya
kita dapat melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan saat ini
dikuasai oleh ilmu-ilmu yang berasal dari pemikiran-pemikran dunia
barat dan ilmu-ilmu yang bernafaskan kaidah-kaidah islam seakan
tenggelam dibawah bayang-bayang modernisasi dunia barat.
Kita jangan lupa kepada para investos pendidikan di Indonesia….
Silakan klik artikel investor pendidikan Indonesia (yang mungkin kita
lupakan). klik saja link ini
http://endang965.wordpress.com/2007/05/04/ki-hajar-dewantara-1889-1959/ Coba buka lagi link ini tentang begitu besar Jepang menanamkan investasi pendidikannya
klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/potret-pendidikan-di-jepang/
dan
http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/fukuzawa-yukichi-tokoh-pendidikan-jepang/ Itu semua (investasi pendidikan/pendidikan seumur hidup) sudah ada dalam Al Quran 14 abad yang lalu….
Balas
Uhar
|
7 Mei 2007 pada 07:28
sdr
Kurwidiati, pendapat anda benar, saya setuju. oleh karena itu adalah
suatu keharusan untuk terus bwlajar dan menggali ilmu, agar
ketertinggalan bisa sedikit diatasi, dan umat islam dapat berjaya lagi
seperti jaman-jaman permulaan islam sampai abad 13 Masehi, jadi mari
kita belajar terus
Balas
Uhar
|
7 Mei 2007 pada 07:30
sdr
Atik Priantia, anda nampaknya sangat faham tentang bagaimana seharusnya
kita menuntut ilmu, dan saya amat sepakat dengan pendapat anda. ilmu
apapun dapat dituntut yang penting dasar keimanan dan ketakwaan harus
menjadi landasannya
Balas
nuriah (kls kary)
|
7 Mei 2007 pada 13:59
Islam
mengajar berbagai hal sebagai pegangan hidup dalam al-Quran dan Hadist,
Ilmu Pengetahuan untuk keperluan dunia dan Ilmu Agama untuk persiapan
di akherat.
Ilmu memang sangat penting sekali dalam kehidupan modern saat ini bisa
kita lihat di dunia pekerjaan seperti di instansi pemerintah betepa
hebatnya peran pendidikan apalagi pendidikan formal setingkat S-1 saat
ini semakain bersaing untuk dicapai seorang pegawai tanpa pndidkan
formal akan semakain tertinggal.
Yang lebih penting saat ini umat islam harus kembali menggali ilmu
agamanya supaya mendapt pertolongan dari Allah SWT, karena ketidak
pastian saat ini disebabkan umat islam bertingkah tidak sesuai
ketentuan Alquran dan Hadist.Hatur nuhun
Ilmu
agama harus tetap dipelajari jangan hanya berkutat dengan ilmu
pengetahuan, agar umat islam berada dijalan yang dicintai Allah SWT
mendapat pertolongan Allah SWT.
sesungguhnya
ilmu itu banyak kelebihan kepala ilmu itu tawadhu, matanya adalah bebas
dari dengki telinganya adalah faaham. lisannnya adalah kejujuran,
hapalannya adalah pemeriksaan, hatinya adalah niat yan baik, akalnya
adalah mengenal perkara-perkara yang wajib, tangannnya adalah kasih
sayang dan sillaturahmim kakinya adalah mengunjungi ulama, tekadnya
adalah kesehatan hikmahnya adalah wara atau hati-hati, tempatnya adalah
selamat,penuntunya adalah kesejahteraan, kendaraannya adalah kesetiaan
dan senjatanya adalah kelembutan bicara, pedangnya adalah keridhaan,
busurnya adalah dialog, pasukannya adalah berdekatan dengan ulama
hartanya adalah adab dan amal, tabungannya adalah menjauhi dosa,
bekalnya adalah kebaikan, airnya adalah perpisahan, petunjuknya adalah
hidayah, teman dekatnya adalah bersahabat dengan org shaleh yang
menuntut ilmu
Balas
Arif Budy (kls Karyawan)
|
9 Mei 2007 pada 04:09
Ilmu
menyediakan suatu cara yang dengannya alam semesta, dan segala sesuatu
di dalamnya, dapat diteliti guna menyingkap kehebatan dalam ciptaan
Allah, sehingga pengetahuan ini dapat disampaikan kepada segenap
manusia. Dengan demikian, agama mendorong ilmu pengetahuan,
menjadikannya sebagai alat untuk mempelajari seluk-beluk ciptaan Tuhan.
Sedangkan Islam adalah agama akal dan hati nurani. Seseorang memahami
kebenaran yang diberitakan oleh agama dengan menggunakan kearifannya,
serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari alam di sekitarnya menggunakan
hati nuraninya. Seseorang yang menggunakan akal dan hatinya dalam
memahami sifat-sifat benda apa pun di alam semesta ini, bahkan meskipun
ia bukan pakar dalam masalah tersebut, akan memahami bahwasanya itu
semua diciptakan oleh Sang Pemilik Kebijaksanaan, Ilmu, dan Kekuasaan
yang agung.
Balas
cicih nuryaningsih (kls.kary)
|
9 Mei 2007 pada 05:09
Islam
dan Ilmu memeng tidak bisa dipisahkan karena dalam alquran surat yang
pertama Al- Alaq berbunyi Iqro, Baca dan Bacalah, sehingga kedudukan
Ilmu dalam pandangan Islam bahwa Islam sangat menjungjung tinggi
orang-orang yang berilmu, dimana menuntut ilmu itu wajib bagi umat
Islam tanpa mengenal batas wilayah.
Sehingga bila manusia berilmu dan dilandasi dengan ajaran-ajaran
alquran dan hadis serta dilaksanakan dengan penuh kearifan dan
bijaksana maka ilmunya tidak akan sia-sia.
jadi kesimpulan dari ilmu menurut Filsafat Ilmu adalah ;
Ilmu bisa memberi pengetahuan dan Filsapat bisa menjadi hikmat,
bahwasanya bila kita mengakui semua yang ada di Dunia ini dengan
dilandasai oleh Ilmu maka segalanya akan kembali pada Yang Maka Kuasa.
Balas
Faida Ayu Maolani Irranisa(kls.kary. FE_Akuntansi UNIKU)
|
9 Mei 2007 pada 16:36
Sebagai
seorang muslim tentu saya setuju dengan paparan bapak tentang Ilmu
dalam pandangan islam diatas, karena menurut saya kedua hal tersebut
saling berkaitan. Islam tanpa ilmu ajaran-ajarannya tidak akan mudah
dilaksanakan dan disebarluaskan secara baik dan benar oleh setiap
muslim, dan ilmu tanpa islam; tidak akan terarah penerapannya dalam
kehidupan sebagai hamba Allah SWT.
Dapat diartikan bahwa Islam(Alqur’an dan Al-Hadist) merupakan pedoman
manusia dalam menuntut ilmu di segala aspek kehidupan.Sedangkan ilmu
dalam pandangan islam kedudukannya sangat penting dan wajib dituntut
oleh setiap manusia (Muslim), karena ilmu merupakan sarana komunikasi
dalam penyebaran, pembelajaran, pemahaman dan perlindungan islam.
comment dari saya cukup sekian dulu ya pak, bersambung… huehue
Balas
RUSMANSAH (Kls. Kary. FE UNIKU)
|
9 Mei 2007 pada 17:00
Ilmu
dalam pandangan Islam; ilmu sangat bermanfaat dalam memperdalam,
mengamalkan ajaran islam dan dengan ilmu dapat meninggikan derajat,
harkat dan martabat manusia. Islam (Alquran dan Al Hadist) sebagai
pedoman manusia dalam menelaah semua aspek-aspek dalam kehidupan ini,
dan ilmu sebagai sarana untuk menjalani kehidupan ini agar tidak keluar
jalur yang diajarkan dalam Islam.
Balas
Yudiana (Kls. Kary. FE_Akun Tk. II
|
10 Mei 2007 pada 01:47
Menurut
saya Ilmu sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab dengan ilmu
manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Sesuai
dengan hadis Nabi Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Balas
Aris Kadarisman (Kls. Kary. FE_Akun Tk. II )
|
10 Mei 2007 pada 02:08
Manusia
tanpa ilmu bagaikan seorang yang buta. Untuk berjalan ia perlukan
pimpinan. Kalau manusia ingin berjaya di dunia dan di Akhirat, kita
perlukan pimpinan yaitu ilmu. Rasulullah bersabda :
“Barang siapa mau dengan dunia, hendaklah dengan ilmu, barang siapa mau
dengan Akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa mau akan
keduanya hendaklah dengan ilmu” Tanpa kita sadari, sistem pendidikan yang kita lalui selama ini
telah banyak mempengaruhi sikap dan pemikiran kita dalam berbagai aspek
kehidupan termasuk yang berkaitan dengan ilmu. Sistem pendidikan yang
bersifat sekuler telah pula mempengaruhi sikap banyak orang dalam
mencari ilmu. Untuk ilmu-ilmu yang akan memudahkan mereka di dunia
sanggup jatuh bangun mencarinya, berkorban harta untuk pembiayaan yang
tinggi, berkorban pikiran dan tenaga untuk mendapat nilai yang baik,
ijazah dan titel. Mereka akan memilih sekolah dan guru-guru pengajar
yang mereka anggap terbaik. Tapi untuk ilmu-ilmu yang justru dapat
mengingatkan mereka pada Allah (ilmu agama) mana usaha mereka ?
Biasanya kebanyakan orang mencari ilmu agama sebagai sambilan saja.
Untuk mencari ilmu dunia, mereka mencari guru yang memang ahli di
bidangnya. Apakah dalam mencari ilmu Islam yang bertujuan untuk menjadi
orang bertaqwa, mereka betul-betul mencari orang yang dapat menjadi
model dalam ketaqwaan ?
Balas
nani sumarni (kls Karyawan)
|
10 Mei 2007 pada 05:13
Hakikatnya
ilmu dalam islam adalah suatu ketentuan yang mendasar bagi manusia
dalam menjalani kehidupan di didunia dan akhirat juga sebagi pondasi
hidup, karena untuk melakukan sesuatu hal kita harus mempunyai dasar
atau pegangan sehingga dalam pelaksanaanya kita berpedoman pada syariat
islam khususnya bagi umat islam umumnya bagi umat manusia.
Balas
Sherly stevi iman (kls Karyawan)
|
10 Mei 2007 pada 05:25
Betapa
pentingnya ilmu bagi manusia karena tanpa ilmu manusia akan melakukan
perbuatan yang melanggar aturan karena ilmu dalam islam adalah sebagai
pedoman dalam menjalani kehidupan baik dunia maupun akhirat.
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:32
sdr Sherly ilmu memang dapat membuat orang makin menyadari perannya di dunia asal didasarkan pada keimanan dan ketakwaan
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:36
sdr
nani sumarni, nabi Muhammad pernah bersabda : barang siapa ingin dunia,
hendaklah dengan ilmu, barang siapa ingin akherat hendaklah dengan ilmu
dan barang siapa ingin keduanya hendaklah dengan ilmu. jadi pemahaman
saudari sangat tepat, semoga kita bisa melakukannya
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:43
sdr
aris kadarisman, pengamatan anda amat tepat, dewasa ini memang gejala
menunjukan hal yang demikian, padahal ilmu-ilmu umum itu oleh al
ghazali dianggap sebagai fardu kifayah, dan ilmu agama dianggap fardu
ain. namun kecenderungan orang menuntut ilmu agama kurang/tidak sekuat
menuntut ilmu umum. meskipun demikian dalam pandangan saya menuntut
ilmu apapun tergantung niat dan pemanfaatannya. jika pemanfaatannya
dapat memberi kebaikan pada umat. maka ilmu umum atau agamapun bisa
punya nilai yang sama baiknya.
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:47
sdr yudiana, saya setuju pendapat anda, karena itu benar, selamat menuntut ilmu terus
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:49
sdr rusmansah anda benar, saya mengokekannya, thanks
sdr cicih komentar anda sangat religius dan memberi inspirasi besar buat saya, terima kasih
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:55
sdr
arif budi pemahaman anda cukup mendalam tentang peran dan fungsi ilmu,
dan saya amat menghormati pendapat anda tersebut, selamat belajar terus
yaa
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:57
sdr
uc kencleng dan dedi. komentar anda puitis dan amat bagus, anda
berfikir lurus tidak kencleng, dan saya sependapat dengan anda berdua
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 06:58
sdr anwar nasihin saya sangat setuju, thanks
Balas
uharsputra
|
10 Mei 2007 pada 07:00
sdr
nuriah saya amat setuju bahwa umat islam sekarang harus bangkit lagi
untuk tetap bersemangat menuntut ilmu, saya doakan sdr merupakan bagian
di dalamnya, makasih
Balas
AGIL AK, UNIKU, AKUNTANSI,KARYWN
|
10 Mei 2007 pada 12:13
ARTIKEL
DIATAS SANGAT MENARIK DIAMANA DLAM ISLAM KITA SEBAGAI MUSLIM WAJIB U
MENUNTUT ILMU. YANG MENJADI MASALAH BAGAIAMANA SUPAYA KITA TIDAK MALAS
UNTUK MENUNTUT ILMU? KIAT2 APA SUPAYA KITA BERSEMANGAT DAN BERGAIRAH
UNTUK MENUNTUT ILMU?
TRIMAKASIH.
Di
dalam ilmu ada beberapa yang perlu diperhatikan diantaranya adalah amal
perbuatan yang wajib dipelajari namun tidak ada salahnya bila kita
tetap mempelajari ilmu yang berkaitan dengan duniawi dan dalam
mempelajari ilmu hendaknya dilakukan atas kesadaran serta kemauan dari
diri sendiri bukan atas dasar paksaan yang tentunya dengan dibarengi
keteguhan Iman kita kepada Allah SWT agar kita tidak salah dalam
mengamalkan ilmu yang kita peroleh. Betapa pentingnya ilmu bagi
kehidupan manusia dan islam sangat menekankan akan wajibnya seorang
muslim untuk menuntut ilmu, namun pada kenyataannya kita dapat melihat
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan saat ini dikuasai oleh ilmu-ilmu
yang berasal dari pemikiran-pemikiran dunia barat.
Dalam
Al-Qur’an bahwa kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari
780 kali, ilmu menurut saya di digunakan tanpa harus di hitung berapa
kali. Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat di gunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan yang ingin
saya tanyakan metode-metode apakah yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tersebut.
Menurut
saya artikel Islam dan Ilmu khususnya mengenai “Klasifikasi Ilmu
Menurut Ulama Islam” kurang lengkap dan kurang menyentuh pada akar
permasalahan yang justru masalah sesebenarnya terletak pada
batasan-batasan atau sudut pandang para ulama itu sendiri. Agar tidak
menimbulkan kerancuan para pembaca sebaiknya artikel tersebut ditambah
bahan-bhan kajian yang sekiranya mendukung atau mencantumkan buku
referensi apa yang bagus untuk dibaca agar para pembaca dapat mencari
tahu lebih dalam mengenai “Klasifikasi Ilmu Menurut Ulama Islam”.
Terima kasih.
pada
artikel yang bapak tulis, tercantum bahwa mencari ilmu itu WAJIB! namun
bila tidak salah berpendapat, saya kira arti kata “wajib” itu sendiri
tidak bersifat mutlak untuk setiap ilmu dan terikat pada batasan sejauh
mana manfaat ilmu!
bagai
manakah hukumnya? apabila kita sebagai orang muslin melakukan
pendalaman ilmu alam khususnya mengenai tata surya seperti yang sedang
jadi trend dikalangan astronomi yang secara notabene mereka orang-orang
yang berasal dari non muslim! sedangkan dalam artikel diatas disebutkan
bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim!
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:16
sdr apip, hukumnya bisa mubah atau bahkan wajib jika hal itu dapat membantu umat dalam menjalankan agama
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:17
sdr denas pendapat anda benar, jadi tujuan dan manfaatnya harus dipertimbangkan dalam menuntut ilmu
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:22
sdr
indra, wawasan anda cukup luas, anda punya pemahaman yang bagus, saya
setuju bahwa tulisan itu kurang lengkap. untuk itu buku-buku lain yang
bisadibaca banyak sekali antara lain :
sain dan islam, mahdi ghulsyani
ilmu huduri, hairi yazdi
talimul mutaalim
Ihya al ghazali khususnya jilid 2
munqidu minaddolal al ghazali
hirarki ilmu dll
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:23
saya seuju pendapat anda, penghitungan itu hanya untuk menunjukan intensitas saja
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:24
adr ade semoga hal itu dapat menjadi motivasi bagi kita untuk terus belajar
Balas
uhar
|
12 Mei 2007 pada 07:26
sdr agil supaya kita tidak malas, kita harus rajin, selamat rajin yaa
Balas
Dadan Ahmad Gandara
|
12 Mei 2007 pada 12:44
Pak,
kadang-kadang saya suka bingung mengenai filsafat karena kadang-kadang
bagi pemikiran saya selalu tidak masuk akal. Akan tetapi setelah
diruntut lebih jauh mengenai filsafat saya menjadi tahau akan
pentingnya filsafat, karena filsafat timbul karena akal manusia dan
bukan dari luar akal datangnya. sekian dan terima kasih, Wassalam.
Balas
Dadan Ahmad Gandara
|
12 Mei 2007 pada 12:56
Islam dan Ilmu Ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia santap penting kaidahnya dan
dalam agama Islam sangat menekankan akan wajibnya seorang muslim untuk
menuntut ilmu. Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa kata ilmu dan
kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali, ilmu menurut saya
digunakan tanpa harus di hitung berapa kali kita mencari ilmu. Namun
pada kenyataannya saat ini kita dapat melihat bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan dikuasai oleh ilmu-ilmu yang berasal dari
pemikiran-pemikran dunia barat dan ilmu-ilmu yang bernafaskan
kaidah-kaidah Islam seakan tenggelam dibawah bayang-bayang modernisasi
dunia barat.
Tetapi dengan demikian selaku umat muslim sudah sewajarnya untuk
mengetahui ilmu pengetahuan yang bernafaskan kaidah-kaidah Islam,
meskipun kita tidak mendalami lebih jauh.
Wassalam. Dadan Ahmad Gandara
04202520589
Manajemen (Karyawan)
Fak. Ekonomi Uniku
Balas
novianti sagala(kls Karyawan)
|
14 Mei 2007 pada 02:32
Islam
adalah ajaran yang sempurna. Menyuruh umatnya beribadah untuk
kepentingan akhirat serta beramal saleh untuk kepentingan dunia.
Melarang umatnya melakukan kerusakan di muka bumi dan ilmu merupakan
sebuah karunia yang tak ternilai sehingga dapat menjadi pedoman bagi
kelangsungan hidup manusia.
Balas
Leli Nurleli(kls Karyawan)
|
14 Mei 2007 pada 02:59
Untuk
memahami dan menjelaskan tingkah laku kita sendiri dan orang lain, kita
membutuhkan kerangka acuan. Dan sebagai seorang muslim, tentu saja
kerangka acuan yang digunakan juga haruslah yang mencerminkan segi-segi
Islami. Dan untuk menyusun teori-teori kepribadian yang berwawasan
Islam, kita harus tetap memakai dan juga menguasai ilmu pengetahuan
masa kini dan juga mampu merekonstruksikan ilmu-ilmu itu sehingga
menjadi suatu yang selaras dengan wawasan dan yang ideal dalam islam.
Balas
Risna Juanda (kls kary Smt 6)
|
14 Mei 2007 pada 06:06
Setelah
saya membaca artikel Bapak, menurut pendapat saya ilmu itu WAJIB
dipelajari tapi bukan semua ilmu dipelajari karena umur kita tidak
mencukupi. Sehingga menurut saya, bagi seorang muslim ilmu yang
prioritas wajib dipelajari setiap pribadi adalah Ilmu Hal yakni ilmu
yang mempelajari bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian
setelah itu baru mempelajari ilmu-ilmu yang dapat melangsungkan
kehidupannya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu-ilmu yang tidak
bermanfaat.
Assalamualaikum,setelah
membaca artikel dari bapak dan sesuai dengan pengalaman saya .apakah
benar orang yang mempunyai ilmu itu akan mempunyai kedudukan yang
tinggi dibanding orang yang tidak berilmu?soalnya ada teman saya yang
menurut saya dia amat pintar dan sesuai dengan hadist bahwa ilmu itu
harus diamalkan,tp yang terjadi dengan teman saya dia dicap sebagai
orang yang sombong.sebenarnya bagaimana cara mengamalkan ilmu yang
baik?karena setelah dicap orang sombong dia jadi minder.dan jadi tidak
mau mengamalkan ilmunya,padahal dia ingin sekali menjalankan hadis
nabi.wassalam
ASS.apakah
kita harus percaya pada ilmu-ilmu tradisional yang biasanya berhubungan
mistik seperti ilmu perbintangan.?apakah kita boleh untuk
mempelajarinya?sesuai dalam artikel bapa kita harus mencari ilmu sampai
ke negeri cina,seperti saya ketahui ilmu mistik banyak menyimpang dari
ajaran islam,bagaimana tanggapan bapa tentang hal itu?wass.
Balas
fitri juhaeriah/1.B/PE-AP
|
14 Mei 2007 pada 06:29
Assalamualaikum Wr.Wb
Setelah saya membaca artikel Bapak, ada yang saya tidak mengerti, dalam
artikel bapak disebutkan bahwa secara umum kajian Filsafat Ilmu itu
mencakup:
1. Aspek Ontologis, berkaitan dengan objek ilmu, maksudnya ilmu apa?
2. Aspek Epistemologis, berkaitan dengan metode, metode yang digunakan itu metode apa?
3. Aspek Axiologis, berkaitan dengan pemanfaatan ilmu, Bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu? Wss.
Balas
Rita pebriani
|
14 Mei 2007 pada 06:29
ilmu
menempati kedudukan yang penting dalam islam,apakah orang yang memiliki
ilmu dan agama yang tinggi itu berarti mereka memiliki akhlak yang
tinggi pula?karna pada kenyataannya banyak orang yang memiliki ilmu dan
agama yang tinggi,tapi kedua hal tersebut tidak dapat di terapkan dalam
kehidupannya,misalnya orang tersebut mengetahui hal itu salah dan di
larang agama tapi mereka tetap melakukannya,apakah prinsip tersebut
hanya di terapkan untuk kepentingan pribadi?contoh korupsi di kalangan
DPR.bagaimana hukumnya dalam islam?
Assalamualaikum,setelah
membaca artikel dari bapak dan sesuai dengan pengalaman saya .apakah
benar orang yang mempunyai ilmu itu akan mempunyai kedudukan yang
tinggi dibanding orang yang tidak berilmu?soalnya ada teman saya yang
menurut saya dia amat pintar dan sesuai dengan hadist bahwa ilmu itu
harus diamalkan,tp yang terjadi dengan teman saya dia dicap sebagai
orang yang sombong.sebenarnya bagaimana cara mengamalkan ilmu yang
baik?karena setelah dicap orang sombong dia jadi minder.dan jadi tidak
mau mengamalkan ilmunya.wass
Balas
Alis Ernawaty/1.B/PE-AP
|
14 Mei 2007 pada 06:39
Assalamualaikum Wr.Wb
Setelah saya membaca artikel bapak,dalam kedudukan ilmu sangatlah
penting.sehingga salah satu yang membedakan islam dengan yang lainnya
adalah penekanannya terhadap ilmu (sains).menurut saya jadi ilmu dengan
agama sangatlah berkaitan.karena ilmu tanpa agama akan buta.dan agama
tanpa ilmu akan gelap
Balas
Nufazri amalia/1.B/PE-AP
|
14 Mei 2007 pada 06:42
Dari
mana asal ungkapan carilah ilmu sampai ke negri cina?padahal pada zaman
dulu orang luar yang mencari ilmu ke indonesia,walaupun pada
kenyatannya sekarang terbalik.apa keistimewaan negri cina sehingga di
masukan dalam ungkapan itu?
Balas
Rita pebriani/1.B/PE-AP
|
14 Mei 2007 pada 06:53
ilmu
menempati kedudukan yang penting dalam islam,apakah orang yang memiliki
ilmu dan agama yang tinggi,akan memiliki akhlak yang tinggi pula?karna
pada kenyataannya banyak orang yang memiliki ilmu dan agama yang
tinggi,tapi kedua hal tersebut tidak dapat di terapkan dalam
kehidupannya misalnya orang tersebut mengetahui bahwa hal itu
salah,tapi mereka tetap melakukannya,apakah prinsip tersebut hanya di
terapkan untuk kepentibgan pribadi?contoh korupsi di kalangan
DPR.bagaimana hukumnya dalam islam?
Saya setuju dengan pendapat Ugin VR 1C PEAP :
“Dizaman sekarang ini kehebatan manusia tidak diragukan lagi, ini terbukti karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.”
Berkaitan dengan pendapat di atas… coba klik alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/19/kehancuran-bumi-tahun-2053-tubrukan-dengan-planet/ dan alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/25/bukti-kebesaran-allah-dan-kebenaran-al-quran/ Kita jangan lupa kepada para investos pendidikan di Indonesia….
Silakan klik artikel investor pendidikan Indonesia (yang mungkin kita
lupakan). klik saja link ini
http://endang965.wordpress.com/2007/05/04/ki-hajar-dewantara-1889-1959/ Coba buka lagi link ini tentang begitu besar Jepang menanamkan investasi pendidikannya
klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/potret-pendidikan-di-jepang/
dan
http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/fukuzawa-yukichi-tokoh-pendidikan-jepang/ Itu semua (investasi pendidikan/pendidikan seumur hidup) sudah ada dalam Al Quran 14 abad yang lalu…. Menurut saya orang Jepang sudah melaksakan perintah Islam yaitu,
belajarlaj mulai dari lahir sampai dewasa, ambil yang baiknya buang
yang buruknya, bagaimana dengan kita? Padahal Jepang bukan (mayoritas) Islam…
PAK
SAYA PERNAH MEMBACA DALAM ARTIKEL LAIN MENGENAI ILMU DAN ISLAM DAN SAYA
MENEMUKAN KATA YANG BERTULISKAN “ILMU TANPA AGAMA PINCANG, SEDANGKAN
AGAMA TANPA ILMU BUTA” APA MAKNA DARI KATA TERSEBUT. DARI SUDUT PANDANG
MANAKAH PENINJAUAN ITU.APA HANYA SUDUT PANDANG ISLAM SAJA.ATAU AGAMA
LAIN SECARA UNIVERSAL BERLAKU JUGA?DAN SEBERAPA PENTINGKAH HUBUNGAN
ILMU DAN AGAMA
“Allah
meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman
diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan)
dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ajaran Islam bagaimana derajat/ kedudukan orang-orang yang tidak
berilmu, tetapi orang tersebut beriman kepada Allah? atau sebaliknya
bagaimana derajat/kedudukan orang-orang yang berilmu, tetapi tidak
diimbangi dengan iman dan taqwa kepada Allah? Eman Sulaeman
Tk III/ Akuntansi
orang
yang berilmu adalah orang yang bermanfaat bagi orang di sekelilingnya.
tapi pada kenyataan nya tidak sedikit orang yang berilmu tinggi, dengan
gelar yang berjejer tidak mampu mengamalkan ilmunya, tidak mampu
menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari sesuai syariat
islam.contohnya masih banyak kita temukan tindakan kriminalitas yang
justru didalangi oknum berilmu tadi. jadi pada akhirnya lebih baik kita
tidak berilmu, tapi menjadi orang yang bermanfaat. wassalam meyliawati III/ Akuntansi (karyawan)
Balas
nur apriyaningsih/1.B/PE-AP
|
16 Mei 2007 pada 04:03
ass,
dalam artikel bapak, aristoteles menyebutkan bahwa manusia itu adalah
hewan yang berakal sehat,bagaimana pandangan bapak tentang teori itu,
dilihat dari sudut pandang islam?apakah bapak setuju atau tidak?wss
Balas
Yusef Firmansyah/1.B/PE-AP
|
16 Mei 2007 pada 05:04
Ass.
Pak apa maksud dari Reflective Thingking (berfikir secara serentak)
yang terdapat dalam salah satu ciri karakteristik manusia? Kenapa
termasuk dalam karakteristik manusia?
Balas
Aryono (Kelas Karyawan/SMT VI)
|
16 Mei 2007 pada 06:07
Keberanian,
Kekuatan, Nafsu, Cinta dimiliki juga oleh binatang tidak hanya pada
manusia, tapi untuk ilmu hanya ada pada manusia inilah yang membedakan
manusia dan binatang.Jadi kalau manusia tidak mau menuntut ilmu
derajatnya akan turun seperti binatang.permasalahannya sekarang
bagaimana ilmu itu bisa diamalkan bukan ilmu untuk ilmu. Sehingga jaman
sekarang ilmu itu baru ada di buku, di Flas Disk, di Lap Top Sehingga
pada saat ada masalah bingung tidak bisa menyelesaikan karena ilmunya
belum bisa masuk kehati. .
Balas
TONI OSWARA(TK.III/MANAJEMEN-KARYAWAN)
|
16 Mei 2007 pada 11:22
Betapa
mulyanya ilmu dimata Islam, sehingga Allah menaikan derajat yang lebih
tinggi pada orang yang berilmu. Tapi masalahnya apakah semua ilmu yang
ada itu di ridhaoi oleh Allah? karena orang bisa masuk surga karena
ilmunya juga sebaliknya orang bisa masuk neraka karena ilmunya.
Balas
WAWAN SETIAWAN(MANAJEMEN KARYAWAN)
|
17 Mei 2007 pada 05:05
Nabi
muhammad SAW diturunkan oleh Allah sebagai rahmatan lil’alamin, pada
jaman itu adalah jaman jahiliyah yaitu kebodohan, Berkat ilmu yang
diwahyukan oleh Allah kepada beliau jaman kebodohan mulai terkikis
manusia mulai mengenal man yang baik dan mana yang salah,saya setuju
dengan bapak Islam dan Ilmu tidak dapat dipisahkan..
Balas
TK
|
17 Mei 2007 pada 05:09
MAAF PAK ADA KESALAHAN BUKAN TONI OSWARA TAPI TONI KOSWARA, MAKASIH PAK..
Balas
ROKIDIN (KELAS KARYAWAN)
|
17 Mei 2007 pada 05:16
Islam
sangat mengagungkan ilmu, tetapi mengapa pak justru orang islam yang
sering diperbudak oleh ilmu tersebut. contoh aliran islam radikal,
teroris misalnya mereka menghalakan membunuh manusia dengan alasan
jidad. apa yang salah pak ilmunya atau orangnya?
Balas
jujun junaedi (kelas karyawan , semester 6
|
17 Mei 2007 pada 05:47
Ya,
saya sependapat dan sangat setuju, Orang yang berilmu dalam pandangan
islam mempunyai kedudukan dan derajat yang lebih tinggi, karena orang
yang berilmu dalam melakukan segala aktivitas dan tindakan sesuai
dengan norma dan tuntunan yang sudah digariskan dalam ajaran Isla,
manusia tak luput dari hubungan dengan ALLAH (hablumminallah) dalam
bentuk rutinitas ibadah ( Shalat, Zakat, Puasa, Ibadah Hajji, Thoharah
dll) dimana masing-masing ibadah memerlukan ilmu dan pengetahuan agar
dalam pelaksanaan dan dan tata cara ibadah sesuai dengan tuntunan yang
telah diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dan manusia juga harus
berhubungan dengan sesama manusia (hablumminannash) dalam bentuk
(aturan jual beli, pembagian harta warisan, utang piutang, cara
mengurus jenazah, musaqqoh-paroan kebun, hidup bertetangga dll) dimana
ini memerlukan suatu ilmu untuk menjabarkan hidup bermasyarakat dan
sosial agar bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan norma dan
etika hidup bermasyarakat tanpa ada yang merasa dirugikan salah satu
pihak. Contoh dalam pembagian harta warisan, Islam sudah menjabarkan
dengan jelas siapa saja yang berhak untuk mendapatkan harta warisan dan
berapa persen pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan, tetapi
kalau kita tidak punya ilmunya maka pembagian warisan akan menimbulkan
perselisihan, hubungan antar keluarga menjadi renggang bahkan yang
lebih ironis bisa terjadi saling membunuh antar saudara sendiri. Dan
didalam Islam, orang yang berilmu akan sadar bahwa betapa kecilnya
manusia dihadapan ALLAH dan dengan Ilmu pula dalam bertindak dan
bertutur kata akan hati-hati dan Wa’ra karena takut akan azab ALLAH
yang maha dahsyat, sehingga dijelaskan oleh ALLAH dalam firmannya surat
At-taubah ayat 122 yang artinya ” Tidak sepatutnya bagi orang-orang
yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang, mengapa tidak pergi
dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “. Juga diperkuat oleh Hadits
nabi dari Ibnu Abdul Barr ” Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang
laki-laki dan perempuan “.
Jadi antara Ilmu dan Islam sangat berkaitan dan bersinergi satu sama
lain untuk menciptakan hubungan yang khusus dan ritual dengan ALLAH dan
terpeliharanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia
sesuai norma, aturan, tatacara dan tuntunan berdasarkan Ilmu yang
dimiliki.
Balas
Andriyanto/1.B/PE-AP
|
17 Mei 2007 pada 07:53
ass..pak
damang?alhmdllh saya sdh baca artikel bpk..saya ada prtnyaan dan pngn
tahu pak, ada yg menyatkan bhw ilmu berpengetahuan itu pntng bagi
kehdpn.kita dan yg pling pnting lg bhw ilmu unk beribdah itulah yg
pling penting..trus kalau hnya slah satu dr ke2 prnytaan itu yg
dilksnakan bgmna pak?krn dlm kehdpan realita skrng bhw tdk smua orang
dpt menimba ilmu kejenjang lbh tnggi dsbabkan faktor ekonomi,apkh tnp
ilmu mnusia dpt beribadah dngan baik?krn orng yg tak berilmu sngt
mmpengruhi trhdp akhlak dan perbuatan ibadahnya,apkh hrs dituntut untk
bs mlkukan ke2nya?trim’s wss..
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:16
sdr
dadan, kalau makin mendalam mempelajari suatu ilmu, sedikit-sedikit
kebingungan akan hilang yang penting belajar terus dan gunakan akal
semampu kita sehingga makin berkembang, trims
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:18
sdr
novianti segala ilmu penting tergantung bagaimana menerapkannya dan
motivasi menuntutnya, jadi selamat berenang di samudra ilmu
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:20
sdr leli, anda nampak punya pemahaman akan perlunya ilmu didasari nilai-nilai agama, saya setuju banget
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:22
sdr
risna, itulah yang menurut ulama ilmu fardu ain perlu didahulukan
menuntutnya, karena ilmu ini merupakan petunjuk dalam menjalani
kehidupan yang baik sesuai nilai agama.
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:25
sdr
erna, itu merupakan gejala sosial yang unik, namun yang penting
bagaimana dengan ilmu itu kita bisa engabdi dengan tulus, jika sudah
demikian cap sombong itu hanyalah kedengkian belaka, dan tak perlu
terlalu jadi fikiran, karena tuhan tahu itu
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:28
sdr
mega, memahami ilmu suatu hal dan mengamalkannya adalah hal lain,
ilmu-ilmu mistik merupakan fakta sosial yang ada dan memahaminya
memerlukan kesiapan dengan cara dan paradigma berfikir yang berbeda
dari scientific thinking, kapan-kapan kita diskusi lebih jauh ya
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:30
sdr fitri saya berharap anda dapat membaca lagi tulisan saya dalam filsafat ilmu, selamat yaaaa
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:32
sdr
rita, tak ada jaminan memang, tapi secara ideal orang berilmu dan
beragama punya potensi kuat untuk menjadi orang berahlak mulya
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:33
sdr alis anda memang benar, saya setuju
Balas
uhar
|
19 Mei 2007 pada 04:36
sdr nurfazri itu ungkapan hikmah dan bukan hadis, hanya untuk menunjukan intensitas pentingnya ilmu saja
pada
prinsipnya ajaran agama islam tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan
filsafat ilmu yang sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Artinya
seluruh umat manusia di wajibkan untuk mencari ilmu baik itu ilmu dunia
maupun ilmu akhirat,dengam tujuan adamya ilmu pengetahuan itu,umat
manusia khususnmya umat muslim bisa mengarahkan tujuan hidupnya ke arah
yang lebih baik dan sempurna sesuai dengan apa yang telah di jabarkan
dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5
Balas
uhar
|
20 Mei 2007 pada 04:36
sdr Sri febrianingsih, saya setuju pendapat anda, keseimbangan selalu diperlukan.
Balas
Irmawanti Hidayat, (Kry AK)
|
20 Mei 2007 pada 13:51
Telah
banyak keterangan yang menyatakan bahwa setiap orang wajib menuntut
ilmu, akan tetapi kenyataan banyak orang yang ilmunya mumpuni tetapi
tidak islami, alangkah indahnya apabila manusia dalam menuntut ilmu itu
didasari oleh iman dan takwa.
Balas
Dudi Rusamsi/1.B/Pe-AP
|
21 Mei 2007 pada 04:23
Asalamualaikum
,setelah saya baca artikel bpk!ada yang saya tanyakan,disana kan
dikatakan bahwa wajib bagi seseorang untuk menuntut ilmu!tapi bagaimana
dengan anak-anak kurang mampuh!kan dizaman sekarang serba mahal dan
serba bayar,makasih pak!
Balas
Jujun Jaenudin/I.B/pe-ap
|
21 Mei 2007 pada 04:24
Assalamuallaikum,,
Kalssfikasi ilmu menurut ibnu khaldun ada 2 yaitu:
1. ilmu yang merupakan suatu yang alami pd manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir
2. ilmu yang bersifat tradisional (naqil)
pak,apakah ilmu yang bersifat tradisional lahir sejak dini atau adanya ilmu tersebut lahirnya dari pergaulan kita sendiri?
Balas
Ade Kurniadi/1.B/PE-AP
|
21 Mei 2007 pada 04:37
Ass.
Pak setelah saya membaca artikel bapak, ada yang mau saya tanyakan
tentang klasifikasi ilmu pengetahuan, ada al maksyufat yaitu ilmu yang
diterima langsung dari sumber illahi tanpa keterlibatan indera maupun
pikiran spekulatif, maksudnya bagaimana?
Balas
Uun Laruni/1B/PE-AP
|
21 Mei 2007 pada 04:44
assalamualaikum,,,setelah
saya baca artikel bapak.saya ingin menanyakan bahwa ilmu itu memang
penting bagi kehidupan kita trus apa yang mendasari kita untuk mendidik
generasi muda?dan apa yang menjadi acuan kita untuk mengarahkan
generasi muda dalam proses pendidikan?terimakasih.wassalamualaikum,,,
Balas
Eti Damayanti/1.B/Pe-AP
|
21 Mei 2007 pada 04:54
Assalamualaikum.Dalam
pandangan islam kita wajib menuntut ilmu,dan di dalamnya terdapat ilmu
mistik atau ilmu ghaib.bagaimana pandangan bapak jika ada orang yang
berilmu tetapi tidak mempercayai hal-hal yang ghaib d luar batas
kemampuan manusia? misalnya dalam peristiwa isra miraj nabi Muhammad di
berangkatkan dari langit ke 1 sampai langit ke 7.Tetapi ada orang yang
berilmu tidak mempercayai hal itu.Terima kasih.Wassallam.
Balas
Mayasaroh Nur A./1B/PE-AP
|
21 Mei 2007 pada 04:59
assalamualaikum,,,
setelah saya membaca artikel bapak, saya mau menanyakan klasifikasi
yang dikemukakan oleh ibnu khaldun yang membagi kelompok ilmu kedlm dua
kelompok yaitu yang pertama ilmu yang merpakan suatu yang alami pada
manusia yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpkir,dan yang
kedua ilmu yang bersifat tradisional..yang saya tanyakan apakah ada
keterkaitan antara kedua klasifikasi ilmu yang diungkapan oleh ibnu
khaldun?trim’s wassalamualaikum….
Balas
Novi Hernawati/1.B/Pe-AP
|
21 Mei 2007 pada 05:13
Assalamuallaikum,,
pak,apakah seorang muslim wajib memiliki ilmu atau hanya ilmu-ilmu tertentu yang harus dimiliki oleh seorang muslim?
Balas
LAELIAYAH M./UNIKU/AKUNTANSI/KRYWN
|
21 Mei 2007 pada 12:46
Ass.
Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan
membusuknya umur. Sebaliknya ilmu adalah cahaya bagi hati nurani,
kehidupan bagi ruh dan dan bahan bakar bagi tabiat.
Kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari
ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar,
menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Selain
itu naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal
yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.
ayo….sahabat2 .jangan malas kita harus rajinnnnnnn
(La Tahzan, jangan bersedih !, nikmatnya ilmu pengetahuan)
Balas
AGIL AK, UNIKU, AKUNTANSI,KARYWN
|
21 Mei 2007 pada 12:48
Ass.
Untuk tidak malas mencari ilmu kita harus tahu dulu manfaat dr ilmu
itu. alhamdulillah setelah tau nikmatnya ilmu pengetahuan, Kita harus
semangat dan rajin ya pa …”kebodohan itu sangat membosankan dan
menyedihkan. Pasalnya ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih
menarik dan segar, bila kita ingin senantiasa bahagia, tuntutlah ilmu,
galilah pengetahuan dan raihlah berbagai manfaat, niscaya semua
kesedihan, kepedihan dan kecemasan akan sirna”….”ALANGKAH MULIANYA ILMU
PENGETAHUAN. ALANGKAH GEMBIRANYA JIWA SESEORANG YANG MENGUASAINYA.
ALANGKAH SEGARNYA DADA ORANG YANG PENUH DENGANYA, DAN ALANGKAH LEGANYA
PERASAAN ORANG YANG MENGUASAINYA”. {Ya Rabb-ku, tambahkan kepadaku ilmu
pengetahuan.” “ Ya Allah, aku memohon ilmu yg bermanfaat, amal
perbuatan yg dtrima, rejeki yg lapang dan perbaikilah perilakuku serta
jauhkanlah aku dari pada perbuatan jelek”}….amin
Balas
asep kuhro
|
22 Mei 2007 pada 00:47
menurut pendapat saya :
Islam dan ilmu itu sangat berhubungan sekali dan tidak bisa dipisahkan
satu sama lain. ilmu sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari,
karena kalau tidak ada ilmu tidak akan terarah dan teratur juga ulmu
menambah pengetahuan kita. karena itu ilmu adalah pengetahuan tentang
sesuatu baik bidang agama ekonomi, politis dan lain -lain, yang
merupakan pengetahuan-pengetahuan.
dalam islam ilmu juga sangat penting sekali, karena ilmu berhubungan
dengan keimanan dalam diri kita masing-masing, dalam islam orang yang
beriman pasti berilmu, cuma cara berimannya itu berbeda-beda ada iman
yang kuat dan ada yang tipis.
orang yang beriman itu sangat berharga dan sangat dihargai, ilmu dalam islam juga penting untukmenambah ilmu agama.
ada hadis yang mengatakan carilah ilmusam,pai ke negri cina, maksudnya
calrilah ilmu walaupun jauh keujung negeri. walaupun banyak rintangan
dan kendala yan akan menghadang kita kedudukan ilmu sangat tinggi dan
terhormast dalam islam, maka kita wajib mencari ilmu setinggi-tingginya.
ilmu islam mengajarkan wajinb hukumnya kita beribadah pada Allah SWT,
juga mentaati apa yang diperintahkannya danmenjauhi
larangan-laranganya. ilmu itu sifatnya alami, dengan berfikir kita bisa
menemukan ilmu, dengan membaca kita akan menemukan ilmu jadi ilmu
apapundan dimanapun bisa cari.
N A M A : ASEP KUHRO
TK/JURUSAN : III/MANAJEMEN
NIM : 04202510476
Balas
mulyana saleh/kls.karyawan/tk.III/manjemen ekonomi
|
22 Mei 2007 pada 04:15
Asslmkm
Wr.Wb. Saya sangat setuju bahwa islam sangat mengapresiasi ilmu
pengetahuan,bahkan orang -orang eropa yang sekarang kita akui (suka
atau tidak suka) menjadi pemimpin peradaban,dulunya dulu sekali ketika
islam mengalami puncak peradabannya,di baghdad irak atau di
andalusia,orang-arang islam adalah guru mereka.ketika itu orang-orang
eropa mengalami apa yang disebut era kegelapan,konon di ibu kota
inggris jalan kota becek terkena hujan.Sekarang kondisinya berubah sama
sekali.Bahkan orang islam sendiri kadang meragukan orang islam
lainya,contoh ketika musibah sunami yang menimpa aceh beberapa tahun
yang lalu,Arab saudi akan menyalurkan bantuan berupa bangunan jika
pengelola proyek itu dilakukan oleh tim dari jerman,dan tidak mau
memberikan bantuannya ketka dikelola oleh orang-orang indonesia,yang
tidak lain adalah mayoritas islam.Hal ini patut kita renungkan bersama
selaku sama-sama orang islam,Kalau kata Zainuddin MZ,”orang islam jangn
seperti main layangan ajaran islamnya tinggi menjulang tapi ummatnya
dibawah menjadi penonton.Paradigma ini harusd dirubah karena islam
sangat menyanjung ilmu sedemikian rupa Firman Allah SWT dalam Al Qur’an
yang artinya “Allah akan meninggikan orang-orang berilmu beberapa
derajat” harusnya menjadi cambuk bagi ummat ini untuk meningkatkan
kualitas pendidikan seoptimal mungkin disegala bidang,baik itu
akidah,ekonomi,sosial,budaya,hankam,bahkan polotik.Masalahnya terkadang
ada orang-orang yang memisahkan antara ilmu agama dan umum.padahal di
persia di acara majlis-majlis ilmu pengetahuan yang membahas ilmu
perbintangan/fisika yang berkembang pada era puncak peradaban islam
sebelum mengupas tentang ilmu yang akan di bahas,diawali dengan
pembacaan ayat suci Al Qur’an tentang kekuasaan Allah mengenai alam
raya.Sehingga tidak akan terjadi kebuntuan berfikir ketika kemudian di
hubungkan dengan maakholakta hadza batila (tidak ada sesuatu yang
diciptakan Allah yang tidak ada manfaatnya).trimakasih.Wasslmlkm Wr.Wb.
Balas
Desi Nuria/1.B/PE-AP
|
23 Mei 2007 pada 05:57
Ass.
Pak kenapa sekarang ini banyak orang yang kurang memahami tentang
ajaran islam, bahkan ada juga yang belum bisa baca qur’an, kenapa hal
ini bisa terjadi? Apakah karena pengaruh dari arus modernisasi atau
karena kurangnya kepedulian terhadap agama? Bagaimanakah caranya agar
mereka tertarik untuk mempelajari agama islam? Terima kasih!!!
Balas
Desi Nuria/1.A/PE-AP
|
23 Mei 2007 pada 06:05
Maaf pak,Desi Nuria kelas 1.A bukan 1.B. Terima kasih.
Balas
NOVRIYANI 1.B PE-AP
|
25 Mei 2007 pada 05:06
Ass
pa gimana cara yang baik mengamalkan ilmu tanpa harus kelihatan
sombong?dan bagai mana cara nya menjaga ilmu tersebut agar ilmu yang
sudah kita miliki tidak mudah hilang dan selalu diingat.apakah ilmu itu
akan hilang kalau ilmu itu tidak diamalkan.wassalam
Balas
sobarudin 1.B PE-AP
|
4 Juni 2007 pada 12:55
Assalamualaikum
WRWB. apabila kita berbicara dalam kontek keilmuan, kita tak akan lepas
dari eksistensi kemanusiaan. didalam teori mahluk hidup kita mengenal
teori pluralisme yaitu semua mahluk yang berada di dunia adalah ciptaan
Allah SWT. dan teori modern terbagi atas dua bagian: pertama teori
biogenesis yaitu bahwa mahluk hidup itu berasal dari mahluk tak hidup,
seperti cacing dari tanah ulat dari daging yang membusuk, kedua teori
Abiogenesis yaitu mahluk hidup berasal dari mahluk hidup, yang menjadi
pertanyaan:
1. Dalam kontek keislaman, kita menyakini bahwa manusia itu besal dari
tanah, apakah tanah yang dimaksud dalam dalam islam tersebut merupakan
tanah bumi atau tanah apa?
2. Apabila kita lihat dalam teori biogenesis, apakah asal usul terciptanya manusia menurut paradigma islam bisa menjadi ilmiah?
3. Apakah terciptanya manusia menurut keyakinan islam hanya sebagai filsafat saja ataukah bisa menjadi sebuah teori ilmiah..??
4. Menurut islam, apakah bumi tercipta lebih dahulu sebelum manusia diciptakan untuk menempatinya?
Balas
Rina Farina 1.B PE-AP
|
5 Juni 2007 pada 10:49
Ass..Pak.
orang yang memiliki ilmu, senantiasa akan memiliki derajat yang tinggi?
sedangkan bagaimana dengan orang yang tidak memiliki ilmu cukup tinggi
namun ia memiliki akhlak yang mulia?bagaimana pula dengan orang yang
berilmu namun tidak memiliki akhlak yang mulia seperti kaum
yahudi?kenapa setiap orang yang berilmu bisa memiliki derajat yang
tinggi?
Balas
kartim 1B PE-AP
|
5 Juni 2007 pada 13:08
Assalamualaikum
menurut bapak apakah islam liberal itu suatu islam yang lebih baik dari pada islam yang tradisional?
karena menurut saya islam liberal itu akan banyak persepsi atau
pemikiran yang berbeda,sehingga banyak penapsiran yang mengacu kesuatu
syariah yang dihalalkan.Sedangkan islam tradisional akan mengarah
kepada kemunafikan,dan itu akan menghambat perkembangan islam dan tidak
bisa menyusuaikan dengan jaman modern. Menurut pandangan bapak dari dua istilah islam liberal dan islam tradisional itu bagaimana
1. Dampak negatif dan positif islam liberal dan islam tradisional
2. Apakah islam liberal sudah universal di Indonesia ini
3. Bagaimana dampaknya jika kita menjalankan islam tradisional saja dan
4. Bagaimana jika banyak persefsi islam liberal apa yang terjadi
setelah
saya membaca tulisan bapak tentang islam dan ilmu mengenai firman Alloh
s.w.t dalam alqur’an surat AL Mujadalah ayat 11 bahwa ayat tersebut
dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu(diberi
ilmu pengetahuan)akan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. yang saya
akan tanyakan :
-kedudukan yang lebih tinggi yang bagai manakah di mata ALLOH.
- Semakin ilmu berkembang dan semakin orang di beri ilmu pengetahuan
yang tinggi tetapi banyak orang yang menyalah gunakan ilmu tersebut
.apakah ada azab alloh apabila ilmu pengetahuan tersebut di salah
gunakan mohon penjelasannya. Nama : Sri Yuningsih
Nim : 2005032605
tingkat :lanjutan
semester : II/Ic
jurusan : FE-AP
Balas
EVY SOFIATY
|
11 Juni 2007 pada 06:10
ASS..Pak??
saya pernah membaca sbuah artikel dr Prof. Dr. Ahmad Salabi bahwa
“kemerdekaan yang sudah mereka dapat itu akan hilang dan lenyap, kalau
tidak didampingi agama dgn kemajuan ilmu pengetahuan …”. Sehubungan
analisa di atas ada 3 hal dlm perhubungan ilmu dan agama:
1. Kuasa agama terhadap ilmu
2. Pemisahan daerah agama dan ilmu
3. Integrasi agama dan ilmu
Yang ingin saya tanyakan, menurut Bapak apakah maksud dari 3 hal tsb? saya kurang mengerti.
terimakasih. Wass..
Balas
EVY SOFIATY/IB/PE_AP
|
11 Juni 2007 pada 06:18
ASS..Pak??Saya
pernah membaca sbuah artikel dari Prof.Dr. Ahmad Salabi Bahwa
“Kemerdekaan yang sudah mereka dapat itu akan hilang dan lenyap, kalau
tidak didampingi agama dan kemajuan ilmu pengetahuan…”.Sehubungan
analisa di atas ada 3 hal dlm perhubungan ilmu dan agama:
1. Kuasa agama terhadap ilmu
2. Pemisahan daerah agama dan ilmu
3. Integrasi agama dan ilmu
Yang ingin saya tanyakan, menurut Bapak apakah maksud dari 3 hal tsb? saya kurang mengerti.
Terimakasih. Wass..
Balas
Ririn Harini.K/1B/PE_AP
|
12 Juni 2007 pada 11:01
Ass…..!!!!!! Saya telah membaca artikel bapak dan isinya cukup menarik dan ada hal yang menjadi fikiran saya yaitu:
1.Tentang asal usul manusia yang dalam artikel bapak dikatakan bahwa
manusia berasal dari segumpal darah tapi ada sebagian pendapat yang
menyatakan bahwa manusia berasal dari kera dan sebagian lagi menyatakan
bahwa manusia berasal dari tanah.bagaiman pendapat bapak tentang hal
itu???????
2.Kenapa kita harus mempelajari filsafat ilmu dan apa manfaatnya bagi kehidupan rohani kita???????
Balas
Lilis suryani/1B/PE_AP
|
12 Juni 2007 pada 11:08
Ass….!!Saya
telah membaca artikel bapak dan saya sangat setuju dengan isi
artikelnya.Dan yang ingin saya tanyakan mengapa orang-orang yang
mempunyai kedudukan tinggi biasanya orang2 yang tidak mempunyai moral
padahal mereka pintar-pintar,bagaimana menurut bapak tentang hal ini??
Balas
Didin Sudirman Kelas Karyawan Semester 6 Manajemen
|
12 Juni 2007 pada 14:40
ilmu
ialah pengetehuan tentang suatu bidang yang disusun menurut metode
tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu
dibidang pengetehuan dan ilmu itu hanya digunakan untuk menjelaskan
gejala di bidang pengetahuan saja.
Balas
Didi Rosadi Kelas Karyawan Semester 6 Manajemen
|
12 Juni 2007 pada 14:43
Ilmu
menurut pandangan Islam yaitu ilmu sangat bermanfaat dalam mendalami,
mengamalkan ajaran islam serta dengan ilmu dapat meninggikan harkat dan
martabat manusia. Islam sebagai pedoman manusia dalam menelaah semua
aspek-aspek dalam kehidupan ini, dan ilmu sebagai sarana untuk
menjalani kehidupan ini agar tidak keluar jalur yang diajarkan dalam
Islam
Ilmu
atau ilmu pengetahuan boleh di cari sampai negeri cina dan ilmu
pengetahuan boleh digali sedalam-dalamnya tetapi keluruhan nilai dari
ilmu itu sendiri dilihat dari manfaatnya untuk orang lain bukan sekedar
bahan untuk diperdebatkan atau didiskusikan sehingga janganlah ilmu
hanya menjadi sebuah teori. Wiwin Sriwinarni / F.E. Uniku / Kls. Karyawan
2005052354
Balas
Nono
|
15 Juni 2007 pada 08:58
Pak
Kalo saya pernah dengar ada seorang ustadz berpendapat Ilmu Atau Al
‘Ilm yang dimaksud adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT
melalui Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan yang lain adalah disebut seni saja. Seni arsitektur, seni kedokteran, dll.Bagaimana pak ?
Balas
Cucu Suprapti,NIM 2005.05.2290, kelas karyawan akuntansi
|
15 Juni 2007 pada 09:02
Islam dalam ilmu
Islam diawali dengan proses keilmuan yaitu “Iqro” = bacalah.
sebagaimana diperintahkan, sebagaimana hamba 4jjl untuk menuntut ilmu
sampai ke negeri cina, sepanjang hidup.
Barang siapa menghendaki dunia maka wajiblah memiliki ilmu, barang
siapa menghendaki akhirat maka wajiblah memiliki ilmu, dan barang siapa
menghendaki keduanya maka ia wajib memiliki ilmu. untuk itu, betapa
pentingnya ilmu karena ilmu merupakan akar segala kehidupan manusia
yang menjadikan manusia menjadi mahluk yang paling mulia disisi 4jjl. kesimpulan “manusia tanpa ilmu bagaikan hidup tanpa nilai”
Balas
dadang sunarya
|
19 Juni 2007 pada 06:03
jelaslah
islam sangat menganjurkan kita untuk mencari ilmu, di dalam hadistpun
menjelaskan bahwa wajibnya menunutut ilmu dari buaian orang tua sampai
ke liang lahat (meninggal dunia) dari sini jelaslah kedudukan ilmu
didalam islam sangat penting sekali. dan dalam Al-Quran juga dijelaskan
orang yang berilmu akan diangjat derajat oleh Allah SWT di bandingkan
orng yang tidak berilmu.
kita selaku umat islam tidak ada alasan untuk tidak mencari ilmu secara formal maupun informal.
Assalamu”alaikum
Wr. Wb. Sebelumnya saya mohon maaf kalo tugas ini baru saya kirim.
Membaca artikel bapa mengenai “Islam dan Ilmu” saya tertarik sekali dan
saya berpendapat bahwa Mengingat betapa pentingnya ilmu bagi kehidupan
manusia, betapa mulianya ilmu di Mata Islam, dan di zaman modern ilmu
mendapat penghargaan sangat tinggi. Sudah banyak sekali bukti dalam
kehidupan sehari-hari yang mengatakan bahwa ilmu dijunjung tinggi,
walaupun ada juga kekecewaan kepadanya karena konsekwensinya juga harus
dipikul. Sudah jelas & sudah menjadi suatu kepercayaan yang luas
bahwa ilmu serta berbagai metodenya mempunyai sesuatu keistimewaan.
Yang ingin saya tanyakan : Apa sebenarnya yang telah membuat ilmu itu
demikian istimewa ? NAMA : TITA NOVITA
JURUSAN : AKUNTANSI/FE UNIKU
SEMSTER : VI
KELAS : KARYAWAN
Balas
uya elang
|
8 Agustus 2007 pada 04:53
semoga tetap jaya dan bertambah artikel-artikel yang bisa membuat orang lain sadar.By elang di Aceh
Tidak
ada yang lebih tinggi dari Islam, dan islam sebagai petunjuk akan mampu
membawa manusia yang berusaha mengenal islam dengan benar ke arah
peningkatan derajat manusia itu sendiri. Artinya hanya orang-orang yang
berilmu yang akan ditingkatkan derajatnya oleh Allah SWT.
saya
mau tanya jd apa2 saja yg mnjadi contoh, filsafat ilmu
ontologis,epistemologis,dan axiologis,,tlng berikan jwbannya karena
diatas tdk ada penjesannya,terimakasih.
Balas
Mirza
|
4 Maret 2010 pada 15:40
Agama
didefinisikan sebagai tuntunan ilahi bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan duni dan akhirat. sjalan dgn psatnya perkmbngan ilmu
pengtahuan dan tekhnologi, perhatian terhadap agama semakin berkurang.
menurut pendapat anda, apa arti agama bagi kehidupan manusia dan apakah
ia bertentangan dengan ilmu Pengetahuan (sain)
Dalam
Islam, ilmu tidak hanya menekankan pada intelektual semata tanpa
memperhatikan etika dan norma-norma agama. artinya ilmu dalam Islam
bukan bebas nilai (free value)tapi penuh dengan nilai (nilai), sehingga
dengan semakin memperdalam atau menggali ilmu, semakin menjadikan orang
tersebut bijaksana dalam memahami hidup dan kehidupan ini. Jadi kalau
dengan perkembangan ilmu dan teknologi seseorang malah makin jauh dari
Tuhanya, maka orang itu tidak mengerti akan hakekat ilmu itu sendiri.
Allah berfirman: sesungguhnya yang paling takut kepada allah diantara
hamba –hambanya adalah ulam (surat faatir:28.)
lalu
bagaimana tetang pengklasifikasian terhadap ilmu islam, agar menjadi
islam yang baik tentu dibutuhkan pemahaman ilmu dasar tentang keislaman
apakah itu? ada sebagian ulama menyebutkan seperti ini: ilmu dasar
islam terdiri dari 3 ilmu:
1. ilmu fiqih
2. ilmu tauhid
3. ilmu tasawuf.. apakah definisi tersebut sudah benar?
ilmu dasar islam terdiri dari 2 ilmu :
1.ilmu kalam (pemikiran)
2.ilmu tasawuf(pensucian) pada waktu zaman ilmu kalam di kembangkan islam tak terkalahkan
dalam bidang apapun,sampai islam menguasai 2/3 dunia,tetapi pada waktu
muncul nya ilmu tasawuf ,umat islam banyak mengutamakan pendekatan diri
kepada Allah(Taswauf).ilmu tasawuf pun berkembang,ada nama nya tasawuf
kontemporel yang mana menjadikan manusia menjadi Zuhud.yang mana
mencari kekayaan.menciptakan teknologi dan apa yang berhubungan dengan
kemajuan dalam kehidupan.tetapi apa yang didapat itu dijadikan proses
pendekatan kepada Allah.orang yang Zuhud tidak terlalu cinta/terkesan
terhadap keuangan,teknologi(DUNIA).lawan dari pada zuhud adalah hubud
dunia.
Balas
Riesnandar
|
12 Januari 2012 pada 10:19
Lihat
Al Qur-an Surat Ar Rahman ayat 2 ‘Allamal Qur-aan (Dia / Allah yang
telah mengajarkan Al Qur-an) pada kata ‘Allama (dari kata dasar ‘ilman)
berarti yang dimaksud dengan ‘ilmu itu sendiri adalah Al Qur-an. jadi
Al Qur-an adalah satu-satunya ‘ilmu dalam kehidupan ini yang datang
dari Allah untuk manusia melalui raul-Nya guna memperlakukan alam yang
seluruhnya adalah patuh / tergantung kepada Allah. maka hal ihwal
selain dari Al Qur-an merupakan bayangannya atau pemutarbalikannya saja.
Balas
Amin
|
20 Januari 2012 pada 09:06
assalamualaikum… bapak gimana jika kita begitu susah memeahami sebuah ilmu….
sy btuh makalah yg lengkap mengenai menuntut ilmu dlm islam,mulai dr pendahuluan sampai daftar pustaka
Balas
Nida maulina r
|
3 April 2012 pada 16:15
dalam filsafat ilmu membahas ilmu dan nilai, ilmu bebas nilai dan ilmu tidk bebas nilai
saya ingin bertanya bagaimana islam memandang ilmu yg terkait dng ilmu bebas nilai dan ilmu tidk bebas nilai ?
Ada
seorang ustad yang berceramah mengenai ilmu, dia beranggapan bahwa ilmu
yang dipelajari disekolah seperti fisika,biologi dll, tidaklah penting
untuk dipelajari. saya pribadi tidak setuju dengan pendapat ini karena
walaubagaimanapun ilmu yang tertulis didunia ini berupa ayat kauniyyah
adalah ilmu Allah juga. bagaimana pendapat ustad mengenai hal ini?
Balas
pencari kebenaran
|
6 Mei 2012 pada 14:06
Hubungan agama dengan ilmu Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama
dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada
didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang dilihat
oleh manusia seputar hubungan antara agama dengan ‘ilmu’ maka kita
harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh
berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan dan
versi sudut pandang manusia.
Pertama adalah definisi pengertian
‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang lahir melalui saintisme
yang mendeskripsikan definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai ‘segala suatu
yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar
wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan
sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai
saintisme,faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah
‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai
atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan
manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang
mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan
keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua
dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu.pandangan
Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan
sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak
bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan
Tuhan.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai
‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata
Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab
baik agama maupaun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil
berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian
‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi
wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena ilmu harus
mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib
sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga
tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu akan berbenturan dengan agama.
Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus
definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu
berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan
konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep
ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya
berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera
sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa
menafsirkan agama.
Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita
analisis adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan
dengan agama itu,bila itu adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi
saintisme (yang membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera)
maka itu adalah suatu yang pasti akan terjadi,sebab agama tidak
membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera sebab dalam
pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus bisa menjangkau
keseluruhan baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga dua alam
itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai satu kesatuan system).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada
sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah
jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang
benar menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti
secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah
kacamata saintisme menghakimi agama sebagai ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi
sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama
bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal
dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara
langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata
secara langsung).jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang
dikekang.
Yang mesti diingat ‘sains’ (kini) pengertiannya adalah ilmu seputar
dunia materi (yang bisa terbukti secara empirik) jadi sains bukanlah
ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah
cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia
indera,sebab itu sungguh janggal bila sains menghakimi agama yang
wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan
meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam.
Balas
pencari kebenaran
|
6 Mei 2012 pada 14:27
Perbedaan
pandangan yang bersifat mendasar antara agama dan filsafat dalam hal
‘ilmu’ dan ‘kebenaran’ adalah : dalam agama ilmu (dan kebenaran) itu
bersifat hierarkis sebab berujung atau mengerucut atau bermuara pada
satu titik yaitu (pengertian) Tuhan,sedang dalam filsafat ilmu dan
kebenaran itu datar dan acak sebab tidak bermuara pada satu titik tapi
bermuara pada banyak kepala,pada banyak mazhab,pada banyak
pendapat,bahkan hingga saat ini.bahkan dalam filsafat kontemporer nasib
‘kebenaran’ makin parah sebab ia dijatuhkan kembali ke lembah
relativisme seperti zaman sophies dulu.tapi masih banyak orang yang
terpesona dengan filsafat dan masih memandangnya sebagai ‘ibu
kebenaran’ padahal karena filsafat berasal dari hasil olah fikir
manusia yang serba terbatas maka apa yang datang dari dunia filsafat
selalu terdiri dari dua bagian : yang benar dan yang salah,sehingga
keliru kalau filsafat dikultuskan sebagai ‘kebenaran’.
Balas
ujang bandung
|
10 Juni 2012 pada 03:15
mana
yang lebih dahulu tahu dalam hal segala suatu termasuk ilmu apakah
manusia atau Tuhan (?) kalau manusia yang terlebih dahulu tahu berarti
Tuhan tahu belakangan dari manusia dan itu berarti Tuhan tidak maha
tahu,sedang kalau Tuhan maha tahu konsekuensinya secara logika adalah
Tuhan yang terlebih dahulu tahu segala macam ilmu dari pada
manusia,jadi manusia yang sombong dengan merasa bahwa ilmu adalah
‘ciptaannya’ berarti ia tidak tahu darimana sebenarnya ilmu
berasal,apakah ia tidak faham bahwa ilmu itu turun melalui ilham dan
para penemu ilmu dizaman dahulu hanya tahu setelah datang padanya apa
yang disebut ilham,sebagai contoh manusia bangga dengan iolmu komputer
yang canggih tapi (bila memakai logika) tidakkah ia berfikir bahwa
mustahil Tuhan takjub dengan ilmu komputer yang ditemukan oleh manusia
sebab sebelum manusia diciptakanpun seluruh ilmu yang saat ini sudah
ditemukan manusia termasuk ilmu tentang komputer sudah ada pada
Tuhan.sebab itu coba perluas cara berfikir logika akal fikiran anda
tentang Tuhan (!) anda pasti menemukan hal hal yang mengejutkan (!)
Balas
Dr. Uhar Suharsaputra
|
10 Juni 2012 pada 04:55
Tuhan
menunjukaan dan mengarahkan manusia melalui nabi, rasul dan kitab suci,
bagi umat islam Quran bukan kitab ilmu pengetahuan tapi petunjuk, yang
diperlukan manusia untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya dalam
memahami sunnatullah fil alam dan sunattulaah fi tasyri….jadi peran
manusia sebagai khalifah jelas amat menentukan dalam menggali semua
itu, dan dari situ berkembanglah ilmu….terima kasih atas nasehatnya
yaaa, saudaraku ujang bandung….belajar ters baca terus…..yaaaaa…
Wah,
Alhamdulillah hebat komentar tentang Ilmu, bagi saya marilah kita
buktikan kalau sudah berilmu, apakah yang sudah kita perbuat, Allah
menuntut hasil ilmu yang kita peroleh, bukan sekedar mengagungkannya,
belum bisa menjamin orang yang banyak ilmunya, mampu memperaktekkannya,
ini banyak kita buktikan, kekayaan alam yang diberikan Allah belum
mampu kita bisa manfaatkan, hingga banyak terjadi musibah yang
menghantam diri kita sendiri, karena rasa syukurnya yang minimalis,
yang ada kecongkakan manusianya hingga menimbulkan saling perselisihan
dan permusuhan, ini diakibatkan karena mersa berilmu lebih baik dari
yang lain. padahal kita memiliki ilmu apapun tanpa seizin Allah swt
tidak akan mampu menguasainya. sumber ilmu sebenarnya ada dalam surat
Al`Alaq yang 5 ayat disebutkan diatas. bila dikembangkan akan
memperoleh hasil : 1. Manusia mengenal Rabbnya. 2. Manusia akan
mengenal dirinya. 3. Manusia selalu sadar untuk melakukan kebajikan 4.
Manusia selalu mendapat petunjuk dari Allah dalam kemudahan 5. manusia
mampu memiliki keterampilan hidup untuk mengembangkan amal kebajikan
yang ada dalam dirinya. smoga yang 5 ayat ini bisa kita kembangkan
menjadi 666 ayat berikutnya bisa setahap demi setahap kita mampu
memperaktekkannya. Dan semuanya ini untuk persiapan amailah kita
diakhirat kelak.
Balas
pencari kebenaran
|
1 Juli 2012 pada 13:27
Kemudian
bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah
apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang
keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat
dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme
dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita
harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’
sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara
empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah
alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan
realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu
bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu
versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab
pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit
sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis
metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti
secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar
dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal
dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas
atau hal hal yang bersifat abstrak.(bila mata indera adalah alat untuk
menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk
menangkap konstruksi nya sedang hati menangkap essensinya).
Sebab itu bila ilmu diibaratkan sebuah bangunan besar yang memiliki
banyak ruang maka ‘sains’ (termasuk teknologi) didalamnya adalah salah
satu kamarnya.inilah gambaran tentang ilmu yang tidak difahami kaum
materialist,yang gambarannya tentang ‘ilmu’ hanya hidup diruang
‘sains’.ia lupa atau tidak tahu bahwa teramat banyak ruang lain yang
untuk memasukinya memiliki metode yang berbeda dengan sains. Jadi mesti diingat bahwa ‘sains’ pengertiannya kini harus difahami
sebagai ‘ilmu seputar dunia materi’ (yang bisa terbukti secara empirik)
agar dalam pandangan manusia pengertiannya tidak tumpang tindih dengan
definisi pengertian ‘ilmu’ yang sebenarnya. jadi ‘sains’ bukanlah ilmu
dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya
terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera, (sebab
itu sungguh janggal bila parameter sains digunakan sebagai alat untuk
menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan
realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk
mengukur lautan nan dalam). Artinya bila dilihat dari kacamata sudut pandang Tuhan maka apa
yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu,tapi
kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya)
definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah konsep
saintisme / yang memparalelkan pengertian ‘ilmu’ dengan ‘sains’ seolah
hanya sains = ilmu, dan ilmu = hanya sains,dimana selain ‘sains’ yang
lain hanya dianggap ‘pengetahuan’ (sebagaimana telah tertera dalam buku
buku teks filsafat ilmu).
Kaum materialist tidak mau menerima bila
konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme
berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang
pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan
metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti
‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran
berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap
agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar
ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat
universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata
dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit
secara berimbang).
Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar
dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak
terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang
sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’
adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara
metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk
bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja
realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera
manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada
manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa
menangkapnya. Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar
hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang
saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi
saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan
saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai
kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga
kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada
diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas
wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’
versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan
berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia
konkrit.
Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang
juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab
dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan
saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang
berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya
manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta
beragam persepsi yang berbeda beda itu padahal semua ada dalam satu
realitas keseluruhan dan mengkristal kepada suatu kesatuan
konsep-makna-pengertian).
Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi
seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi
provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology
materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah
bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik
melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga
melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya
mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan
ilmu.
Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji
kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih
dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa –
teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma
teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan
murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan
nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar
fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.ironisnya tidak sedikit
ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini
sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang
seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah
hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas
kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia
menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara
agama dengan ilmu. ‘Sains murni’ seperti hukum fisika mekanisme alam semesta,hukum
hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu
biology dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti
dan terukur pada dasarnya pasti tidak akan bertentangan dengan agama
justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar
kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh
kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dihadapkan pada garis
terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara
langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu
hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang
sejarah didunia.
Saat ini dengan eksistnya ideology materialisme
ilmiah di dunia sains nampak fitnah itu seperti dijaga ketat supaya
terus ada hingga kini dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang
tidak ilmiah sekalipun,seperti contoh : kengototan luar biasa dalam
mempertahankan teori Darwin saat teori itu makin terbukti tidak
memiliki validitas ilmiah-kemudian penafsiran teori relativitas lalu
fisika kuantum ke arah yang sudah bukan sains lagi yaitu ke tafsir
tafsir materialistik,dicurigai dibalik semua itu mereka sebenarnya
tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab
kesatu paduan agama dengan ilmu sudah pasti akan menghancurkan
‘kredibilitas ilmiah’ ideology atheistik materialistik yang bersembunyi
dibalik wacana wacana filsafat-sains.
Pemikiran-pandangan-opini-pernyataan sudut pandang materialist itulah
yang membuat filsafat-sains nampak selalu berbenturan langsung dengan
agama,dan mereka (materialist) berusaha memonopoli tafsir tafsir
seputar sains sehingga penafsir sains yang menafsirkan segala suatu
seputar sains diluar cara pandang mereka akan langsung distigma kan
sebagai pernyataan yang ‘apologistik’ (dibuat buat agar nampak
‘ilmiah’).
Kesimpulannya : adanya dua konsep ‘ilmu’ melahirkan adanya dua konsep
kebenaran yang jauh berbeda : kebenaran versi sudut pandang manusia dan
kebenaran versi sudut pandang Tuhan. (karena ilmu adalah konstruksi
dari konsep kebenaran).dimana ’kebenaran’ versi sudut pandang manusia
yang terkonsep dalam ‘saintisme’ adalah bentuk kebenaran yang wilayah
cakupan nya terbatas pada segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman
indera dan atau bisa dibuktikan secara empirik,berbeda jauh dengan
konsep ‘kebenaran’ versi Tuhan yang wilayah cakupan nya meliputi serta
merangkum keseluruhan realitas (yang abstrak dan yang konkrit).
Dengan mengenal konstruksi dari dua bentuk konsep kebenaran yang jauh
berbeda akan mempermudah kita dalam mengurai problem agama dengan ilmu
termasuk juga problem benturan yang paling mendasar antara kacamata
sudut pandang ‘Barat’ dengan Islam.dan harus disadari kita harus
memiliki kerangka dasar ilmiah yang konstruktif dalam melawan dominasi
konsep – pengertian ‘ilmu’ versi barat. http://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/
1.almanqulat
2.alma’qulat
3.almksyufat.
yang ingin saya tanyakan apakah ada kesamaan dan perbedaan antara ilmu almanqulat dengan alma’qulat.Terima kasih
yang saya ingin tanyakan : maksud dari “berita pembuat syara dan bagaimana pandangan Bapak mengenai ilmu yang berhubungan dengan mistik?
saya pernah mendengar bahwa ajaran filsafat sering bersebrangan ajaran agama islam.Apakah demikian?
tolong lihat email dari saya sampe apa tidak, saya lampirkan berkas makalah. terima kasih..
“Dizaman sekarang ini kehebatan manusia tidak diragukan lagi, ini terbukti karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.”
Berkaitan dengan pendapat di atas… coba klik alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/19/kehancuran-bumi-tahun-2053-tubrukan-dengan-planet/
dan alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/25/bukti-kebesaran-allah-dan-kebenaran-al-quran/
Mungkin Anda atau siapa punya pendapat?
Silakan klik artikel investor pendidikan Indonesia (yang mungkin kita lupakan). klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/04/ki-hajar-dewantara-1889-1959/
Coba buka lagi link ini tentang begitu besar Jepang menanamkan investasi pendidikannya
klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/potret-pendidikan-di-jepang/
dan
http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/fukuzawa-yukichi-tokoh-pendidikan-jepang/
Itu semua (investasi pendidikan/pendidikan seumur hidup) sudah ada dalam Al Quran 14 abad yang lalu….
Ilmu memang sangat penting sekali dalam kehidupan modern saat ini bisa kita lihat di dunia pekerjaan seperti di instansi pemerintah betepa hebatnya peran pendidikan apalagi pendidikan formal setingkat S-1 saat ini semakain bersaing untuk dicapai seorang pegawai tanpa pndidkan formal akan semakain tertinggal.
Yang lebih penting saat ini umat islam harus kembali menggali ilmu agamanya supaya mendapt pertolongan dari Allah SWT, karena ketidak pastian saat ini disebabkan umat islam bertingkah tidak sesuai ketentuan Alquran dan Hadist.Hatur nuhun
Sehingga bila manusia berilmu dan dilandasi dengan ajaran-ajaran alquran dan hadis serta dilaksanakan dengan penuh kearifan dan bijaksana maka ilmunya tidak akan sia-sia.
jadi kesimpulan dari ilmu menurut Filsafat Ilmu adalah ;
Ilmu bisa memberi pengetahuan dan Filsapat bisa menjadi hikmat, bahwasanya bila kita mengakui semua yang ada di Dunia ini dengan dilandasai oleh Ilmu maka segalanya akan kembali pada Yang Maka Kuasa.
Dapat diartikan bahwa Islam(Alqur’an dan Al-Hadist) merupakan pedoman manusia dalam menuntut ilmu di segala aspek kehidupan.Sedangkan ilmu dalam pandangan islam kedudukannya sangat penting dan wajib dituntut oleh setiap manusia (Muslim), karena ilmu merupakan sarana komunikasi dalam penyebaran, pembelajaran, pemahaman dan perlindungan islam.
comment dari saya cukup sekian dulu ya pak, bersambung… huehue
“Barang siapa mau dengan dunia, hendaklah dengan ilmu, barang siapa mau dengan Akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa mau akan keduanya hendaklah dengan ilmu”
Tanpa kita sadari, sistem pendidikan yang kita lalui selama ini telah banyak mempengaruhi sikap dan pemikiran kita dalam berbagai aspek kehidupan termasuk yang berkaitan dengan ilmu. Sistem pendidikan yang bersifat sekuler telah pula mempengaruhi sikap banyak orang dalam mencari ilmu. Untuk ilmu-ilmu yang akan memudahkan mereka di dunia sanggup jatuh bangun mencarinya, berkorban harta untuk pembiayaan yang tinggi, berkorban pikiran dan tenaga untuk mendapat nilai yang baik, ijazah dan titel. Mereka akan memilih sekolah dan guru-guru pengajar yang mereka anggap terbaik. Tapi untuk ilmu-ilmu yang justru dapat mengingatkan mereka pada Allah (ilmu agama) mana usaha mereka ? Biasanya kebanyakan orang mencari ilmu agama sebagai sambilan saja. Untuk mencari ilmu dunia, mereka mencari guru yang memang ahli di bidangnya. Apakah dalam mencari ilmu Islam yang bertujuan untuk menjadi orang bertaqwa, mereka betul-betul mencari orang yang dapat menjadi model dalam ketaqwaan ?
TRIMAKASIH.
sain dan islam, mahdi ghulsyani
ilmu huduri, hairi yazdi
talimul mutaalim
Ihya al ghazali khususnya jilid 2
munqidu minaddolal al ghazali
hirarki ilmu dll
sekian dan terima kasih, Wassalam.
Ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia santap penting kaidahnya dan dalam agama Islam sangat menekankan akan wajibnya seorang muslim untuk menuntut ilmu. Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali, ilmu menurut saya digunakan tanpa harus di hitung berapa kali kita mencari ilmu. Namun pada kenyataannya saat ini kita dapat melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh ilmu-ilmu yang berasal dari pemikiran-pemikran dunia barat dan ilmu-ilmu yang bernafaskan kaidah-kaidah Islam seakan tenggelam dibawah bayang-bayang modernisasi dunia barat.
Tetapi dengan demikian selaku umat muslim sudah sewajarnya untuk mengetahui ilmu pengetahuan yang bernafaskan kaidah-kaidah Islam, meskipun kita tidak mendalami lebih jauh.
Wassalam.
Dadan Ahmad Gandara
04202520589
Manajemen (Karyawan)
Fak. Ekonomi Uniku
Setelah saya membaca artikel Bapak, ada yang saya tidak mengerti, dalam artikel bapak disebutkan bahwa secara umum kajian Filsafat Ilmu itu mencakup:
1. Aspek Ontologis, berkaitan dengan objek ilmu, maksudnya ilmu apa?
2. Aspek Epistemologis, berkaitan dengan metode, metode yang digunakan itu metode apa?
3. Aspek Axiologis, berkaitan dengan pemanfaatan ilmu, Bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu? Wss.
Setelah saya membaca artikel bapak,dalam kedudukan ilmu sangatlah penting.sehingga salah satu yang membedakan islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu (sains).menurut saya jadi ilmu dengan agama sangatlah berkaitan.karena ilmu tanpa agama akan buta.dan agama tanpa ilmu akan gelap
“Dizaman sekarang ini kehebatan manusia tidak diragukan lagi, ini terbukti karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.”
Berkaitan dengan pendapat di atas… coba klik alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/19/kehancuran-bumi-tahun-2053-tubrukan-dengan-planet/
dan alamat ini
http://awan965.wordpress.com/2007/03/25/bukti-kebesaran-allah-dan-kebenaran-al-quran/
Kita jangan lupa kepada para investos pendidikan di Indonesia….
Silakan klik artikel investor pendidikan Indonesia (yang mungkin kita lupakan). klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/04/ki-hajar-dewantara-1889-1959/
Coba buka lagi link ini tentang begitu besar Jepang menanamkan investasi pendidikannya
klik saja link ini http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/potret-pendidikan-di-jepang/
dan
http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/fukuzawa-yukichi-tokoh-pendidikan-jepang/
Itu semua (investasi pendidikan/pendidikan seumur hidup) sudah ada dalam Al Quran 14 abad yang lalu….
Menurut saya orang Jepang sudah melaksakan perintah Islam yaitu, belajarlaj mulai dari lahir sampai dewasa, ambil yang baiknya buang yang buruknya, bagaimana dengan kita?
Padahal Jepang bukan (mayoritas) Islam…
Dalam ajaran Islam bagaimana derajat/ kedudukan orang-orang yang tidak berilmu, tetapi orang tersebut beriman kepada Allah? atau sebaliknya bagaimana derajat/kedudukan orang-orang yang berilmu, tetapi tidak diimbangi dengan iman dan taqwa kepada Allah?
Eman Sulaeman
Tk III/ Akuntansi
meyliawati III/ Akuntansi (karyawan)
.
Jadi antara Ilmu dan Islam sangat berkaitan dan bersinergi satu sama lain untuk menciptakan hubungan yang khusus dan ritual dengan ALLAH dan terpeliharanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia sesuai norma, aturan, tatacara dan tuntunan berdasarkan Ilmu yang dimiliki.
Kalssfikasi ilmu menurut ibnu khaldun ada 2 yaitu:
1. ilmu yang merupakan suatu yang alami pd manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir
2. ilmu yang bersifat tradisional (naqil)
pak,apakah ilmu yang bersifat tradisional lahir sejak dini atau adanya ilmu tersebut lahirnya dari pergaulan kita sendiri?
pak,apakah seorang muslim wajib memiliki ilmu atau hanya ilmu-ilmu tertentu yang harus dimiliki oleh seorang muslim?
Kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Selain itu naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.
ayo….sahabat2 .jangan malas kita harus rajinnnnnnn
(La Tahzan, jangan bersedih !, nikmatnya ilmu pengetahuan)
Islam dan ilmu itu sangat berhubungan sekali dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. ilmu sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, karena kalau tidak ada ilmu tidak akan terarah dan teratur juga ulmu menambah pengetahuan kita. karena itu ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu baik bidang agama ekonomi, politis dan lain -lain, yang merupakan pengetahuan-pengetahuan.
dalam islam ilmu juga sangat penting sekali, karena ilmu berhubungan dengan keimanan dalam diri kita masing-masing, dalam islam orang yang beriman pasti berilmu, cuma cara berimannya itu berbeda-beda ada iman yang kuat dan ada yang tipis.
orang yang beriman itu sangat berharga dan sangat dihargai, ilmu dalam islam juga penting untukmenambah ilmu agama.
ada hadis yang mengatakan carilah ilmusam,pai ke negri cina, maksudnya calrilah ilmu walaupun jauh keujung negeri. walaupun banyak rintangan dan kendala yan akan menghadang kita kedudukan ilmu sangat tinggi dan terhormast dalam islam, maka kita wajib mencari ilmu setinggi-tingginya.
ilmu islam mengajarkan wajinb hukumnya kita beribadah pada Allah SWT, juga mentaati apa yang diperintahkannya danmenjauhi larangan-laranganya. ilmu itu sifatnya alami, dengan berfikir kita bisa menemukan ilmu, dengan membaca kita akan menemukan ilmu jadi ilmu apapundan dimanapun bisa cari.
N A M A : ASEP KUHRO
TK/JURUSAN : III/MANAJEMEN
NIM : 04202510476
1. Dalam kontek keislaman, kita menyakini bahwa manusia itu besal dari tanah, apakah tanah yang dimaksud dalam dalam islam tersebut merupakan tanah bumi atau tanah apa?
2. Apabila kita lihat dalam teori biogenesis, apakah asal usul terciptanya manusia menurut paradigma islam bisa menjadi ilmiah?
3. Apakah terciptanya manusia menurut keyakinan islam hanya sebagai filsafat saja ataukah bisa menjadi sebuah teori ilmiah..??
4. Menurut islam, apakah bumi tercipta lebih dahulu sebelum manusia diciptakan untuk menempatinya?
menurut bapak apakah islam liberal itu suatu islam yang lebih baik dari pada islam yang tradisional?
karena menurut saya islam liberal itu akan banyak persepsi atau pemikiran yang berbeda,sehingga banyak penapsiran yang mengacu kesuatu syariah yang dihalalkan.Sedangkan islam tradisional akan mengarah kepada kemunafikan,dan itu akan menghambat perkembangan islam dan tidak bisa menyusuaikan dengan jaman modern.
Menurut pandangan bapak dari dua istilah islam liberal dan islam tradisional itu bagaimana
1. Dampak negatif dan positif islam liberal dan islam tradisional
2. Apakah islam liberal sudah universal di Indonesia ini
3. Bagaimana dampaknya jika kita menjalankan islam tradisional saja dan
4. Bagaimana jika banyak persefsi islam liberal apa yang terjadi
-kedudukan yang lebih tinggi yang bagai manakah di mata ALLOH.
- Semakin ilmu berkembang dan semakin orang di beri ilmu pengetahuan yang tinggi tetapi banyak orang yang menyalah gunakan ilmu tersebut .apakah ada azab alloh apabila ilmu pengetahuan tersebut di salah gunakan mohon penjelasannya.
Nama : Sri Yuningsih
Nim : 2005032605
tingkat :lanjutan
semester : II/Ic
jurusan : FE-AP
1. Kuasa agama terhadap ilmu
2. Pemisahan daerah agama dan ilmu
3. Integrasi agama dan ilmu
Yang ingin saya tanyakan, menurut Bapak apakah maksud dari 3 hal tsb? saya kurang mengerti.
terimakasih. Wass..
1. Kuasa agama terhadap ilmu
2. Pemisahan daerah agama dan ilmu
3. Integrasi agama dan ilmu
Yang ingin saya tanyakan, menurut Bapak apakah maksud dari 3 hal tsb? saya kurang mengerti.
Terimakasih. Wass..
1.Tentang asal usul manusia yang dalam artikel bapak dikatakan bahwa manusia berasal dari segumpal darah tapi ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera dan sebagian lagi menyatakan bahwa manusia berasal dari tanah.bagaiman pendapat bapak tentang hal itu???????
2.Kenapa kita harus mempelajari filsafat ilmu dan apa manfaatnya bagi kehidupan rohani kita???????
Wiwin Sriwinarni / F.E. Uniku / Kls. Karyawan
2005052354
Sedangkan yang lain adalah disebut seni saja. Seni arsitektur, seni kedokteran, dll.Bagaimana pak ?
Islam diawali dengan proses keilmuan yaitu “Iqro” = bacalah. sebagaimana diperintahkan, sebagaimana hamba 4jjl untuk menuntut ilmu sampai ke negeri cina, sepanjang hidup.
Barang siapa menghendaki dunia maka wajiblah memiliki ilmu, barang siapa menghendaki akhirat maka wajiblah memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka ia wajib memiliki ilmu. untuk itu, betapa pentingnya ilmu karena ilmu merupakan akar segala kehidupan manusia yang menjadikan manusia menjadi mahluk yang paling mulia disisi 4jjl.
kesimpulan “manusia tanpa ilmu bagaikan hidup tanpa nilai”
kita selaku umat islam tidak ada alasan untuk tidak mencari ilmu secara formal maupun informal.
NAMA : TITA NOVITA
JURUSAN : AKUNTANSI/FE UNIKU
SEMSTER : VI
KELAS : KARYAWAN
“katakanlah… bahwa segala ilmu hanya dari Allah.
Mnatab lah
1. ilmu fiqih
2. ilmu tauhid
3. ilmu tasawuf..
apakah definisi tersebut sudah benar?
1.ilmu kalam (pemikiran)
2.ilmu tasawuf(pensucian)
pada waktu zaman ilmu kalam di kembangkan islam tak terkalahkan dalam bidang apapun,sampai islam menguasai 2/3 dunia,tetapi pada waktu muncul nya ilmu tasawuf ,umat islam banyak mengutamakan pendekatan diri kepada Allah(Taswauf).ilmu tasawuf pun berkembang,ada nama nya tasawuf kontemporel yang mana menjadikan manusia menjadi Zuhud.yang mana mencari kekayaan.menciptakan teknologi dan apa yang berhubungan dengan kemajuan dalam kehidupan.tetapi apa yang didapat itu dijadikan proses pendekatan kepada Allah.orang yang Zuhud tidak terlalu cinta/terkesan terhadap keuangan,teknologi(DUNIA).lawan dari pada zuhud adalah hubud dunia.
saya ingin bertanya bagaimana islam memandang ilmu yg terkait dng ilmu bebas nilai dan ilmu tidk bebas nilai ?
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang dilihat oleh manusia seputar hubungan antara agama dengan ‘ilmu’ maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan dan versi sudut pandang manusia.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang lahir melalui saintisme yang mendeskripsikan definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai ‘segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai saintisme,faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupaun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu akan berbenturan dengan agama.
Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita analisis adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan dengan agama itu,bila itu adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi saintisme (yang membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera) maka itu adalah suatu yang pasti akan terjadi,sebab agama tidak membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera sebab dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus bisa menjangkau keseluruhan baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga dua alam itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai satu kesatuan system).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung).jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
Yang mesti diingat ‘sains’ (kini) pengertiannya adalah ilmu seputar dunia materi (yang bisa terbukti secara empirik) jadi sains bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera,sebab itu sungguh janggal bila sains menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam.
Sebab itu bila ilmu diibaratkan sebuah bangunan besar yang memiliki banyak ruang maka ‘sains’ (termasuk teknologi) didalamnya adalah salah satu kamarnya.inilah gambaran tentang ilmu yang tidak difahami kaum materialist,yang gambarannya tentang ‘ilmu’ hanya hidup diruang ‘sains’.ia lupa atau tidak tahu bahwa teramat banyak ruang lain yang untuk memasukinya memiliki metode yang berbeda dengan sains.
Jadi mesti diingat bahwa ‘sains’ pengertiannya kini harus difahami sebagai ‘ilmu seputar dunia materi’ (yang bisa terbukti secara empirik) agar dalam pandangan manusia pengertiannya tidak tumpang tindih dengan definisi pengertian ‘ilmu’ yang sebenarnya. jadi ‘sains’ bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera, (sebab itu sungguh janggal bila parameter sains digunakan sebagai alat untuk menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam).
Artinya bila dilihat dari kacamata sudut pandang Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah konsep saintisme / yang memparalelkan pengertian ‘ilmu’ dengan ‘sains’ seolah hanya sains = ilmu, dan ilmu = hanya sains,dimana selain ‘sains’ yang lain hanya dianggap ‘pengetahuan’ (sebagaimana telah tertera dalam buku buku teks filsafat ilmu).
Kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.
Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda itu padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan dan mengkristal kepada suatu kesatuan konsep-makna-pengertian).
Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.ironisnya tidak sedikit ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara agama dengan ilmu.
‘Sains murni’ seperti hukum fisika mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu biology dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pada dasarnya pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.
Saat ini dengan eksistnya ideology materialisme ilmiah di dunia sains nampak fitnah itu seperti dijaga ketat supaya terus ada hingga kini dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,seperti contoh : kengototan luar biasa dalam mempertahankan teori Darwin saat teori itu makin terbukti tidak memiliki validitas ilmiah-kemudian penafsiran teori relativitas lalu fisika kuantum ke arah yang sudah bukan sains lagi yaitu ke tafsir tafsir materialistik,dicurigai dibalik semua itu mereka sebenarnya tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu sudah pasti akan menghancurkan ‘kredibilitas ilmiah’ ideology atheistik materialistik yang bersembunyi dibalik wacana wacana filsafat-sains.
Pemikiran-pandangan-opini-pernyataan sudut pandang materialist itulah yang membuat filsafat-sains nampak selalu berbenturan langsung dengan agama,dan mereka (materialist) berusaha memonopoli tafsir tafsir seputar sains sehingga penafsir sains yang menafsirkan segala suatu seputar sains diluar cara pandang mereka akan langsung distigma kan sebagai pernyataan yang ‘apologistik’ (dibuat buat agar nampak ‘ilmiah’).
Kesimpulannya : adanya dua konsep ‘ilmu’ melahirkan adanya dua konsep kebenaran yang jauh berbeda : kebenaran versi sudut pandang manusia dan kebenaran versi sudut pandang Tuhan. (karena ilmu adalah konstruksi dari konsep kebenaran).dimana ’kebenaran’ versi sudut pandang manusia yang terkonsep dalam ‘saintisme’ adalah bentuk kebenaran yang wilayah cakupan nya terbatas pada segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman indera dan atau bisa dibuktikan secara empirik,berbeda jauh dengan konsep ‘kebenaran’ versi Tuhan yang wilayah cakupan nya meliputi serta merangkum keseluruhan realitas (yang abstrak dan yang konkrit).
Dengan mengenal konstruksi dari dua bentuk konsep kebenaran yang jauh berbeda akan mempermudah kita dalam mengurai problem agama dengan ilmu termasuk juga problem benturan yang paling mendasar antara kacamata sudut pandang ‘Barat’ dengan Islam.dan harus disadari kita harus memiliki kerangka dasar ilmiah yang konstruktif dalam melawan dominasi konsep – pengertian ‘ilmu’ versi barat.
http://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/